
PWMU.CO – Dalam semangat Kartini yang tak lekang zaman, SMA Muhammadiyah 1 Gresik menggelar apel khusus untuk menggugah kembali pemikiran dan perjuangan perempuan di era modern, Senin (21/4/2025).
Turut hadir Nur Hidajati Wakil Ketua Koordinator Bidang Majelis Kesejahteraan Sosial dan Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Gresik sebagai pembina apel.
Ia menyampaikan beberapa contoh pahlawan nasional yang dapat diteladani, baik dalam perbuatan maupun pemikirannya. Di antaranya adalah Kartini, Siti Walidah, dan Cut Malahayati. Secara khusus, ia menyoroti pemikiran dan perjuangan Kartini.
Pemerintah menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional dengan tiga kriteria yang perlu kita renungkan dan teladani, khususnya oleh kaum perempuan:
Kartini sebagai Lambang Perempuan Berkemajuan dan Pemberani
Kartini adalah simbol perempuan yang berkemajuan, dengan pemikiran yang bersifat visioner dan universal. Pemikiran beliau sangat jarang dimiliki oleh seorang perempuan seusianya.
Lahir dari keluarga bangsawan, beliau berpikir melampaui status kebangsawanan dan berfokus pada bagaimana perempuan memiliki peran dalam kepentingan kebangsaan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Pemikirannya bersifat universal, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain dalam jangka panjang dan untuk masyarakat yang lebih luas.
Kartini adalah sosok pemberani, berani berbicara, dan berani berpikir melampaui batasan-batasan pemikiran masyarakat pada masa itu. Pemikirannya menjadi pertimbangan dalam pengambilan kebijakan tentang perempuan dan hak-haknya.
Kartini sebagai Sosok Perempuan Literat
Kartini adalah sosok perempuan yang cerdas dalam literasi. Kemampuan beliau dalam menulis dan mengolah bahasa melalui pena menjadikan karyanya bisa dibaca dan diapresiasi oleh umat manusia hingga saat ini. Selain itu, beliau memiliki daya kritis yang tinggi, yang tercermin dalam surat-surat yang ditulisnya.
Salah satu contoh konkret adalah bagaimana beliau memahami makna al-Qur’an saat itu, meskipun dibatasi oleh kebijakan yang melarang orang awam untuk tidak hanya membaca, tetapi juga menerjemahkan atau mengkaji makna al-Qur’an.

Dalam penutupan amanatnya, ia menyampaikan pesan penting kepada siswa SMA Muhammadiyah 1 Gresik terkait darurat kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia.
“Untuk itu, saya berpesan jagalah diri kalian dan berdayakan diri kalian seperti Ibu Kartini dan para pahlawan nasional lainnya,” ujar beliau.
Dalam agenda tersebut, melalui Wakil Kepala Bidang Kurikulum, Efa Kustiana, juga disampaikan dua kompetisi yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kartini.
Kompetisi pertama yaitu menulis surat dengan tema Untuk Kartini dalam Hidupku dan Kompetisi kedua pidato bertema Perempuan dan Pendidikan, serta Perjuangan: Menjadi Kartini di Era Modern.
Melalui peringatan Hari Kartini ini, kita diingatkan akan pentingnya peran serta perempuan dalam membangun bangsa.
Nasihat Kartini yang visioner dan universal sangat bermanfaat, khususnya bagi perempuan Indonesia karena mendorong kita untuk terus belajar dan berkembang dalam berbagai bidang.
Dengan berpartisipasi dalam berbagai acara dan kegiatan, kita dapat memperbaiki diri dan terus berupaya meningkatkan pengetahuan serta pemahaman. Sekaligus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
Dengan kearifan yang terkandung dalam petikan ini, kita seharusnya dapat lebih memahami dan menerapkan prinsip-prinsip perjuangan Kartini di zaman ini.
Penulis Rudi Ihwono Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments