Ashabul A’raf (Penghuni A’raf) adalah sebutan bagi sekelompok orang yang memiliki timbangan kebaikan dan keburukan yang seimbang di hari Kiamat.
Mereka ditempatkan di tempat tinggi bernama A’raf, sebuah tembok pembatas antara surga dan neraka, di mana mereka dapat melihat kedua kelompok tersebut.
Ashabul A’raf pada akhirnya akan dimasukkan ke dalam surga atas rahmat Allah, setelah mereka beribadah dan meminta kepada-Nya.
Di akhirat kelak akan ditemui suatu kelompok atau golongan yang disebut Ashabul A’raf. Secara definitif prespektif etimologi dari bahasa arab yang artinya adalah ‘tempat tinggi’.
Secara istilah artinya adalah tempat yang tinggi berada di antara surga dan neraka, di mana orang yang berada di situ bisa melihat penduduk surga dan neraka. Mereka tidak kekal di sana melainkan hanya sementara waktu.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA bahwa Rasulullah saw bersabda: “Diletakkan timbangan pada hari Kiamat lalu ditimbanglah semua kebaikan dan kejahatan. Maka orang-orang yang lebih berat timbangan kebaikannya dari pada timbangan kejahatannya meskipun sebesar biji sawi/atom dia akan masuk surga. Dan orang yang lebih berat timbangan kejahatannya dari pada timbangan kebaikannya meskipun sebesar biji sawi/atom, ia akan masuk neraka.”
Dikatakan kepada Rasulullah, “Bagaimana orang yang sama timbangan kebaikannya dengan timbangan kejahatannya?” Rasulullah menjawab, “Mereka itulah penghuni A’rāf, mereka itu belum memasuki surga tetapi mereka sangat ingin memasukinya.” Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat al-A’rof ayat 46 s/d 49,
وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلاًّ بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْاْ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَن سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ ٤٦ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاء أَصْحَابِ النَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ٤٧- وَنَادَى أَصْحَابُ الأَعْرَافِ رِجَالاً يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُواْ مَا أَغْنَى عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ ٤٨- أَهَـؤُلاء الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لاَ يَنَالُهُمُ اللّهُ بِرَحْمَةٍ ادْخُلُواْ الْجَنَّةَ لاَ خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلاَ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ -٤٩-
“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada tabir dan di atas A‘rāf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing- masing dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, “Salamun ‘alaikum” (salam sejahtera bagimu). Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau Tempatkan kami bersama-sama orang-orang zalim itu.” Dan orang-orang di atas A‘rāf (tempat yang tertinggi) menyeru orang-orang yang mereka kenal dengan tanda-tandanya sambil berkata, “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang kamu sombongkan, (ternyata) tidak ada manfaatnya buat kamu. Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah, bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?” (Allah Berfirman), “Masuklah kamu ke dalam surga! Tidak ada rasa takut padamu dan kamu tidak pula akan bersedih hati.”
Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan tentang hal ini, bahwa ayat yang berbunyi (وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ) maksudnya di antara penghuni surga dan neraka kelak ada ‘al-hijab’ atau pembatas. Yaitu dinding yang memisahkan antara mereka (penghuni surga dan neraka). dinding (pemisah) itu memiliki pintu. Di sebelah dalam ada rahmat dan di luarnya hanya ada azab.
Hudzaifah bin Yaman dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhum menjelaskan tentang ‘ashabul a’rof’ atau penduduk al-a’rof ini, mereka adalah orang yang memiliki timbangan kebaikan dan keburukan yang sama.
Sehingga kebaikan mereka belum bisa digunakan untuk menjadi alasan masuk surga. Begitu pula keburukan mereka tidak cukup untuk membuat mereka masuk neraka. Sehingga mereka tinggal di ‘al-a’rof’ ini, sampai kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga atas karunia dan kasih sayang-Nya.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu menambahkan penjelasan ini, ashabul a’rof adalah orang-orang yang memiliki kesamaan dalam kebaikan dan keburukan. Siapapun itu kelak ketika dia melintasi sirath (jembatan yang berada di atas neraka yang harus dilintasi menuju surga) mereka akan berhenti dan melihat penduduk surga. Maka penduduk surga menyeru mereka
(سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ)
“Salamun ‘alaikum” (salam sejahtera bagimu). Kemudian ketika mereka memalingkan wajah mereka kepada penduduk neraka, mereka akan berdoa
(رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ)
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau Tempatkan kami bersama-sama orang-orang zalim itu.”.
Para pelaku kebaikan kelak ketika dia melintasi sirath (jembatan yang berada di atas neraka yang harus dilintasi, karena jembatan ini adalah salah satu jalan menuju surga) akan dikaruniai oleh Allah cahaya yang menerangi depan dan belakang mereka untuk menolong perjalanan melintasi sirath.
Semua hamba akan diberi cahaya oleh Allah kelak. Kecuali orang munafik, Allah akan cabut cahaya yang telah diberkan kepada mereka. Maka ketika penduduk surga melihat apa yang terjadi terhadap orang-orang munafik, mereka berdoa,
رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا
“ya Tuhan kami sempurnakanlah untuk kami cahaya kami”
Sedangkan kondisi penduduk al-a’rof ini, cahaya mereka tidak dicabut oleh Allah tapi mereka tertahan untuk bisa masuk surga. Sehingga Allah berfirman kepada mereka
لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ
“Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk)” .
Mereka ini sangant berharap bisa masuk ke dalam surga karena cahaya yang mereka miliki. Kemudian Allah masukkan mereka ke dalam surga. Mereka penduduk al-a’rof ini adalah orang yang terakhir kali masuk surga (di antara penduduk surga yang tidak masuk neraka sama sekali).
Kemudian Allah berfirman kepada ashabul a’raf ini:
ادْخُلُواْ الْجَنَّةَ لاَ خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلاَ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ
“Masuklah kamu ke dalam surga. Tidak ada rasa takut padamu dan kamu tidak pula akan bersedih hati.”
Dari beberapa keterangan di atas dapat kita ketahui bahwa ashabul a’raf adalah suatu kaum yang mana kebaikan dan keburukan yang mereka lakukan seimbang. Mereka ditempatkan di sebuah tempat yang terletak antara surga dan neraka. Kemudian setelah semua ahli surga dimasukkan ke dalam surga maka ashabul a’raf juga dimasukkan oleh Allah kedalam surga.
Maka yang terbaik bagi kita adalah berusaha untuk tidak menjadi bagian dari mereka, karena meskipun mereka pada akhirnya dimasukkan ke dalam surga tetapi mereka harus menunggu terlebih dahulu beberapa saat hingga Allah menghendaki untuk memasukkan mereka ke dalam surga. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments