Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ancaman Media Kontemporer terhadap Etika Sosial Masyarakat

Iklan Landscape Smamda
Ancaman Media Kontemporer terhadap Etika Sosial Masyarakat
pwmu.co -

Media sosial sebagai bentuk baru media massa, memungkinkan generasi muda menjadi produsen sekaligus konsumen konten. Pada satu sisi mampu membuka ruang kreativitas, namun pada sisi lain justru menimbulkan risiko munculnya konten yang nir-etis. Fenomena “kejar-viral” tanpa mempertimbangkan nilai moral menunjukkan adanya degradasi nilai dalam ruang publik.

Contoh konkret dari menurunnya sensitivitas terhadap etika sosial terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hal yang asing lagi kita menyaksikan bagaimana adanya anak muda yang tidak lagi menghormati orang tua, mahasiswa yang mengganggu ketenangan lingkungan, atau kebiasaan membuang sampah sembarangan. Fenomena ini menunjukkan lemahnya internalisasi nilai dan kontrol sosial dalam masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah dominasi pesan-pesan media yang lebih mengedepankan kebebasan individu dan kepuasan pribadi di banding tanggung jawab sosial.

Teori hegemoni Antonio Gramsci memandang, media berfungsi sebagai alat dominasi budaya yang bersifat halus, nyaris tak terasa. Ketika nilai-nilai kelompok yang berkuasa disisipkan secara perlahan hingga akhirnya diterima sebagai kebenaran umum. Manakala tiada pemahaman literasi media yang memadai, generasi muda menjadi rentan terlepas dari akar budaya dan norma sosial. Alih-alih menjadi sarana edukatif, media justru berpotensi menjadi agen yang menggerus nilai-nilai luhur.

***

Bulan suci Ramadan baru saja berlalu. Bulan ini seharusnya dapat menjadi madrasah penting  untuk membentuk kepekaan nurani, memperkuat akhlak, dan melatih pengendalian diri. Nilai-nilai yang di asah selama Ramadan — seperti menjaga ucapan, pandangan, dan perilaku — harus dapat menjadi tameng dalam menghadapi arus pengaruh negatif media. Islam tidak menolak media sebagai alat, tetapi memberi peringatan tentang bahaya konten yang dapat merusak moral. Dalam konteks pasca-Ramadan, seorang Muslim semestinya memiliki kepekaan untuk memilah informasi dan menjaga diri dari konsumsi media yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam serta etika sosial.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Media massa memiliki potensi besar sebagai instrumen pendidikan bila digunakan secara tepat. Literasi media harus menjadi bagian penting dalam meningkatkan ketakwaan dan tanggung jawab sosial. Terutama dalam menghadapi derasnya arus globalisasi yang membawa berbagai nilai dan budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa kita. Peran keluarga, masyarakat, dan institusi pendidikan sangat penting dalam menanamkan kesadaran kepada generasi muda. Mereka harus mampu menjadikan media sebagai mitra dalam pembentukan karakter, bukan sebaliknya. (*)

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu