Kabar membanggakan datang dari siswa inklusif Sunday School SMP Muhammadiyah 2 Surabaya, Deandra Falah Yusuf. Ia berhasil lolos hingga tahap presentasi dalam International Kids Conference 2025 yang diselenggarakan oleh Southeast Asian Ministers of Education Organization – regional center for Special Education Needs (SEAMEO SEN), pusat unggulan pendidikan kebutuhan khusus di bawah organisasi menteri pendidikan se-Asia Tenggara yang berkedudukan di Malaysia.
Konferensi internasional ini diikuti ratusan peserta dari lebih 11 negara dan digelar secara virtual. Seluruh kompetisi berfokus pada inovasi berbasis STEAM Project (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics).
Deandra yang kini duduk di kelas VII membawa karya inovatif berjudul “Angklung Matik”, robot angklung yang dapat memainkan nada secara otomatis. Karya yang memadukan teknologi dengan alat musik tradisional Indonesia ini langsung mencuri perhatian para reviewer internasional.
Dalam surat resmi panitia International Kids Conference, para reviewer menuliskan, “Ide Deandra sungguh luar biasa. Nama “Angklung Matik’”sudah sangat menarik, dan kisah di balik inovasi ini benar-benar memukau. Menggabungkan teknologi dengan musik tradisional adalah langkah penting di tengah perkembangan budaya saat ini.”
Mereka juga menambahkan bahwa tampilan visual, video uji coba, hingga alur presentasi dalam visual paper Deandra dinilai sangat siap untuk dibawa ke panggung internasional.
Sebelum sampai pada tahap presentasi, Deandra harus melalui proses panjang, mulai seleksi visual paper, penilaian reviewer internasional, kelengkapan dokumen, hingga pengiriman video presentasi.
Pada Conference Day, (22/11/2025), Deandra tampil sebagai panelis memaparkan konsep Angklung Matik di hadapan panel ahli dan peserta dari berbagai negara. Ia juga menerima apresiasi The Impressive Visual Paper Award, yang tercantum dalam sertifikat resmi International Kids Conference 2025.
Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi Deandra, keluarga, dan sekolah. Angklung Matik menjadi bukti bahwa teknologi dapat berpadu harmonis dengan budaya lokal. Lebih dari itu, siswa disabilitas fisik seperti Deandra mampu menunjukkan bahwa anak Indonesia dapat bersaing dan bersuara di panggung dunia.






0 Tanggapan
Empty Comments