Sebanyak 36 siswa dan 5 guru SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo mengikuti kegiatan Summer Camp di Universitas Da Yeh, Taiwan (10-26/8/2025).
Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi para siswa untuk mempelajari budaya lokal seperti keterampilan memasak serta bahasa Mandarin secara langsung di negara Taiwan.
Selama program berlangsung, para siswa mengikuti kelas memasak, budaya lokal, dan yang dipandu oleh instruktur profesional.
Dalam materi memasak mereka belajar mengenal bahan, teknik pengolahan, hingga penyajian hidangan khas negeri Formosa ini.
Selain itu, sesi pembelajaran bahasa Mandarin berlangsung interaktif, dengan metode praktik percakapan yang membuat siswa lebih percaya diri dalam berkomunikasi.
Salah satu peserta, Iqbal Ahmad Ibrahim, mengaku bahwa meski sempat mengalami kesulitan, ia merasa senang dan tertantang untuk belajar.
“Awalnya saya agak kesulitan, terutama saat menghafal kosakata bahasa Mandarin dan mengikuti instruksi memasak dalam bahasa asing. Tapi lama-lama jadi seru, apalagi ketika bisa mempraktikkan langsung. Rasanya puas banget,” ujarnya dengan penuh semangat.
Mereka memulai dari kata-kata sapaan sederhana, kemudian mempraktikkan cara menyebutkan nama mereka sendiri dalam versi bahasa Mandarin.
Suasana semakin hidup ketika para siswa diajak membaca dan menyebutkan nama berbagai bendera negara menggunakan bahasa Mandarin. Metode ini membuat pembelajaran terasa menyenangkan dan mendorong siswa untuk aktif berinteraksi.
Fadil Wijaya, salah satu peserta, mengungkapkan pengalamannya saat belajar bahasa Mandarin. “Belajar sapaan dan cara menyebut nama dalam bahasa Mandarin itu seru banget. Awalnya agak susah mengucapkannya, tapi lama-lama terbiasa. Waktu diminta membaca nama bendera-bendera negara dalam bahasa Mandarin, rasanya seperti sedang bermain sambil belajar,” ujarnya sambil tersenyum.
Azka Muhammad, peserta lainnya, menceritakan bahwa sesi belajar bahasa Mandarin semakin seru dengan adanya permainan edukatif yang dipandu guru dari Universitas Da Yeh.
“Kami diajak bermain game tebak kata dan bendera dalam bahasa Mandarin. Semua jadi semangat karena suasananya kompetitif tapi menyenangkan. Apalagi, pemenangnya dapat hadiah menarik langsung dari guru Mandarin di sini. Rasanya puas dan makin termotivasi untuk belajar,” ungkapnya.
Tantangan Memasak
Setelah sesi belajar Bahasa Mandarin, para siswa melanjutkan kegiatan belajar memasak masakan khas Taiwan. Salah satu peserta lainnya, Gwenora Zafira , menuturkan bahwa pengalaman belajar memasak di Universitas Da Yeh memberinya wawasan baru.
“Di sini kami diajarkan cara memasak yang detail, mulai dari memotong bahan dengan teknik tertentu sampai mengatur waktu memasak agar rasa dan teksturnya pas. Saya jadi tahu kalau memasak itu bukan cuma soal rasa, tapi juga seni dan ketelitian,” ungkapnya.
Sementara itu, Carissa Damayanti mengaku bahwa proses belajar memasak cukup menantang, terutama saat mengikuti instruksi dalam bahasa asing. Namun, semangat dan antusiasme membuatnya terus mencoba.
“Awalnya saya agak kesulitan, terutama saat menghafal kosakata bahasa Mandarin dan mengikuti instruksi memasak dalam bahasa asing. Tapi lama-lama jadi seru, apalagi ketika bisa mempraktikkan langsung. Rasanya puas banget,” pungkasnya.
Perlu diketahui bahwa Kegiatan Summer Camp di Universitas Da Yeh yang diikuti Smamda Sidoarjo ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang berharga, tetapi juga mengembangkan keterampilan praktis dan kemampuan berbahasa siswa secara menyenangkan dan interaktif.
Semangat dan antusiasme para peserta menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran lintas budaya mampu membuka wawasan sekaligus membentuk karakter yang siap menghadapi tantangan global di masa depan.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments