Pada hari itu, tidak ada rumah. Tidak ada jabatan. Tidak ada gelar. Tidak ada kekuasaan. Hari itu hanyalah hari perhitungan.
Allāh Wa Ta’ala berfirman: “Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa : 34–36)
Namun ada satu pemandangan yang membuat para malaikat pun terdiam.
Seorang lelaki berdiri gemetar di Padang Mahsyar. Tubuhnya lusuh, wajahnya pucat, keringat bercampur air mata. Di hadapannya berdiri orang-orang yang paling ia cintai di dunia.
Istrinya. Anak-anaknya. Mereka tidak memeluknya. Tidak membelanya. Tidak menangis untuknya. Mereka menunjuknya.
Anaknya yang dulu ia banggakan berkata dengan suara bergetar: “Yaa Allāh, ayahku memberi kami makan, tapi tidak pernah mengajari kami salat.”
Anak yang lain berkata: “Ia membelikan kami ponsel mahal, tapi tak pernah menanyakan apakah kami masih ingat membaca Al-Qur’an.”
Yang lain menunduk sambil menangis: “Ia marah jika nilai kami jelek, tapi diam ketika kami meninggalkan salat.”
Lalu istrinya berkata, suaranya penuh luka: “Yaa Rabb… ia tidak pernah memukulku,
tapi ia membiarkanku jauh dari-Mu.
Ia pulang membawa uang, namun tak pernah membawaku ke majelis ilmu. Ia menuntutku taat padanya, tapi tak pernah mengajakku taat kepada-Mu.”
Lelaki itu jatuh berlutut. Ia ingin berkata: “Aku lelah. “Aku bekerja keras. Aku sibuk demi kalian.”
Namun lisannya kelu. Karena di hadapan Allāh, alasan dunia tidak berlaku.
Rasulullah saw bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ia teringat hari-hari di dunia. Pagi subuh yang sunyi, ketika azan berkumandang dari masjid, sementara televisi masih menyala dan selimut anaknya belum tersingkap.
Ia berkata: “Tidur saja, masih kecil.”
Hari demi hari berlalu. Anaknya tumbuh remaja, malam-malamnya dihabiskan dengan gawai, tanpa pernah ia tanya: “Sudah salatkah kamu?”
Ia hanya bertanya: “Sudah makan? Sudah belajar?”
Saat anaknya mulai sibuk dengan dosa, ia berkata: “Nanti juga sadar sendiri.”
Saat istrinya mulai lalai, ia berkata: “Itu urusan dia.”
Ia lupa… bahwa diamnya seorang ayah adalah kelalaian yang dicatat.
Kini semua kata “nanti” itu berubah menjadi tuntutan.
Allāh Subhanallahu Wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim : 6)
Api itu kini nyata. Dan ia berdiri di tepinya.
Dulu ia bangga berkata: “Aku kerja mati-matian demi keluarga.”
Namun di hari itu, nafkah dunia tidak bersuara.
Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya… tentang keluarganya dan bagaimana ia menjaga mereka.” (Makna hadis sahih)
Pada hari itu, uang tidak bersaksi. Rumah tidak membela. Jabatan tidak menjawab. Yang berbicara justru anak-anaknya. Dan mereka berkata: “Kami ingin iman, bukan sekadar makan. Kami ingin surga, bukan sekadar fasilitas.”
Kisah ini bukan untuk menakut-nakuti tanpa harapan. Tetapi untuk membangunkan hati yang masih hidup.
Karena seorang ayah bisa menjadi penyelamat keluargany, atau justru orang pertama yang dituntut oleh mereka.
Surga atau neraka seorang lelaki seringkali dimulai dari ruang tamunya,
dari meja makannya, dari caranya menegur dan membimbing.
Bukan dari seberapa besar gajinya, tetapi dari seberapa sering ia mengingatkan shalat,
mengajak ke masjid, menjadi teladan iman di rumah.
Yaa Allāh…
jangan Engkau jadikan anak dan istriku sebagai saksi yang menuntutku di akhirat.
Jadikan aku ayah yang menuntun, suami yang menjaga iman, bukan hanya pemberi nafkah dunia.
Ampuni kelalaianku sebelum terlambat, hidupkan hatiku sebelum mati,
dan kumpulkan kami kelak bukan di Padang Hisab dengan tangisan, tetapi di Surga-Mu dengan senyuman.
Aamiin yaa Rabbal ‘Alaamin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments