Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Back to Culture untuk Membangun Karakter Anak di Era Digital

Iklan Landscape Smamda
Back to Culture untuk Membangun Karakter Anak di Era Digital
pwmu.co -
Oleh Bayu Risma Gunawan, MPd, Gr – Guru Bahasa Indonesia SMK Muhammadiyah 1 Batu

PWMU.CO – gempuran globalisasi yang kian masif, karakter anak-anak Indonesia berada dalam ambang krisis yang mengerikan, yang tentu saja tak bisa diabaikan. Anak-anak digital natives ini lahir dan besar bersama gawai, media sosial, serta berbagai konten global yang tanpa batas. Kemajuan digital di era global ini tidak serta merta mampu memberikan kematangan karakternya. Sebaliknya, dampak negatif dari globalisasi digital ini telah menumbuhkan mental yang rendah empati, hilangnya rasa hormat pada orang tua dan guru, serta mudahnya mereka terlibat dalam kasus perundungan siber (cyber bullying).  Mereka menjadi berkecenderungan menjadi asing dengan budaya sendiri.

Pendidikan kultural adalah proses pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai budaya lokal seperti kearifan lokal, adat istiadat, etika sosial, dan tradisi yang telah lama mengakar dalam masyarakat. Sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu.” Nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah menjadi panduan moral bagi masyarakat Nusantara jauh sebelum sistem pendidikan formal berkembang. Namun, arus modernisasi dan dominasi budaya luar yang masif melalui media sosial dan teknologi digital telah menggerus pemahaman anak-anak terhadap budayanya sendiri. Akibatnya, banyak anak yang kehilangan identitas kultural dan nilai-nilai luhur yang semestinya menjadi pedoman dalam bersikap dan bertindak.

Basis penguatan karakter

Pendidikan karakter tidak mungkin tertanam kuat hanya melalui ceramah atau penegakan aturan-aturan normatif, tetapi juga perlu adanya keteladanan dan pembiasaan dalam keseharian. Nilai budaya universal, — misalnya: sopan santun, toleransi, kerja sama, dan rasa hormat terhadap orang tua dan guru — harus menjadi landasan dalam pembentukan karakter anak. 

Dalam budaya Jawa kita dikenalkan dengan falsafah “unggah-ungguh” yang mengajarkan etika sopan santun dalam bertutur dan bertindak. Budaya Minangkabau mengedepankan prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” yang menekankan harmonisasi antara agama dan adat. Sedangkan di Bali ada konsep “Tri Hita Karana” yang mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Menurut teori pendidikan Progressive Education dari John Dewey, pendidikan harus berakar pada pengalaman nyata dan lingkungan anak. Dewey percaya bahwa pendidikan yang kontekstual akan membentuk individu yang demokratis dan bertanggung jawab sosial. Artinya, pendidikan karakter tidak akan efektif jika terpisah dari budaya sekitar anak. Dewey menyatakan, “Education is not preparation for life; education is life it self.” Budaya bukan sekadar materi pelengkap, melainkan sumber kehidupan nilai dalam proses pendidikan itu sendiri.

Membangun karakter anak era digital harus melalui strategi kultural. Hal ini bukan berarti anti kemajuan teknologi, melainkan menjadikannya sebagai alat untuk memperkuat nilai-nilai budaya lokal. Ada beberapa strategi konkret yang dapat dilakukan: Pertama, mengintegrasikan nilai budaya lokal dalam pembelajaran. Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi guru untuk menerapkan pembelajaran kontekstual dan berbasis proyek. Dalam hal ini nilai-nilai budaya lokal dapat menjadi materi penguatan karakter. Dengan mengajak siswa membuat vlog tentang tradisi lokal di daerah mereka, mengadaptasi cerita rakyat menjadi komik digital, atau membuat podcast tentang nilai-nilai adat di lingkungan mereka. Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya mengenal budaya, tetapi juga menginternalisasi makna dan relevansi nilai tersebut dalam kehidupan modern.

Kedua, digitalisasi budaya lokal sebagai media pembelajaran. Anak-anak sangat akrab dengan platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. Maka, penting bagi pemerintah daerah, sekolah, dan komunitas untuk memproduksi konten digital edukatif yang mensosialisasikan budaya lokal secara menarik dan sesuai bahasa anak-anak zaman sekarang. Konten ini bisa berupa lagu tradisional dengan kemasan modern, animasi cerita rakyat, atau tutorial permainan tradisional yang melalui media sosial.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ketiga, pelibatan keluarga dalam peneladanan budaya. Pendidikan karakter paling efektif tetap berasal dari lingkungan keluarga. Orang tua harus menjadi role model dalam mempraktikkan nilai-nilai budaya. Misalnya sopan santun dalam berbicara, menghargai perbedaan, dan menjalankan tradisi keluarga. Pewarisan budaya bisa dilakukan secara sederhana, misalnya saat makan bersama sambil bercerita tentang asal-usul keluarga, mengenalkan bahasa daerah, atau mengajak anak mengikuti upacara adat.

Keempat, menciptakan ruang komunitas budaya yang ramah digital. Pemerintah dan masyarakat perlu mendorong lahirnya ruang-ruang komunitas—baik fisik maupun digital—yang memfasilitasi anak-anak untuk mengenal dan mencintai budaya. Misalnya, sanggar budaya yang membuat program live streaming kegiatan seni daerah, komunitas permainan tradisional online, atau forum diskusi virtual tentang kearifan lokal yang melibatkan generasi muda.

Melalui pendekatan-pendekatan tersebut, pendidikan kultural tidak hanya menjadi kisah tempo dulu, tetapi hadir sebagai kekuatan yang adaptif untuk menjawab persoalan karakter anak di era digital. Anak-anak tidak perlu dihadapkan pada pilihan menjadi modern atau tradisional, tetapi harus tumbuh sebagai pribadi yang cakap teknologi sekaligus berakar pada nilai-nilai luhur.

Gerakan Back to Culture jangan hanya jadi slogan, tapi harus menjadi kekuatan mengajak kembali ke akar — yaitu ke nilai-nilai kultural — yang telah terbukti menjadi penuntun moral dalam masyarakat Indonesia. Dalam membentuk karakter anak digital, kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi, tetapi perlu strategi yang menyentuh sisi identitas dan kebijaksanaan lokal. Karena sesungguhnya, budaya bukan beban masa lalu, melainkan cahaya untuk masa depan.(*)

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu