
Bukan Ahmadiyah
Diah Purnamasari membantah keras soal isu yang berkembang bahwa Djumhan adalah penganut Ahmadiyah. “Itu fitnah. Eyang tetap bersyahadatain. Tidak ada plus-plus Mirza Ghulam Ahmad segala,” katanya.
“Nah, kalau sekarang Ahmadiyah mengklaim Eyang anggotanya, itu karena Ahmadiyah melihat Muhammadiyah besar dan Kyai Dahlan ditokohkan,” jelas Diah. “Makanya isu bahwa Erfaan Dahlan adalah anggota mereka, tentu itu promosi yang bagus.”
(Baca juga: Setelah Kongres Boedi Oetomo di Rumah Kyai Dahlan, Inilah Dampak Positifnya untuk Muhammadiyah)
Salah satu bukti bahwa Erfaan Dahlan bukan Ahmadiyah, menurut Diah, di Thailand tidak ada Ahmadiyah semasa eyangnya masih hidup. “Malah ghirah Muhammadiyah yang hidup di sana,” katanya.
Untuk membersihkan nama baik Erfaan Dahlan dari Ahmadiyah, Diah mengaku pernah melakukan klarifikasi yang dijembatani oleh Nadjib Burhani (kini Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah).
“Kami pernah mengklarifikasi hal itu sekitar akhir 2012,” katanya. “Klarifikasi kami lakukan melalui Facebook. Waktu itu Pak Nadjib Burhani posisinya sedang di Amerika. Beliau bikin suatu forum, yang di situ saya di-tag, juga Paman Vinai Dahlan. Ada pula perwakilan Ahmadiyah Indonesia, salah satu nara sumber Pak Nadjib,” cerita Diah.
(Baca juga: 3 Cerita Jatuh-Bangun Kyai Dahlan Mendirikan dan Pertahankan Sekolahan)
“Jadi kami bikin klarifikasi waktu itu tertulis di wall FB-nya Pak Nadjib. Saling menjelaskan. Dan terakhir pihak Ahmadiyah Indonesia menyatakan minta maaf dan akan meralat. Karena sudah ada permintaan tertulis itu, maka waktu itu kami anggap sudah selesai. Kami nggak ambil pusing lagi.”
Diah melanjutkan,“Tapi, beberapa bulan yang lalu, saya shock ketika ada seorang teman FB yang kirim cuplikan halaman tulisan Pak Nadjib. Beliau menulis bahwa Eyang adalah anggota Ahmadiyah, tapi, yang aliran apa gitu, saya lupa. Di situ saya kecewa sekali.”






Cerita sejarah yang luar biasa…
Saling klaim mengklaim dlm ormas Islam kadang2 mnjadi kebiasaan, sebetulnya jangan dijadikan kebiasaan yg dpt meretakkan tali2 dan sendi2 kehidupan keagamaan.
Ini juga pembelajaran bagi Persyarikatan yg tadinya dpt mewarnai pemahamannya, tapi malah diwarnai dan keluar dari Persyarikatan, dpt saja dibelakang menjelek- jelekkan Muhammadiyah. Dan dahulu barang kali blm ada AUM yg spt Pesantren/ Muallimin/ mat. Memang anggota persyarikatan harus dibina untuk kasus2 yg lain, spy yang tadinya anggota Persyarikatan tetap ber-Muhammadiyah. Terutama Pemuda, walaupun yg bukan Pemuda juga dapat lebih cepat melirik klp lain karena merasa diperhatikan oleh klp lain dari bebagai sebab yg lain.
“PEMBELAJARAN BAGI MUHAMMADIYAH”.
Luar biasa, semoga Bisa menjadi pembelajaran kita semua untuk lebih berhati hati dalam menuntut ilmu sehingga tidak timbul fitnah. Barokallahufikum http://Www.sarikurmaajwa.com Sehat lebih lama