Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Asal-Muasal Wacana Sidharta Gautama Disebut sebagai Nabi, bahkan Nabi Dzulkifli

Iklan Landscape Smamda
Asal-Muasal Wacana Sidharta Gautama Disebut sebagai Nabi, bahkan Nabi Dzulkifli
Ilustrasi: Freepik
pwmu.co -

Nabi Dzulkifli dan Sidharta Gautama adalah orang yang sama? Pertanyaan itu mengemuka ketika Pengasuh Pondok Pesantren Az-Zaytun, Panji Gumilang, secara terbuka menyatakan Nabi Dzulkifli adalah Sidharta Gautama. Bahkan, menyebutnya pernah hidup di Indonesia.

Kontan pernyataan itu memantik perdebatan publik. Maklum saja, wacana tentang kenabian Sidharta Gautama ini memang tidak familiar di masyarakat Muslim Indonesia. Mayoritas meyakini Nabi Dzulkifli adalah Nabi dan rasul yang diutus kepada Bani Israel. Yang hidup di Kawasan Timur Tengah. Bukan di India, apalagi pernah hidup di Indonesia.

Padahal pembicaraan tentang “kemungkinan” Sidharta Gautama adalah seorang Nabi, bahkan orang yang sama dengan Nabi Dzulkifli, sebenarnya berserak. Bahkan dalam berbagai buku tafsir al-Quran. Di Indonesia, setidaknya ada dua ulama besar yang membicarakan tentang “kemungkinan” kenabian Gautama ini. Yaitu Prof M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah, dan Prof Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam Tafsir Al-Azhar.

Quraish Shihab menyebut nama Sidharta Gautama ini saat menafsirkan surat At-Tiin, meskipun dengan nada yang sangat hati-hati. “Bahkan al-Qasimi, dalam tafsirnya Mahaasin al-Ta’wiil, mengemukakan bahwa at-Tiin adalah nama pohon tempat pendiri agama Budha mendapat bimbingan Ilahi,” tulis Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah Volume 15 halaman 374.

“Budha, menurut al-Qasimi, adalah salah seorang Nabi –walaupun  beliau tidak termasuk dalam kelompok duapuluh lima nabi yang nama-namanya secara jelas dan pasti dalam al-Qur’an, sehingga menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengakui kenabian mereka, sambil meyakini bahwa masih banyak lagi nabi-nabi yang tidak disebut dalam al-Qur’an,” lanjut Quraish Shihab.

Sama dengan Quraish Shihab, Buya Hamka juga memunculkan nama Gautama ini dalam tafsirnya, Tafsir al-Azhar. Setidaknya ada 3 bagian Buya Hamka menulis Sidaharta Gautama adalah Nabi, jilid 17, 23, dan 30. Bahkan dalam tiga bagian itu, HAMKA dengan menyadur pandapat orang lain, menulis Gautama adalah Nabi Dzulkifli.

“Pernah Syaikh Ahmad Soorkati al-Anshari menyatakan pendapat bahwa Zulkifli ialah Budha! Kifli dari Kapila Wastu negeri kelahiran Budha,” tulis Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Juzu’ XVII halaman 101 saat menafsirkan Surat al-Anbiyaa’ ayat 85.

“…. Bahwa ada orang yang berpendapat ada kemungkinan bahwa Dzul-Kifli itu ialah Budha Gautama dari negeri Kapilawastu. Perkiraan ini pernah dinyatakan oleh almarhum Syaikh Ahmad Soorkati as-Sudaani al-Anshaari, sebagaimana yang diterangkan oleh muridnya al-‘Alim al-Faadhil Umar Hubaish Surabaya,” tulis Buya Hamka saat menafsirkan Surat Shaad ayat 48, di Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXIII halaman 244.

Penjelasan Hamka tentang Sidharta Gautama agak lebih panjang saat masuk tafsir surat At-Tiin. Setelah menguraikan beberapa tafsir yang dominan di umat Islam, barulah ia menyinggung tentang Gautama dengan mengutip mufassir sebelumnya.

“Selanjutnya ada pula penafsir-penafsir zaman sekarang sebagai disebutkan oleh al-Qasimi di dalam tafsirnya, berpendapat bahwa sumpah Allah dengan buah tin yang dimaksud ialah pohon Bodhi tempat bersemadinya Buddha Gautama Ketika beliau mencari Hikmat Tertinggi. Buddha adalah pendiri dari agama Buddha yang di kemudian harinya telah banyak berobah dari ajarannya yang asli,” tulis HAMKA dalam Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXX halaman 204.

“Tetapi seorang ulama besar dari Arabia dan Sudan, Syaikh Ahmad Soorkati yang telah mustautin di Indonesia ini pernah pula menyatakan pemikiran beliau, kemungkinan besar sekali bahwa yang dimaksud dengan seorang rasul Allah yang tersebut namanya dalam al-Qur’an Dzulkifli, itulah Buddha! Asal makna dari Dzul-Kifli ialah yang empunya pengasuhan, atau yang ahli dalam mengasuh. Mungkin mengasuh jiwa manusia. Maka Syaikh Ahmad Soorkati menyatakan pendapat bahwa kalimat Kifli berdekatan dengan nama negeri tempat Buddha dilairkan, yaitu Kapilawastu,” tulis HAMKA di halaman 205.

Dari tulisan Quraish Shihab maupun HAMKA yang terutama dalam penafsiran surat At-Tiin, terkuak bahwa orang pertama yang menyebut Buddha adalah al-Qasimi. Nama lengkapnya adalah Jamaluddin bin asy-Syaikh Muhammad Sa’id ad-Dimasyqi bin asy-Syaikh Muhammad Qasim al-Hallaq asy-Syafi’i al-Asy’ari.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dari puluhan kitab yang ditulisnya, Mahaasin at-Ta’wiil merupakan salah satu karya terpopuler Jamaluddin al-Qasimi. Tafsir ini 10 jilid yang diterbitkan Dar al-Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyah, Kairo. Dalam kitab inilah al-Qasimi menyatakan bahwa al-tīn adalah nama pohon tempat pendiri Agama Buddha, pohon ini dinamai Bodhi (ficus religiosa) atau Pohon Ara suci, yang terdapat di kota kecil Gaya, di daerah Bihar.

Meski demikian, ternyata al-Qasimi tidak menyinggung tentang Nabi Dzulkifli sebagai Buddha. Saat menafsirkan QS al-Anbiyaa’ ayat 85, Al-Qasimi tidak memberikan pendapatnya terkait dengan hal ini. Sementara saat menafsirkan QS Shad ayat 48, al-Qasimi hanya memberikan keterangan bahwa Dzulkifli adalah orang pilihan yang diberi kenabian dan risalah sebagai hidayah dan petunjuk bagi manusia.

Saat menafsirkan Surat At-Tiin yang mengaitkan dengan Budaha, al-Qasimi dalam tulisannya merujuk pada Ibnu Taymiyyah. Cendekiawan muslim abad pertengahan yang menegaskan ada kemungkinan munculnya Nabi di luar tradisi Bani Israil tersebut sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW.

Dalam tafsirnya, al-Qasimi menukil Ibnu Taymiyyah dari kitab  al-Jawab as-Sahih li-man Baddala Din al-Masih. “Sebagian ulama saat ini (yang semasa dengan Ibnu Taymiyyah) menafsirkan firman Allah yang berbunyi Wat-tin (demi pohon Tin) sebagai pohon Budha, pendiri agama Buddhisme, yang telah mengalami banyak penyelewengan dari kebenaran aslinya. Penyelewengan ini terjadi karena ajaran-ajaran Budha sendiri belum dituliskan di masanya,”.

Setelah menjelaskan tafsir ulama yang semasa dengannya, Ibnu Taymiyyah, sebagaimana dikutip al-Qasimi, seperti biasanya mentarjih pandangan yang menurutnya paling benar. “Yang paling benar menurut kami setelah mengecek pandangan ini dengan teliti, dan jika memang tafsir kami atas ayat ini bisa sahih, Budha adalah seorang Nabi yang asli. Nama aslinya ialah Sakyamuni atau Gautama. Sebelum menjadi Nabi, pada mulanya ia pergi bersemedi di bawah pohon besar,” tulisnya.

“…. Pohon tempat Budha bersemedi itu sangat popular di kalangan penganut Budha. Bagi mereka, pohon ini disebut sebagai pohon Ara (pohon tin/bodhi) yang suci atau dalam bahasa mereka disebut sebagai Ajabala,” lanjut al-Qasimi. Kutipan al-Qasimi dari Ibnu Taymiyyah ini juga dikutip lengkap oleh Buya HAMKA saat menafsirkan surat at-Tiin.

Al-Qasimi yang penulis Mahasin Ta’wil ini mengutip pandangan Ibnu Taymiyyah ketika menafsirkan surat at-Tin, bahkan menunjukkan bab yang dikutipnya. Hanya saja kutipan pandangan Ibnu Taymiyyah mengenai kenabian Sidharta Gautama ini tidak ditemukan dalam kitab aslinya, al-Jawab as-Sahih. Sebab, kitab yang diterbitkan kekinian, memang ditahqiq oleh ulama Arab Saudi.

Dilihat dari asal-muasal wacana kebanian Sidharta Gautama ini, bisa dibilang bahwa mufasir yang pertama kali mewacanakannya adalah al-Qasimi. Meski, dalam kitabnya ia mengaku merujuk pada Ibnu Taymiyyah. Pendapat ini pula yang kemudian dimasukkan Prof M. Quraish Shihab dan HAMKA dalam buku tafsir keduanya. Hanya saja dalam tafsir HAMKA disebutkan bahwa Syaikh Ahmad Soorkati menyetujui pendapat Al-Qasimi bahwa Gautama adalah seorang Nabi. Adapun perihal Buddha disamakan dengan Nabi Dzulkifli, menurut HAMKA, itu semata-mata merupakan pemikiran dari Syaikh Ahmad Soorkati sendiri.

Apakah benar Sidharta Gautama memang seorang Nabi atau bukan? Bahkan ia adalah Nabi Dzulkifli? Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu