Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Asyiknya Santri Sepuh Selasaan di Masjid Baitul Muttaqin

Iklan Landscape Smamda
Asyiknya Santri Sepuh Selasaan di Masjid Baitul Muttaqin
pwmu.co -
Makan bersama. Anak-anak juga ikut nimbrung. (Mohamad Su’ud/PWMU.CO)

Asyiknya Santri Sepuh Selasaan di Masjid Baitul Muttaqin. Ngaji, makan, dan ngopi

PWMU.CO – Adzan Maghrib berkumandang. Puluhan jamaah masuk ke masjid dengan tertib. Suara anak-anak bergema bersamaan dengan adzan. Di antara mereka ada empat laki-laki sepuh. Di atas pundaknya terselip tas berisi mushaf al-Quran.

Usai shalat, beberapa santri dewasa itu menata meja. Tanpa instruksi mereka berbaris rapi setengah lingkaran di teras masjid untuk menyimak pengajian singkat. 

Sementara itu, di sisi kiri ada meja yang atasnya tersaji makanan yang masih terbungkus.

Begitulah suasana di Masjid Besar Baitul Muttaqin, Modo, Lamogan, Jawa Timur, Selasa (14/6/2022)

Sebanyak 12 santri lansia laki-laki tiap hari bakda shalat Maghrib nderes (tadarus, membaca) al-Quran di teras masjid. Mereka memegang al-Quran, membaca sendiri-sendiri, sambil menunggu giliran untuk menghadap pembimbing.

Ada yang sudah sampai juz 10 dan 15. Bahkan ada yang sudah mencapai juz 28. Ada juga yang masih Iqra Jilid V padahal sudah ditempuh lebih dari tiga tahun.

Walaupun masih terbata-bata, mereka tetap bersemangat dan tanpa ada malu melantunkan ayat demi ayat.

Makan dan Ngopi

Malam itu, Selasa (14/6/2022) adalah giliran makan bersama. Sebanyak 12 santri tua duduk melingkar bergantian mengambil nasi dan lauk pauk. Beberapa santri remaja tingkat SMP juga ikut bergabung untuk menikmati santapan malam itu.

Tradisi Selasaan ini sudah berlangsung tiga tahun. Sebelum makan ada kajian 15 menit yang diisi oleh Ustadz Mohamad Su’ud. Tema kajian seputar menjaga ketenangan jiwa, membangun kampung akhirat, dan menjaga keharmonisan dalam rumah tangga.

Biasanya dalam Selasaan ini ada sedekah makanan dari jamaah. Saat acara syukuran keluarga juga dibawa ke masjid dipaskan dengan hari Selasa. Kalau tidak makan ya hanya sekadar minum kopi dan jajanan ringan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Tidak hanya Selasaan hari-hari tertentu juga kadang ada yang mengirim makan dan jajan.

“Mereka butuh rileks fisik dan batin. Seharian sudah bekerja. Sudah capek, maka rumah Allah adalah tempat istrihat bagi mereka,” kata Mohammad Su’ud yang biasa dipanggil Kang Ud.

Menurut dia, ngopi dan makan adalah kebutuhan asasi manusia. “Itu bagian dari relaksasi,” ujarnya.

Kang Ud mengatakan jalan seseorang untuk menuju Allah memang ada berbagai variasi dan jenis. “Ada bagian tertentu harus diluruskan ada hal yang memang dibiarkan, asal tidak mendatangkan mudharat dan dosa,” jelasnya.

Respon Santri

Santri lansia di Selasaan itu merasa senagn dengan kegiatan ini. “Saya sangat senang ikut ngaji di masjid, untuk mengisi waktu senggang daripada di rumah,” jelas Slamet, 45 tahun yang juga pedagang gerabah ini.

Sarimin yang biasa dipanggil Mbah Men, juga mengatakan merasakan ketenangan sejak belajar al-Quran. “Awalnya saya tidak mengenal huruf sekarang bisa lancar membaca,” terang perabot masjid ini.

Begitu juga dengan santri-santri yang lain merasakan hal yang sama. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu