Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Antara Paket Kebahagiaan dan Sang Pemilik Hakiki

Iklan Landscape Smamda
Antara Paket Kebahagiaan dan Sang Pemilik Hakiki
Oleh : Risti Nurul Azizah Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Ponorogo
pwmu.co -

Di era yang didominasi teknologi digital, pencarian kebahagiaan sejati seolah menjadi labirin yang membingungkan.

Kita terjebak dalam standar kebahagiaan yang semu: setiap momen healing wajib dipamerkan, dan validasi diri diukur melalui angka like, subscribe, serta komentar positif.

Tidakkah rutinitas mengejar pengakuan itu terasa sangat melelahkan?

Fenomena ini kian lekat pada Gen Z. Ketergantungan pada gawai membuat banyak anak muda —bahkan termasuk anak kecil— terjebak dalam faking happiness—tampak ceria di layar, namun rapuh di dunia nyata.

Mereka merasa kesepian di tengah keramaian, bahkan saat sedang bersama keluarga atau sahabat.

Kita perlu menyadari bahwa validasi digital —berupa like comment — hanya memberikan kepuasan instan selama beberapa detik.

Lantas, layakkah hal singkat itu disebut kebahagiaan?

Seringkali kita mendahulukan konten daripada esensi kebahagiaan itu sendiri.

Banyak yang keliru menganggap healing sebagai satu-satunya jalan keluar, hingga lupa bahwa ada perbedaan mendalam antara tersenyum karena kesenangan duniawi dengan tersenyum karena ketenangan mengingat Allah.

Satu hal yang perlu kita renungkan: manusia hanyalah “kurir” yang mengantarkan paket dari Allah.

Paket itu bisa berisi tawa, canda, atau penghiburan yang dibawa oleh idola melalui konten mereka, atau oleh sahabat dan keluarga.

Namun, namanya juga titipan, sang kurir pasti akan pergi setelah tugasnya selesai.

Kebahagiaan yang mereka bawa bersifat sementara.

Itulah mengapa, terkadang saat kita berusaha membahagiakan orang lain, hasilnya justru sebaliknya—kita malah merasa tertekan karena menyandarkan kebahagiaan pada sosok yang sama-sama fana.

Memberikan apresiasi kepada mereka yang menghibur kita adalah hal baik, namun jangan sampai kita mendewakan sang kurir dan melupakan Sang Pengirim.

Allah telah menegaskan dalam Surat Ar-Ra’d ayat 28: “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Jika dianalogikan ke dalam bahasa Gen Z, Allah seolah menyapa: “Wahai hamba-Ku, jika kamu ingin tenang, ingatlah Aku. Saat kamu mengingat-Ku, Aku akan menghadirkan kebahagiaan di hatimu yang terpancar lewat senyum yang teduh.

Kebahagiaan sejati tidak melulu soal tertawa terbahak-bahak, melainkan ketenangan yang hadir bahkan di saat tersulit sekalipun.

Jika bahagia adalah paket yang datang dan pergi, maka ketenangan adalah produk yang bisa kita checkout setiap saat melalui zikir.

Sejauh mana pun kamu melakukan healing atau berburu kuliner, semua akan terasa hampa jika hati jauh dari Tuhan.

Rasa obsesi untuk mengejar sang “kurir” hanya akan menyisakan luka saat mereka pergi.

Namun, jika kita memahami bahwa kebahagiaan hanyalah titipan, kita akan belajar mencintai tanpa harus merasa memiliki secara berlebihan. Allah tidak akan pernah meninggalkanmu.

Seburuk apa pun masa lalumu, saat kamu memanggil nama-Nya, Dia selalu siap mendengar.

Mengingat Allah bukan sekadar mengucap zikir di lisan.

Saat mengucap “Allahush-shamad”, resapilah dalam hati bahwa “Allah adalah tempatku bergantung”.

Rasakan ketenangan itu meresap ke dalam jiwa.

Wahai generasi muda, jika saat ini kamu merasa cemas akan masa depan, berhentilah sejenak.

Alih-alih mencari pelarian instan di TikTok, cobalah berdialog dengan Tuhanmu.

Fokuslah mengejar ketenangan, bukan sekadar kesenangan singkat.

Dunia hanya menawarkan kesenangan sementara, namun mengingat Allah menawarkan kedamaian yang abadi.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu