Ketua Tabligh dan Kajian Keislaman (TKK) Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Lamongan, Alfain Jalaluddin Ramadlan, menyampaikan materi Kemuhammadiyahan dalam kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) II PK IMM Al-Khawarizmi ITB Ahmad Dahlan Lamongan, Kamis (22/1/2026), bertempat di Kampus 2 ITB Ahmad Dahlan Lamongan.
Mengawali sesi, Alfain membangkitkan semangat peserta dengan jargon khas IMM yang dijawab serempak “Jaya” sambil mengepalkan tangan. Suasana semakin hidup saat peserta diajak melakukan tepuk tunggal dan tepuk ganda sebagai latihan konsentrasi dan fokus sebelum memasuki materi inti.
Sepanjang penyampaian materi, Alfain aktif membangun interaksi dengan peserta. Ia kerap mengajak dialog dan respons langsung sehingga suasana forum tetap dinamis dan partisipatif.
Dalam pemaparannya, Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan ini menegaskan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam terus meneguhkan perannya dalam membangun peradaban umat melalui dakwah yang mencerahkan. Salah satu upaya strategis tersebut dilakukan melalui penguatan Kemuhammadiyahan yang menekankan pentingnya pemahaman ideologi Muhammadiyah sebagai landasan gerakan.
“Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta sebagai respons atas berbagai persoalan umat, mulai dari ketertinggalan pendidikan hingga praktik keagamaan yang tidak sepenuhnya merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah,” jelas pria kelahiran, 13 Desember 2000 ini.
Sebagai Gerakan Islam, Gerakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, dan Gerakan Tajdid, Muhammadiyah hadir dengan misi menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam guna mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Dakwah Muhammadiyah, lanjut Alfain, tidak berhenti pada ceramah semata, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi.
Ia juga menegaskan bahwa ideologi Muhammadiyah merupakan sistem keyakinan dan perjuangan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, yang diaktualisasikan melalui gerakan pembaruan menuju Islam Berkemajuan.
Ideologi tersebut menjadi panduan hidup warga Muhammadiyah agar mampu berislam secara paripurna, progresif, dan mencerahkan demi kemaslahatan umat dan bangsa.
Menurut Mahasiswa Pascasarjana Umsura ini, implementasi ideologi Muhammadiyah tampak nyata melalui pendirian sekolah dan perguruan tinggi modern, rumah sakit dan klinik, panti asuhan, Lazismu, serta aksi-aksi kemanusiaan seperti Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Semangat Al-Ma’un menjadi ruh gerakan sosial Muhammadiyah dalam menjawab persoalan kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.
Dalam konteks kebangsaan, Muhammadiyah berperan aktif sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga saat ini dengan meneguhkan komitmen menjaga NKRI sebagai darul ‘ahdi wa syahadah. Muhammadiyah juga konsisten tampil sebagai aktor kemanusiaan dan penggerak civil society yang merawat persatuan bangsa.
Menutup materi, Pria asal Godog, Laren ini mengingatkan pesan KH Ahmad Dahlan yang tetap relevan bagi seluruh kader Muhammadiyah, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Pesan tersebut menjadi penguat komitmen kader IMM untuk terus berkontribusi nyata dalam dakwah dan pengabdian kepada umat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments