
Oleh: Moh. Helman Sueb – Pembina Pesantren Muhammadiyah Babat-Lamongan
PWMU.CO – Ketika Musa AS diperintah Allah Subḥānahu wa Ta’ālā untuk mendakwahi Fir’aun, raja yang mengaku tuhan dan sangat kejam, Musa menyampaikan alasan tidak sanggup menghadapi Fir’aun lantaran ia tidak lancar dalam berbicara. Lagi pula, ia pernah membunuh seseorang dari kaum Bani Israil. Dia perlu pendamping dalam menghadapi Fir’aun, maka diusulkanlah Harun kepada Allah Subḥānahu wa Ta’ālā agar menjadi pendamping. Usulan itu dikabulkan oleh Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.
Abu Bakar Ash-Shiddiq merasa takut dan tubuhnya gemetar karena para pemuda Quraisy akan membunuh Nabi Muhammad SAW. Kaki mereka terlihat di atas kepala Abu Bakar Ash-Shiddiq, dia pun bersedih. Lantas Nabi Muhammad menghiburnya, “Jangan bersedih. Allah bersama kita.” Begitulah kuatnya efek persaudaraan.
Persaudaraan sesama mukmin menjadi ciri mukmin sejati. Gerak mukmin sejati mengarah pada kebaikan: saling menolong, menghargai, bahkan sampai melindungi. Dalam firman-Nya: “Sesungguhnya sesama mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat: 10).
Selayaknya sesama mukmin itu bersaudara. Jangan bercerai-berai, jangan memfitnah, mengadu domba, serta jangan membuat runtuhnya persaudaraan Islam. Persaudaraan Islam dalam bahasa agama biasa diistilahkan ukhuwah islamiyah. Ukhuwah harus tetap dijaga dan didengungkan terus agar umat Islam tidak lelap dan lupa.
Perpecahan membuat umat Islam menjadi lemah. Jika sudah lemah, maka banyak aspek akan terabaikan, seperti pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik. Ukhuwah islamiyah adalah suatu kenikmatan yang mahal harganya karena membuat persaudaraan semakin kokoh dan kuat.
Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan dua bangunan yang saling menguatkan antara yang satu dengan yang lain.” (HR Muslim).
Kita dapat menyerap dari muatan hadits tersebut bahwa hendaknya kita saling mendukung dan menguatkan, saling menghargai serta mendukung dalam hal kebaikan. Hal seperti ini menjadikan persaudaraan semakin kuat.
Dalam hadits yang lain beliau bersabda, “Orang mukmin itu cermin bagi mukmin lainnya.“
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lainnya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. Ia mencegah hilangnya pekerjaan dan harta saudaranya serta menjaga segala urusan saudaranya ketika tidak berada di tempat.” (HR Abu Dawud).
Kedua sabda tersebut mengandung makna betapa pentingnya persaudaraan yang kokoh, adanya saling menghormati dan menghargai, serta memberi contoh sebagai langkah yang harus ditempuh seorang mukmin.
Menguatkan persaudaraan bisa dilakukan dengan dua hal ini :
Pertama, saling mendukung. Misalnya dibuktikan dengan kehadiran seseorang kepada saudaranya di saat duka maupun suka, serta memberikan dukungan dalam bentuk mendengarkan curhat atau membantu di masa sulit. Hal ini bisa sangat berarti.
Kedua, saling memberi hadiah. Ini akan menghilangkan rasa iri dan dengki. Sebab, dengan cara itu, persaudaraan semakin akrab dan menimbulkan perilaku terpuji seperti saling memaafkan dan saling memahami.
Kewajiban Sesama Mukmin
Sesungguhnya Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam telah menunjukkan tentang kewajiban sesama mukmin. Pertama, Mengucapkan salam. Filosofinya tidak ada kebencian maupun permusuhan, tetapi saling mendoakan. Kedua, Menghadiri undangan sebagai pertanda masih adanya pertemanan, kecuali jika ada halangan tertentu.
Ketiga, Memberi nasihat ketika diminta. Hal ini adalah jalan menuju kuatnya persaudaraan. Keempat, Mendoakan saudara yang bersin ketika mengucapkan “Alhamdulillah”. Persaudaraan yang baik selalu mendoakan.
Kelima, Menjenguk ketika saudaranya sakit. Ini juga langkah mengokohkan persaudaraan. Keenam, Melayat saudara yang meninggal. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muslim.
Di dalam keenam kewajiban tersebut terdapat interaksi antara sesama muslim, sehingga ada peluang untuk lebih akrab dan saling pengertian. Semoga uraian yang sederhana ini bermanfaat.
Penulis Helman Sueb Editor Zahra Putri Pratiwig





0 Tanggapan
Empty Comments