Tulisan Pelajar
Oleh: Kayla Ashiva Zahratus Salsabila (Siswi SMA Muhammadiyah 1 Taman)
PWMU.CO – Kita sering mengira sejarah itu sesuatu kisah yang sudah usai.
Ia tertulis, stagnan, diam, seperti monumen di tengah kota yang dipotret namun tak pernah didekati. Padahal, sejarah bangsa bukanlah sebuah benda mati. Ia hidup, namun tidak semua orang mendengar suaranya. Lebih tepatnya, banyak yang pura-pura tak mau mendengar.
Sejarah tak selalu berbicara dengan suara yang nyaring. Ia kadang hanya muncul dalam bisik-bisik di sebuah warung tua, di pojok lemari arsip yang berdebu,atau bahkan dalam kenangan seorang nenek yang tak pernah ditanyai kisahnya. Kadang, kita sibuk menghafal tanggal, nama, dan perang—tanpa tahu rasanya.
Ketika generasi muda kini mendengar sebuah kisah sejarah, seolah hanya disuruh untuk mengangguk, mendengarkan bagaimana heroiknya perjuangan bangsa ini untuk merdeka. Sebagai generasi muda yang akan meneruskan perjuangan negara ini, rasanya kita perlu ditunjukkan bagaimana kisah-kisah yang belum mencuat dalam perjalanan sejarah bangsa.
Sejarah bukan hanya sebuah alat untuk menunjukkan kebanggaan, namun juga bagaimana kita bisa jujur dengan sebuah peristiwa. Generasi muda harus tahu, bahwa Buya Hamka yang merupakan sosok Menteri Agama yang disegani dan dianggap Sukarno sebagai saudara, justru harus mendekam dipenjara dituduh oleh Sukarno sendiri, yang ia anggap sebagai saudaranya. Namun, perlu diketahui juga, Buya Hamka adalah orang yang mengimami shalat jenazahnya Sukarno. Tan Malaka yang menjadi Bapak Republik Indonesia, harus mengakhiri hidupnya karena dianggap sebagai pengkhianat bangsa. Tidak selalu seseorang yang kita anggap “pahlawan” adalah orang yang suci, dan tak selalu yang kita anggap “penjahat” tak cinta negeri.
Mungkin terkesan keras, namun sejarah itu bak lagu lama yang kasetnya rusak. Ada bagian yang terus diulang—tentang kemerdekaan, kemenangan, persatuan—terus-menerus, namun bagian yang seret, retak dan sumbang, terlewat begitu saja. Padahal, di sanalah letak kejujurannya.
Kita bisa memandang sejarah seperti kita membaca surat dari seseorang yang pernah kita lukai. Bukan untuk membenarkan diri, tapi untuk mengerti. Kita tidak ingin mengulangi luka yang sama ke generasi selanjutnya. Supaya kita tahu bahwa mencintai bangsa bukan berarti menyembunyikan cacatnya, tapi menerima dan memperbaikinya.
Sejarah tak hanya pelajaran, tapi juga peringatan. Ia mengingatkan kita bahwa “Indonesia” tidak lahir dalam semalam dan tak dibentuk oleh satu kelompok saja. Ia lahir dari benturan ide dari ratusan bahasa, dari orang-orang yang bahkan tak tercatat namanya. Sejarah bangsa itu bak mozaik besar—dan jika kita hanya melihat bagian yang indah saja, kita kehilangan gambar utuhnya.
Maka dari itu, jangan hanya ajari anak-anak kita untuk bangga. Ajari mereka untuk mendengar, untuk bertanya, untuk menggali cerita yang tak diajarkan di buku sekolah. Sebab bangsa yang sehat bukan yang hanya mengenang sejarahnya, tapi yang berani untuk menuliskannya dengan penuh keberanian dan empati.
Dan satu hal lagi—kita juga perlu menyadari bahwa sejarah tidak harus selalu besar untuk bisa bermakna. Kadang, kisah paling penting justru terjadi di tingkat paling kecil: percakapan diam-diam di ruang keluarga, perjuangan mempertahankan tanah warisan, atau suara-suara minoritas yang hanya muncul setahun sekali saat peringatan.
Apa gunanya menghafal nama-nama tokoh jika kita tidak pernah belajar mendengar cerita rakyat yang hidup di sekitarnya? Apa gunanya pawai Hari Kemerdekaan jika kita masih buta pada ketidakadilan yang terjadi dengan wajah berbeda?
Kita terlalu sering meromantisasi masa lalu, tapi lupa bahwa tugas kita adalah merawat masa depan. Dan merawat masa depan berarti berdamai dengan sejarah kita, termasuk bagian-bagian yang tidak nyaman. Kita harus berani berkata: “Ya, ini pernah terjadi. Dan sekarang aku tahu. Dan aku akan melakukan sesuatu.”
Karena bangsa yang hebat bukan yang punya masa lalu gemilang, tapi yang tahu apa yang harus dilakukan dengan masa lalunya. (*)
Editor Wildan Nanda Rahmatullah





0 Tanggapan
Empty Comments