Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Apakah AI Bisa Menggantikan Psikolog?

Iklan Landscape Smamda
Apakah AI Bisa Menggantikan Psikolog?
Oleh : Ahmad Fauzul Adhim Sarjana Psikologi Univ. Aisyiyah Yogyakarta, Kader Muhammadiyah Paciran Lamongan Jawa Timur

Remaja berusia 16 tahun berinisial AR, di California, Amerika Serikat memilih mengakhiri hidupnya atau bunuh diri. Diduga, aksi tragis itu terjadi setelah remaja tersebut berkonsultasi dengan Artificial Intelligence (AI) terkait rencana bunuh dirinya tersebut.

Nahasnya jawaban yang diberikan oleh AI justru afirmatif—menyetujui pemikiran—terhadap rencana buruk AR.

Kejadian tersebut memicu perbincangan dari berbagai pihak. Informasi teraktual, keluarga AR pun menggugat perusahaan AI yang dianggap terlibat dalam kasus ini ke pengadilan.

Pertanyaannya, “apakah peristiwa tragis ini menunjukkan bahwa AI bisa menjadi solusi atas masalah yang kita hadapi? Dan benarkah AI mampu menggantikan peran tenaga profesional di bidang kesehatan mental?”

AI Bisa Menggantikan Psikolog?

Hasil penelitian berjudul “Expressing stigma and inappropriate responses prevents LLMs from safely replacing mental health providers”, menyimpulkan bahwa saat ini AI belum bisa menjadi pengganti terapis, dan mungkin tidak akan pernah bisa menggantikan peran terapis secara penuh di masa depan.

Alasannya, penelitian tersebut menemukan banyak respon keliru yang diberikan oleh AI dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan seputar keluhan kesehatan mental.

Respon yang tidak tepat atau cenderung selalu afirmatif justru akan memperburuk keluhan mental yang dialami seseorang.

Selain itu, AI memang tidak dirancang untuk memberikan perlawanan. Itulah sebabnya mengapa jawaban-jawaban dari AI cenderung afirmatif dan tidak mendebat.

Sedangkan dalam beberapa kasus masalah mental, pemberian afirmasi secara berlebihan justru memberikan efek yang kurang baik. Terlebih lagi jika pemikiran yang ditanyakan bersifat negatif.

Dapat menjadi simpulan bahwa AI tidak bisa menjadi solusi akhir dari permasalahan mental yang sedang Anda hadapi.

Kehadiran dan peran psikolog tentu masih sangat dibutuhkan dan dipertimbangkan.

Sebatas apa AI untuk keperluan kesehatan mental?

Hal yang perlu menjadi perhatian terkait kegiatan konsultasi dengan psikolog adalah konsultasi, bukan sekadar berbincang atau curhat semata.

Kegiatan konsultasi harus melibatkan empati, kepercayaan, dan keahlian profesional.

Oleh sebab itu melakukan konsultasi lebih baik langsung kepada tenaga ahli , yaitu psikolog — bukan dengan AI.

AI memang bisa membantu dalam beberapa hal, seperti: menemukan penyedia layanan konsultasi, meringkas rekaman konsultasi agar lebih mudah memahami, dan mempelajari ilmu psikologi atau perkembangan ilmu pengetahuan seputar kesehatan mental.

Keberadaan teknologi pada dasarnya untuk memudahkan kita, bukan menjerumuskan pada hal yang tidak benar.

Karena itu, teknologi itu bersifat netral, baik dan buruk dari hasilnya tergantung penggunanya dalam mengoperasikan teknologi tersebut.

AI sebagai alat belajar, bukan sebagai alat self-diagnose

Ilmu psikologi tidak eksklusif dalam pengertian hanya mahasiswa psikologi saja yang boleh mempelajarinya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Bagi saya, mempelajari psikologi penting penting untuk siapa saja, terlebih di era yang berjalan serba cepat seperti saat ini.

Pesatnya lalu-lalang informasi seperti sekarang, jika tidak diiringi dengan kesadaran diri, maka berpotensi terjadinya krisis identitas serta permasalahan psikologis lainnya.

Dengan bantuan AI, kita bisa mempelajari ilmu psikologi dengan lebih mudah. Hanya dengan menuliskan pertanyaan seputar ilmu psikologi, maka jawaban akan segera muncul.

Selain itu, kita juga bisa melihat sumber rujukan AI dalam memberi jawaban. Kita tetap bisa melakukan cross check dari jawaban dari AI.

Namun ada yang perlu menjadi perhatian sebelum menggunakan AI sebagai alat bantu belajar. Karena terkadang kita memiliki kecenderungan untuk melakukan self-diagnose.

Self-diagnose adalah tindakan menyelidiki penyakit atau gangguan yang kita alami sendiri tanpa bantuan tenaga ahli. Hal ini bisa sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal, jika kita salah melakukan diagnosis.

Karena itu, hindari untuk mencari tahu seputar penyakit dan gangguan mental dengan bertumpu pada AI.

Misalnya tentang gejala atau tanda gangguan mental tertentu, hal tersebut rawan menjadikan kita melakukan self-diagnose.

Pelajari seputar teori psikologinya saja, sedangkan terkait masalah kesehatan mental harus kita serahkan pada ahlinya.

AI bukanlah makhluk yang bisa kita jadikan rujukan dari setiap permasalahan yang kita alami. AI hanya alat bantu yang bisa kita gunakan sebagaimana halnya teknologi yang lain.

Teknologi tidak menjamin secara mutlak kebenaran atau selalu benar. Kadangkala jawaban hasil kerja teknologi perlu kita cek ulang untuk memastikan kebenarannya.

Oleh karena itu, kita perlu terus belajar dan memperkaya wawasan melalui berbagai literatur yang memiliki kredibilitas.

Terutama dalam bidang psikologi, kehati-hatian dalam memilih sumber bacaan menjadi sangat penting.

Kesalahan dalam memahami ilmu ini bukan hanya memengaruhi pengetahuan kita, tetapi juga dapat berdampak langsung pada kehidupan pribadi.

Sebab, mempelajari psikologi sejatinya adalah proses memahami sekaligus menyelami diri kita sendiri.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡