Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bahagia Itu Sederhana dan Puncak Kebahagiaan Adalah Ma’rifatullah

Iklan Landscape Smamda
Bahagia Itu Sederhana dan Puncak Kebahagiaan Adalah Ma’rifatullah
pwmu.co -

Saya pun semakin heran dengan jawaban Ibu tadi.  Pasalnya, saya tidak memberi apa-apa dan tidak pernah berbuat apa-apa kepadanya.  Saya pun bertanya lagi, lho kenapa Ibu?. Kulo seneng sanget sampeyan ajak omong kulo, sakdurunge mboten nate.  (saya sangat senang sekali  Ibu ngajak omong saya sebelumnya tidak pernah ada sama sekali). Ternyata makna  kebahagiaan bagi Ibu penjual Degan bakar itu sangat sederhana. Yakni, sapaan dan perhatian menjadi sesuatu yang amat bernilai bagi dirinya.

Sebelum kejadian itu, dulu juga ada seorang laki-laki paruh baya, ia adalah  pengusaha sukses, dan hampir semua pejabat mengenalnya. Kedua putranya yang besar sudah menjalankan perusahaannya, dan satu putrinya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Di lihat dari riwayatnya pasti semua orang mengira  bahwa  hidupnya  selalu  bahagia, tapi tidak demikian faktanya!. Justru kebahagiaan itu tidak ia dapatkan  di dalam keluarganya. Bapak pengusaha itu merasa bahagia bila ada teman yang mengajaknya berkumpul, walaupun hanya dengan segelas kopi di warung pinggir jalan.

Dua contoh diatas memberikan pelajaran bahwa rasa bahagia  tidak bisa dinilai secara lahiriah semata. Tidak ada hubungannya dengan status sosial, nilai kekayaan, bahkan kemegahan materi. Akan tetapi Allah SWT mempertautkannya dengan sesuatu yang sederhana. Semisal kehadiran seseorang yang tidak disangka itu memberikan perhatian. Menemaninya ngobrol dan atau sekedar hanya memberikan senyuman.

Itu baru sekelumit pengalaman yang saya alami. Saya yakin masih banyak peristiwa-peristiwa lain yang bisa mewakili untuk sebuah peristiwa yang membahagiakan. Nah, fenomena kehidupan itu ternyata telah diatur dengan pola harmonisasi batiniyah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Sebagaimana disebutkan dalam  do’a  yang selalu dipanjatkan kaum muslimin usai melaksanakan  sholat. Yakni,  termaktub di surat al-Baqarah Ayat  200-201. Yang artinya “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu”.

Selanjutnya Baca Halaman 3

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu