Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Andai Tak Ada Muhammadiyah, Mungkinkah Bangsa Ini Cerdas?

Iklan Landscape Smamda
Andai Tak Ada Muhammadiyah, Mungkinkah Bangsa Ini Cerdas?
Alfain Jalaluddin Ramadlan. (Dok. Pribadi/PWMU.CO)
Oleh : Alfain Jalaluddin Ramadlan (Aktivis Muhammadiyah, Mahasiswa Pascasarjana UM Surabaya, Guru MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan Lamongan, Ketua PC IMM Lamongan Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman, KM3 Pimpinan Pusat Muhammadiyah)
pwmu.co -

Pendidikan merupakan tiang utama bagi kemajuan sebuah bangsa. Tidak ada bangsa yang mampu berdiri tegak tanpa masyarakat yang terdidik, berilmu, dan berakhlak.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan inilah yang mendorong lahirnya berbagai gerakan pembaruan di Indonesia pada awal abad ke-20.

Salah satu gerakan yang paling berpengaruh dan berkelanjutan dalam memajukan pendidikan adalah Muhammadiyah, sebuah organisasi Islam modern yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 November 1912.

Sejak awal, Muhammadiyah menempatkan pendidikan sebagai pusat gerakan dakwah dan perubahan sosial. Melalui pendidikan, Muhammadiyah ingin menciptakan manusia beriman, berilmu, dan beramal, pribadi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak, berjiwa sosial, dan siap membangun bangsanya.

Awal Pendidikan Muhammadiyah

Kiprah pendidikan Muhammadiyah berawal bahkan sebelum organisasi ini resmi berdiri. Pada 1 Desember 1911, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) di Kauman, Yogyakarta.

Sekolah ini menjadi cikal bakal sistem pendidikan Muhammadiyah. Di sinilah gagasan besar Ahmad Dahlan diwujudkan: pendidikan Islam harus terbuka terhadap ilmu pengetahuan modern.

Ahmad Dahlan memasukkan pelajaran umum seperti matematika, ilmu bumi, dan bahasa ke dalam kurikulum sekolah, sebuah langkah yang pada masanya dianggap berani dan bahkan kontroversial.

Bagi Ahmad Dahlan, agama dan ilmu tidak boleh dipisahkan. Agama memberikan nilai moral dan arah hidup, sedangkan ilmu memberikan kemampuan untuk memahami, mengelola, dan memajukan kehidupan. Pendidikan, bagi beliau, adalah jalan untuk membebaskan umat dari kebodohan dan kemiskinan.

Ahmad Dahlan bukan hanya seorang pendidik, tetapi juga reformis sosial. Ia sering mengajarkan ayat-ayat al-Qur’an dengan pendekatan yang hidup dan kontekstual.

Konsep Pendidikan Ahmad Dahlan

Salah satu kisah yang terkenal adalah ketika beliau mengajarkan surat al-Ma’un kepada murid-muridnya. Ia tidak sekadar meminta mereka menghafalkan ayat, tetapi mempraktikkan maknanya dengan turun ke jalan menolong anak yatim dan fakir miskin.

Dari sinilah lahir konsep pendidikan berbasis amal dan kepedulian sosial yang menjadi ciri khas Muhammadiyah hingga kini. Sekolah bukan sekadar tempat menimbun pengetahuan, melainkan wadah untuk menumbuhkan kepekaan kemanusiaan dan membangun masyarakat yang berkeadilan.

Seiring berjalannya waktu, sistem pendidikan Muhammadiyah berkembang pesat dan menyebar ke berbagai penjuru Nusantara.

Dari Yogyakarta, gerakan ini merambat ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, hingga wilayah timur Indonesia. Sekolah-sekolah Muhammadiyah tumbuh di kota dan desa, di tengah masyarakat miskin maupun menengah.

Menurut data resmi Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Nonformal Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2024, Muhammadiyah kini mengelola lebih dari 5.300 sekolah dan madrasah di seluruh Indonesia, mulai dari tingkat dasar hingga menengah.

Jumlah muridnya mencapai lebih dari satu juta orang, menjadikan Muhammadiyah sebagai penyelenggara pendidikan swasta terbesar di Indonesia.

Jumlah itu terdiri dari 2.453 sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, 1.599 sekolah menengah pertama dan madrasah tsanawiyah, serta 1.294 sekolah menengah atas, madrasah aliyah, dan sekolah kejuruan.

Tidak berhenti di pendidikan dasar dan menengah, Muhammadiyah juga telah membangun jejaring perguruan tinggi yang luas.

Saat ini terdapat sekitar 165 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, antara lain Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) dan banyak lagi.

Perguruan tinggi ini bukan hanya menjadi tempat belajar formal, tetapi juga pusat riset, pengabdian masyarakat, serta pembinaan generasi muda yang siap menjadi pemimpin bangsa di masa depan.

Lebih dari setengah juta mahasiswa aktif belajar di kampus-kampus Muhammadiyah, menjadikannya kekuatan pendidikan tinggi Islam terbesar di Asia Tenggara.

Perjuangan Tokoh Muhammadiyah dalam Pendidikan

Di balik kemajuan tersebut, tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para tokoh-tokoh besar Muhammadiyah yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan.

Sosok pertama tentu adalah K.H. Ahmad Dahlan sendiri. Beliau dikenal sebagai ulama yang berpikiran maju dan berani melawan arus konservatisme zamannya.

Ahmad Dahlan menolak pandangan yang memisahkan agama dari kemajuan ilmu dan teknologi. Baginya, Islam justru mendorong umatnya untuk berpikir kritis, bekerja keras, dan berbuat baik bagi sesama. Pandangan ini kemudian menjadi dasar filosofi pendidikan Muhammadiyah yang menekankan keseimbangan antara ilmu, iman, dan amal.

Tokoh besar lainnya adalah Buya Hamka, atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia dikenal sebagai ulama, sastrawan, dan intelektual besar yang juga tumbuh dari tradisi pendidikan Muhammadiyah.

Buya Hamka, meski tidak menempuh pendidikan formal yang panjang, merupakan pembelajar otodidak yang luar biasa. Ia menulis ratusan karya, termasuk tafsir monumental Al-Azhar yang hingga kini menjadi rujukan penting di dunia Islam.

Dalam pandangannya, pendidikan bukan hanya alat untuk mencapai gelar atau status sosial, tetapi jalan untuk membangun moral dan peradaban.

Hamka sering berkata, “Ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh.” Baginya, pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang mampu menyinergikan akal dan hati, pengetahuan dan iman.

Selain tokoh nasional, banyak tokoh Muhammadiyah di daerah yang berjuang dalam sunyi untuk mengembangkan pendidikan.

Di Kalimantan Selatan, misalnya, nama-nama seperti K.H. Jaferi, H. Usman Aminthe, dan K.H. Abdul Mu’iz menjadi pelopor berdirinya sekolah Muhammadiyah di wilayah yang kala itu masih minim fasilitas pendidikan.

Di Jawa Timur, K.H. Mas Mansur, yang kemudian menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah pada 1937, mendorong pendirian sekolah-sekolah modern di Surabaya dan Malang serta menanamkan semangat nasionalisme di kalangan pelajar. Dan banyak lagi tokoh-tokoh Muhammadiyah yang lainnya.

Para tokoh daerah inilah yang menjaga api semangat pendidikan Muhammadiyah tetap menyala hingga pelosok negeri.

Kini, Muhammadiyah bukan hanya dikenal karena jumlah sekolah dan universitasnya yang banyak, tetapi juga karena peran sosial dan kualitas pendidikan yang terus berkembang.

Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Non Formal (Dikdasmen dan PNF) terus berupaya meningkatkan mutu lembaga pendidikan melalui program “Sekolah Muhammadiyah Unggul Berkemajuan”.

Program ini menekankan penguatan kompetensi guru, inovasi pembelajaran berbasis teknologi, serta penerapan nilai-nilai karakter dalam kurikulum.

Dalam dunia pendidikan tinggi, Muhammadiyah juga aktif mengembangkan riset, inovasi sosial, dan kerja sama internasional, yang menjadikannya aktor penting dalam pembangunan nasional.

Namun, perjalanan panjang pendidikan Muhammadiyah tentu tidak tanpa tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah pemerataan mutu pendidikan di seluruh daerah. Dari total 5.300 sekolah, sekitar 38 persen masih termasuk kategori kecil dengan jumlah siswa kurang dari 100 orang, sedangkan hanya 20 persen yang tergolong besar dengan siswa lebih dari 400 orang.

Masalah kesejahteraan guru, ketersediaan sarana, dan adaptasi terhadap era digital juga menjadi tantangan tersendiri.

Meski demikian, semangat berkemajuan yang menjadi jiwa Muhammadiyah membuat lembaga-lembaga pendidikan ini terus berbenah.

Banyak sekolah Muhammadiyah di daerah yang kini telah berubah menjadi sekolah unggulan, berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Hikmah Sistem Pendidikan Muhammadiyah

Dari perjalanan panjang lebih dari satu abad, banyak nilai dan hikmah yang bisa dipetik dari sistem pendidikan Muhammadiyah.

Pertama, bahwa pendidikan adalah jalan utama menuju perubahan sosial. Melalui sekolah, madrasah, dan universitas, Muhammadiyah berhasil mencetak manusia yang bukan hanya pandai, tetapi juga berjiwa sosial dan peduli terhadap sesama.

Kedua, pendidikan Muhammadiyah menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Semua ilmu dipandang penting sebagai sarana memahami kehidupan dan menebar kemaslahatan.

Ketiga, pendidikan Muhammadiyah selalu adaptif terhadap perkembangan zaman. Sejak awal, Muhammadiyah telah memperkenalkan metode klasikal, penilaian sistematis, dan kurikulum modern, dan kini terus berinovasi di era digital.

Keempat, pendidikan Muhammadiyah selalu berpihak kepada kaum lemah. Sekolah-sekolah Muhammadiyah hadir di desa terpencil, memberikan beasiswa bagi siswa kurang mampu, dan membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi semua kalangan.

Terakhir, keteladanan para tokoh Muhammadiyah menjadi pelajaran penting bahwa pendidik sejati bukan hanya mengajar, tetapi juga mencontohkan nilai-nilai kejujuran, keikhlasan, dan pengabdian.

Lebih dari seratus tahun sejak didirikan, pendidikan Muhammadiyah tetap menjadi pilar penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jejaknya yang luas, dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, dari kota hingga pelosok desa, adalah bukti nyata komitmen untuk membangun bangsa melalui pendidikan.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, Muhammadiyah terus beradaptasi, memperkuat kualitas guru, memperluas akses, dan meneguhkan nilai-nilai Islam berkemajuan sebagai fondasi moral pendidikan.

Seperti yang diajarkan K.H. Ahmad Dahlan, pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak manusia pintar, tetapi membentuk manusia yang berguna bagi orang lain.

Pendidikan Muhammadiyah telah membuktikan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemegahan bangunannya atau kekayaan alamnya, tetapi dari seberapa banyak manusia di dalamnya yang tercerahkan akalnya, bersih hatinya, dan siap berjuang untuk kebaikan bersama.

Inilah warisan besar yang ditinggalkan oleh Ahmad Dahlan dan para penerusnya: pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan manusia.

Jadi, andaikan Bangsa ini tidak ada Muhammadiyah, apakah bisa cerdas?

Semoga bermanfaat, Aamiin. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu