Sore itu, Kamis (7/8/2025) suasana kelas C berdenyut dengan antusiasme: para guru berdiri, mengangkat tangan, dan menyiapkan kertas‑kertas berwarna untuk “bermain‑main” dengan bentuk‑bentuk geometris.
Dari detik pertama, semangat peserta sudah meluap‑luap. Mereka nggak cuma duduk mendengarkan, melainkan langsung gerak, potong, lipat, dan susun kertas beragam bentuk sampai jadi “peta logika” yang menuntun ke konsep berpikir logis dan sistematis. Ya, ini merupakan dasar dari koding, yaitu cara berpikir.
Kegiatan sederhana tersebut dapat membangun fondasi berpikir algoritmik sejak dini, sehingga murid tidak hanya menghafal prosedur/rumus tetapi memahami mengapa langkah itu diperlukan.
Sebagai Fasilitator Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di kelas C, saya melihat logika terlatih yang tampak selama proses tersebut. Praktik langsung seperti itu, mengajarkan cara berpikir logis dan sistematis sebagai fondasi KKA.
Selain itu, ada karakter kuat yang muncul. Aktivitas kertas menumbuhkan rasa ingin tahu, kerja sama, dan semangat “siap coba” yang menjadi modal penting bagi guru‑guru untuk mendesain pembelajaran yang melatihkan cara berpikir logis.
Saya meyakini, dengan antusiasme yang menular, para guru SD di Banten kini dipersenjatai bukan hanya pengetahuan teknis, melainkan juga mindset logis‑sistematis yang siap menular ke murid.
Kegiatan Bimbingan Teknis Pembelajaran Mendalam, Koding, Kecerdasan Artifisial, dan Penguatan Karakter digelar oleh Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Direktorat Sekolah Menengah Atas Kemendikdasmen. Region Banten ini diikuti 200 peserta guru SD, SMP, SMA, dan SMK di Hotel Golden Tulip Essential Tangerang. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments