Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bedah Buku 25 Tahun IMM Kediri Raya: Merawat Sejarah, Meneguhkan Peran Mahasiswa

Iklan Landscape Smamda
Bedah Buku 25 Tahun IMM Kediri Raya: Merawat Sejarah, Meneguhkan Peran Mahasiswa
Hadi Muthohir dan Moch. Mahbuba di Bedah Buku 25 Tahun IMM Kediri Raya. (Nico Agung Perlambang/PWMU.CO)
pwmu.co -

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, Masjid Al-Maliki Kota Kediri menyelenggarakan rangkaian kegiatan Bedah Buku dan Buka Bersama Ayyamul Bidh pada tanggal 1–3 Februari 2026.

Pada hari pertama, kegiatan diisi dengan Bedah Buku 25 Tahun IMM Kediri Raya bersama Forum Komunikasi Alumni (Fokal) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kediri Raya.

Dalam pengantarnya, Ketua Takmir Masjid Al-Maliki, Hadi Muthohir, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi ruang refleksi sejarah, konsolidasi gagasan, sekaligus peneguhan peran strategis mahasiswa dalam kehidupan sosial, keislaman, dan kebangsaan.

Ia menambahkan, dalam konteks nasional, lahirnya IMM dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tidak dapat dilepaskan dari dinamika sejarah gerakan mahasiswa Islam pada era Orde Lama, khususnya ketika Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menghadapi ancaman pembubaran.

Dari situ, IMM didirikan oleh tokoh-tokoh mahasiswa Muhammadiyah sebagai “jalan penyelamat” gerakan mahasiswa Islam. Hingga kini, IMM tetap eksis sebagai ruang kaderisasi intelektual dan perjuangan nilai.

Dalam konteks lokal, IMM Kediri Raya memiliki sejarah panjang sejak awal tahun 2000-an. Estafet kepemimpinan yang terus berjalan secara dinamis menunjukkan bahwa organisasi ini mampu bertahan dan beradaptasi dengan perubahan zaman hingga hari ini.

Kehadiran sejumlah tokoh senior IMM dalam kegiatan tersebut semakin menegaskan kesinambungan sejarah sekaligus proses regenerasi kepemimpinan di tubuh IMM Kediri Raya.

Pembedah utama buku, Moch. Mahbuba—yang juga Ketua Fokal IMM Kediri Raya—menjelaskan bahwa buku ini merupakan ikhtiar kolektif para mantan Ketua Cabang IMM Kediri Raya untuk mendokumentasikan perjalanan organisasi selama seperempat abad.

Buku tersebut memuat beragam pengalaman, tantangan, serta corak kepemimpinan dari berbagai periode kepengurusan.

Secara garis besar, perjalanan IMM Kediri Raya dipetakan ke dalam enam fase, yaitu:

1. Masa Perintisan dan Fondasi Awal (2001–2007)
2. Masa Konsolidasi dan Ekspansi (2007–2011)
3. Masa Kebangkitan dan Perluasan Gerakan (2011–2014)
4. Masa Dinamika dan Konflik Organisasi (2014–2017)
5. Masa Konsistensi dan Digitalisasi (2018–2022)
6. Masa Kontemporer dan Sinergi (2022–sekarang)

Dalam setiap fase tersebut, IMM Kediri Raya menampilkan corak gerakan yang beragam, mulai dari dakwah keislaman, gerakan sosial, advokasi masyarakat, hingga respons terhadap tantangan era digital.

IMM dipotret sebagai “laboratorium kaderisasi” yang menempa intelektualitas, kemandirian, kepemimpinan, serta kepekaan sosial mahasiswa.

Pembedah dari kalangan akademisi, Ibnu Sholeh—Wakil Ketua STIT Muhammadiyah Kediri—menegaskan bahwa IMM memiliki peran penting dalam membentuk kepemimpinan muda yang religius, intelektual, dan humanis, sebagaimana trilogi IMM.

Alumni IMM Kediri Raya tercatat berkiprah di berbagai sektor, mulai dari dunia akademik, birokrasi, politik, hingga aktivisme sosial.

Diskusi juga menyoroti sejumlah tantangan ke depan, seperti menurunnya minat mahasiswa dalam berorganisasi, perubahan karakter generasi muda, serta tuntutan adaptasi dakwah dan kaderisasi di era digital.

IMM didorong untuk memanfaatkan teknologi, memperkuat jejaring alumni, dan menjaga kesinambungan nilai-nilai perjuangan.

Para penulis berharap buku ini tidak hanya menjadi arsip sejarah, tetapi juga menjadi rujukan pembelajaran bagi kader IMM dan generasi mahasiswa secara luas.

Pesan utama yang ditekankan adalah pentingnya merawat ingatan sejarah sekaligus menjadikan IMM sebagai ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan yang berkelanjutan.

Seperempat abad perjalanan IMM Kediri Raya merupakan tonggak penting, namun bukan titik akhir. IMM diharapkan terus hadir sebagai kekuatan moral dan intelektual dalam mengawal masa depan bangsa.

Rangkaian Kegiatan Masjid

Kegiatan yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dan diakhiri dengan buka bersama berlangsung gayeng. Adapun rangkaian kegiatan Bedah Buku dan buka bersama di Masjid Al-Maliki Kota Kediri masih akan berlanjut hingga 3 Februari 2026.

Buku yang akan dibahas selanjutnya adalah Isyarat Kecil dari Kota Tua dan Membaca Kediri, karya Yusron—Ketua Dewan Pakar ICMI Kota Kediri. Pembedahan buku tersebut akan dilakukan oleh Gus Qowwim, Wakil Wali Kota Kediri.

Selain itu, akan dilaksanakan pula peluncuran sejumlah produk masjid, antara lain pupuk organik, pertanian organik, kolam perikanan masjid, serta produk makanan ringan UMKM. Kegiatan launching ini rencananya akan dihadiri oleh Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati.

Takmir Masjid Al-Maliki menegaskan komitmennya untuk terus memakmurkan masjid. Kegiatan bedah buku ini sekaligus menegaskan peran masjid sebagai pusat literasi, intelektualitas, dan gerakan sosial.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu