Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur merayakan Milad ke-64 dengan nuansa berbeda. Menggelar tasyakuran di Aula Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur pada Minggu (21/8/2025), dan sekaligus peluncuran “Batik Pelajar Gerbang Baru Nusantara”.
Momentum ini tidak sekadar perayaan usia organisasi, melainkan juga wujud aktualisasi semangat pelajar Muhammadiyah dalam menjaga tradisi sekaligus berinovasi.
Peresmian batik khas pelajar tersebut langsung oleh Ketua PWM Jawa Timur, Prof. Dr. Sukadiono, MM., bersama Ketua Bidang Perkaderan Pimpinan Pusat IPM, Ganis Khoirun Nisa.
Harapannya, batik ini menjadi simbol identitas sekaligus penguat karakter generasi muda, yang tidak hanya menimba ilmu tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai budaya bangsa.
Ketua Umum PW IPM Jawa Timur, Hengki Pradana, dalam sambutannya menegaskan bahwa perjalanan panjang IPM selama lebih dari enam dekade bukanlah hal mudah.
Berbagai tantangan zaman terus menguji eksistensi organisasi pelajar ini, terlebih di era modern yang serba cepat dan penuh dinamika.
Namun, Hengki menegaskan, IPM selalu hadir sebagai ruang pembinaan yang melahirkan kader tangguh, visioner, dan berakar kuat pada nilai-nilai kebangsaan serta keislaman.
Selain menjadi simbol, karya, dan identitas, batik pelajar ini dibalut dengan warna-warna penuh makna.
Putih melambangkan ketulusan dalam menimba ilmu, biru mencerminkan keteguhan serta harapan, sedangkan cokelat menjadi simbol akar budaya yang kokoh.
Seluruhnya dipadukan dengan ornamen-ornamen yang sarat makna dan harapan, antara lain:
- Logo IPM yang tersemat di bagian dada menjadi pusat makna. Ia melambangkan identitas, semangat perjuangan, serta dedikasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah dalam membentuk generasi pelajar berilmu, berakhlak mulia, dan terampil.
- Motif flora Jawa Timur yang menghiasi seluruh kain mencerminkan kekayaan alam dan keindahan bumi Jawa Timur. Motif ini sekaligus menjadi simbol kesuburan, kehidupan, serta semangat pelajar yang terus tumbuh dan berkembang.
- Motif daun dan sulur menggambarkan dinamika dan pergerakan. Seperti sulur yang terus merambat, pelajar Jawa Timur diharapkan mampu melebarkan sayap ke seluruh penjuru nusantara melalui karya dan inovasi.
- Monumen Tugu Pahlawan Surabaya yang terletak di bagian tengah bawah menjadi penanda identitas Jawa Timur sekaligus lambang spirit kepahlawanan. Ia menjadi pengingat bahwa perjuangan para pahlawan kini diwariskan kepada pelajar untuk diteruskan melalui ilmu pengetahuan dan pengabdian.
”Seorang kader IPM harus memiliki jangkar nilai yang kuat, bukan sekadar mengikuti arus. Kader sejati tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual serta berkarakter dalam menghadapi perubahan,” ujar Hengki Pradana.
Hengki menegaskan bahwa semangat Living Gomenzi tidak boleh hanya menjadi jargon. Semangat ini harus menjelma melalui langkah nyata.
IPM harus benar-benar tercatat dalam sejarah sebagai organisasi pelajar yang memberi dampak.
IPM harus hadir menjadi ruang belajar yang melahirkan kader unggul, ruang pemberdayaan yang membuka kesempatan berkembang bagi pelajar, serta ruang pendampingan bagi sekolah dan masyarakat agar semakin maju.
Lebih lanjut, Hengki juga menegaskan bahwa kader IPM memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, kader tidak boleh kehilangan identitas.
Karena itu, kader harus berani tampil visioner, inspiratif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“IPM harus menjadi pelopor lahirnya generasi pelajar yang peduli, solutif, dan berdaya guna. Seorang kader harus mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan, masyarakat, dan bangsa,” pungkasnya.***






0 Tanggapan
Empty Comments