Sorak gemuruh siswa kelas VI menggema di aula lantai tiga Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Baratajaya Surabaya. Barisan siswa dengan kostum warna-warni dan dekorasi panggung yang menarik memenuhi ruangan, Selasa (2/12/2025). Melalui konsep assembly learning, pembelajaran kontekstual dikemas dalam drama musikal sehingga siswa dapat mengaktualisasikan materi secara nyata.
Guru Al-Islam kelas VI, Amri, M.Pd.I., menjelaskan bahwa Assembly Learning kali ini merupakan bentuk kontekstualisasi pembelajaran Al-Islam dengan tema melawan kesyirikan.
“Para siswa mendapatkan peran masing-masing dalam kontekstualisasi pembelajaran Al-Islam yang dikemas dalam tema Melawan Kesyirikan,” ujarnya sebelum acara dimulai.
Assembly learning telah menjadi agenda pembelajaran rutin yang paling ditunggu siswa. Pada metode ini, peserta didik memerankan tokoh, mensimulasikan situasi, dan mengalami proses belajar secara aktif dan partisipatif.
Pendekatan tersebut sejalan dengan teori konstruktivisme Piaget dan Vygotsky, bahwa peserta didik membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata, interaksi sosial, serta prinsip “learning by doing”.
Acara dimulai pukul 09.00 WIB dipandu dua MC cilik, Kania Prajnazanitha Harindra dari kelas VI Juanda dan Mazaya Thufailah Az Zahra dari kelas VI Ahmad Dahlan. Dengan penuh percaya diri, keduanya membuka acara dan membuat ratusan siswa larut mengikuti alur pertunjukan.
Kepala Sekolah Kreatif Baratajaya, Elly Rhodlifah, S.H., M.Pd., membuka acara dengan penuh sukacita.
“Selamat kepada kakak-kakak hebat kelas VI. Kalian luar biasa. Selamat memainkan drama ini dengan penuh semangat dan karakter yang kuat,” ujarnya.
Drama yang dipentaskan merupakan integrasi dari berbagai mata pelajaran dengan mengangkat tema syirik yang relevan dengan kehidupan modern. Syirik masa kini disimbolkan melalui penggunaan telepon genggam yang berlebihan hingga melalaikan kewajiban.

Cerita dimulai dari kisah awal masuknya Islam di Makkah dan dakwah Nabi Muhammad yang penuh kesabaran hingga Islam tersebar ke berbagai penjuru, termasuk Indonesia.
Tokoh utama Muhammad Azhar Fatahillah (VI Juanda) memainkan peran sebagai KH. Ahmad Dahlan dengan penuh kharisma dan ketenangan.
Sementara itu, Syiba Zulan Adi Santoso memerankan tokoh antagonis yang menggambarkan suasana zaman jahiliah. Cerita berlanjut pada masa penyebaran Islam melalui saudagar Gujarat hingga kondisi masyarakat yang masih dipengaruhi animisme dan dinamisme.
Kehadiran KH. Ahmad Dahlan digambarkan sebagai upaya pemurnian akidah, menegakkan ajaran Al-Qur’an dan hadis, serta memberantas praktik kesyirikan.
Drama ini juga menegaskan bahwa syirik modern dapat menyamar dalam bentuk ketergantungan terhadap gawai hingga melalaikan ibadah. Melalui tema Ketika Layar HP Menjadi Berhala, siswa diajak untuk bijak menggunakan teknologi dan tidak melalaikan salat, mengaji, maupun belajar.
Pertunjukan berdurasi sekitar 45 menit itu berlangsung seru dan mengasyikkan. Tari, lagu, serta adegan humor membuat suasana lebih hidup sekaligus meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam berekspresi dan mengeksplorasi bakat.
Para siswa mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Salah satu siswa, Kayyisa Safeea Bayu dari kelas VI Ashar Basyir, mengungkapkan kegembiraannya. “Saya senang sekali. Cerita Assembly kali ini sangat menarik,” ujarnya.
Assembly learning ini terselenggara berkat kerja sama seluruh siswa dan tim guru kelas VI. Kegiatan ini diharapkan menjadi pengalaman belajar yang bermakna, terlebih karena ini merupakan assembly terakhir mereka di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya.





0 Tanggapan
Empty Comments