Pelatihan Kader Muda Taruna Melati (PKMTM) II yang digelar oleh Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Trenggalek resmi dibuka dengan meriah pada Jumat (5/9/2025) siang, pukul 13.30 WIB di aula lantai dua SMK Muhammadiyah Watulimo, Trenggalek.
Kegiatan ini diikuti oleh 31 peserta dari berbagai cabang IPM se-Kabupaten Trenggalek serta sembilan peserta dari luar daerah. Sebelum acara dimulai, suasana halaman sekolah tampak dipenuhi pelajar berseragam jas kuning, ciri khas anggota IPM.
Pembukaan perkaderan yang kental dengan nuansa budaya Jawa ini diawali dengan pembacaan ayat suci al-Quran, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan Mars IPM.
Acara kemudian diteruskan dengan sambutan-sambutan, antara lain dari ketua panitia PKMTM II, ketua PD IPM Trenggalek, perwakilan PW IPM Jawa Timur, serta perwakilan PDM Trenggalek.
Ketua panitia, Amin Tyas Hidayah, menyampaikan bahwa peserta PKMTM II terdiri dari empat puluh peserta, sembilan di antaranya dari luar kota, yakni Batu, Kediri, dan Tulungagung.
Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah regenerasi pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah di masa mendatang.
Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Ketua PD IPM Trenggalek, Assar Romadhon Miftakhur Rohman. Remaja kelahiran Tugu, Trenggalek, ini mengungkapkan bahwa tema kegiatan kali ini mengambil budaya Jawa.
Setelah sambutan Ketua PD IPM, acara diteruskan dengan tari Solah yang ditampilkan tiga siswi SMK Muhammadiyah Watulimo serta aksi seni pencak silat Tapak Suci oleh anak-anak MBS Imam Suhodo Watulimo.
Ketua PW IPM yang berhalangan hadir meminta Farhan Alif, alumnus UMM jurusan Hukum Islam dan anggota PW IPM bidang Ilmu Pengetahuan, untuk menghadiri acara ini. Ia menekankan agar peserta terinspirasi dengan perjuangan yang diberikan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.
“Ada tiga tokoh pembaharu Islam di dunia, yaitu Muhammad Iqbal, Muhammad Abduh, dan KH Ahmad Dahlan. Menganalisis ketokohan mereka maka terlihat perbedaan di antara ketiganya,” jelasnya.
KH Ahmad Dahlan, lanjutnya, belajar di luar negeri sampai ke Timur Tengah, sedangkan Muhammad Iqbal yang kelahiran India dan Muhammad Abduh yang kelahiran Mesir pernah ke negeri Barat, yakni Eropa. Meski Ahmad Dahlan hanya sampai di Mekkah, tetapi beliau bisa beramal dengan karya nyata, yakni Muhammadiyah.
Berikutnya, sambutan terakhir disampaikan oleh Ketua PCM Watulimo, Warjito. Ia tidak bisa menutupi kebanggaannya melihat penerus-penerus Muhammadiyah terus tumbuh dan berkembang.
“Kami bangga melihat kalian siap menjadi penerus perjuangan kami. Ketakutan akan hilangnya Muhammadiyah di Watulimo telah sirna. Saya ucapkan terima kasih, mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua,” ungkapnya.
Ia menyampaikan bahwa Muhammadiyah adalah pergerakan yang akan terus bergerak. Banyaknya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) menjadi bukti bahwa Muhammadiyah hadir untuk menegakkan agama Allah yakni Islam, dengan niat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Kegiatan diteruskan dengan penyematan tanda peserta oleh Warjito kepada perwakilan dua peserta dan ditutup dengan doa. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments