
PWMU.CO – Hari pertama Forum Taaruf dan Orientasi Siswa (Fortasi) SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) 2025 dimulai dengan langkah yang tak biasa. Bukan diawali dengan lomba yel-yel, bukan pula konser megah di lingkungan sekolah. Sebaliknya, kegiatan pembuka yang dipilih justru sederhana namun menyentuh: membuat ucapan terima kasih untuk orang tua.
Sebanyak 93 siswa baru, yang disebut Petualang dalam tema Fortasi JUMANJI: Jelajah Unggul Madani Jiwa dan Aksi, berkumpul di Forum Rimba pada Sabtu (14/7/2025). Mereka mengikuti sesi reflektif bertema akhlak, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Fortasi di Smamdela.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Smamdela, Lukman Arif SPdI, membuka kegiatan dengan pengantar yang menggugah.
“Ilmu tanpa akhlak adalah kehampaan. Adab lebih dulu sebelum pintar,” ujarnya tegas di hadapan para siswa baru yang duduk per-squad dalam suasana hangat dan tenang.
Ia menjelaskan bahwa tantangan pelajar masa kini bukan hanya soal pencapaian akademik, tetapi juga soal pembentukan karakter.
“Banyak yang cerdas, tapi kehilangan rasa hormat. Banyak yang rajin, tapi kurang empati,” tambahnya.
Karena itu, menurutnya, Smamdela memilih memulai Fortasi dengan penanaman nilai dasar, bukan sekadar pengenalan teknis.
Usai sesi reflektif, para Petualang menerima misi pertama mereka: membuat ucapan pendek berisi ungkapan terima kasih untuk orang tua. Tak ada skrip. Tak ada template. Hanya mereka, kamera, dan kata hati.
Ada yang merekam di taman belakang sekolah, ada yang duduk di tangga masjid. Beberapa menyampaikan pesan sambil tertawa, sementara yang lain tak kuasa menahan air mata saat berkata: “Maaf sering bikin repot. Makasih udah sabar, udah sayang aku.”
Ucapan itu langsung dikirimkan kepada orang tua masing-masing. Tak semua video terlihat sempurna, ada yang goyah, ada yang terbata-bata. Tapi semuanya jujur dan itu sudah lebih dari cukup untuk menyentuh hati.
“Satu ucapan tulus seringkali lebih menyembuhkan daripada seribu nasihat,” kata fasilitator, Naflah Shoofiyah, dalam refleksi akhir sesi.

Menanam Nilai, Bukan Sekadar Mengenalkan Sekolah
Sementara itu, Ketua Panitia Fortasi 2025, Ahmad Rizal Azdka SPd, mengatakan bahwa misi ini bukan sekadar aktivitas pembuka, tetapi bagian dari visi karakter Smamdela.
“Kami ingin anak-anak belajar dari dalam. Sebelum mengenal kelas, OSIS, atau lomba, mereka diajak lebih dulu menyapa batin dan menumbuhkan adab,” jelasnya.
Menurut Rizal, pendekatan ini merupakan bagian dari pendidikan karakter yang sangat dibutuhkan di era digital dan disrupsi seperti sekarang.
Fortasi Smamdela tahun ini tidak diawali dengan euforia, melainkan dengan suasana yang tenang dan mendalam. Tanpa disadari, para Petualang belajar bahwa menjadi pelajar Muhammadiyah sejati tidak cukup hanya dengan datang ke sekolah, tetapi juga dengan hadirnya hati yang tahu bersyukur.
Besok, petualangan akan berlanjut. Tapi hari ini, pelajaran tentang akhlak telah menjadi langkah pertama, yang mungkin akan mereka ingat untuk waktu yang sangat lama. (*)
Penulis Liset Ayuni Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments