Di tengah hamparan lumpur sisa banjir bandang yang belum sepenuhnya mengering, harapan perlahan tumbuh di Desa Sunting, Kecamatan Bandar Pusaka.
Pada Sabtu (17/12/026), relawan Muhammadiyah Jatim mendirikan tenda panggung pengungsian agar warga terdampak memiliki tempat berteduh yang aman, kering, dan sehat.
Sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, di Dusun Anggrek, para relawan bekerja tanpa henti. Keterbatasan personel, lantaran sebagian relawan lain dikerahkan ke titik kebencanaan berbeda, tak menyurutkan semangat.
Mereka bahu-membahu, menyelesaikan satu demi satu tahap pengerjaan hingga tenda panggung berdiri kokoh.
Keputusan membangun tenda dengan model panggung kayu bukan tanpa pertimbangan. Kondisi geografis Aceh Tamiang yang rawan luapan sungai saat hujan berintensitas tinggi menuntut solusi mitigasi yang lebih aman.
Meski memerlukan waktu lebih lama pada tahap pondasi, pendekatan ini dinilai krusial untuk meminimalkan risiko bencana susulan.
Secara ilmiah, berbagai riset manajemen bencana merekomendasikan elevated shelters atau hunian darurat yang ditinggikan dari permukaan tanah sebagai strategi preventif yang efektif.
Dari sudut pandang kesehatan lingkungan, lantai panggung memisahkan penyintas dari kelembapan tanah dan aliran air permukaan (run-off) yang berpotensi memicu penyakit, seperti infeksi kulit (dermatomikosis) dan leptospirosis.
Selain itu, sirkulasi udara di bawah lantai membantu menjaga stabilitas suhu di dalam tenda. Aspek ini menjadi sangat penting mengingat di Desa Sunting terdapat 51 jiwa lansia dan 38 balita yang daya tahan tubuhnya lebih rentan terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Dengan kata lain, tenda panggung bukan sekadar tempat berteduh, melainkan langkah preventif untuk menjaga kesehatan komunitas penyintas.
Keberhasilan pendirian tenda panggung ini merupakan buah dari sinergi yang solid antara Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jatim dan Lazismu Jatim.
Kolaborasi ini memastikan keahlian teknis kebencanaan berpadu dengan ketepatan penyaluran logistik dan sumber daya kemanusiaan.

Relawan yang terlibat langsung dalam pemindahan material, pengerjaan, hingga pendirian tenda panggung antara lain, M. Halim Rojab E.K (Lazismu Jawa Timur), Fathurrahim (Lazismu Surabaya), Yusuf Dwipo Wijoyo (Lazismu Surabaya), Muhammad Agus Aziz (Kokam Jatim), Arkom Mujahid Fillah (Kokam Jatim), Arief Wibowo Joko Priyanto (MDMC Kota Batu), Nanda Frendy Happy (MDMC Tulungagung), dan Khusnul Abidin (MDMC Jatim).
Kerja kolaboratif lintas unsur ini menjadi contoh bagaimana respons kebencanaan yang terkoordinasi mampu menghadirkan solusi tepat guna di lapangan.
Bagi warga Desa Sunting, tenda panggung tersebut adalah jawaban atas kegelisahan berhari-hari. Sri Wahyuni, salah seorang penyintas, tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat menyaksikan tenda rampung dibangun.
“Nama saya Sri Wahyuni, warga Desa Sunting. Saya mengucapkan ribuan terima kasih kepada relawan Muhammadiyah Jawa Timur yang sudah membantu kami mendirikan tenda untuk tempat kami tinggal. Semoga Allah membalas kebaikan bapak-bapak sekalian dengan kemudahan segala urusan,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Ungkapan sederhana itu menjadi penguat bagi para relawan—bahwa kerja keras mereka benar-benar bermakna bagi kehidupan orang lain.
Berdirinya tenda panggung bukanlah akhir dari misi kemanusiaan. Relawan Muhammadiyah Jawa Timur kini melanjutkan fokus pada pemulihan sektor kesehatan dan pendidikan. Layanan medis bergerak telah menjangkau 92 jiwa, termasuk penanganan intensif bagi penyintas stroke.
Ke depan, tim memprioritaskan pengadaan 200 paket perlengkapan sekolah (school kit) dan meja lipat agar anak-anak di Kecamatan Bandar Pusaka dapat segera kembali belajar. Upaya ini diyakini penting untuk memulihkan rutinitas dan harapan masa depan generasi muda pascabencana.
Di tengah keterbatasan dan tantangan lapangan, tenda panggung yang berdiri di Desa Sunting menjadi simbol harapan—bahwa dengan ikhtiar, ilmu, dan kolaborasi, kemanusiaan selalu menemukan jalannya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments