Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bedah Buku Moderasi Beragama, PSIB UMM dan FKAUB Malang Raya Gelar Dialog Lintas Iman

Iklan Landscape Smamda
Bedah Buku Moderasi Beragama, PSIB UMM dan FKAUB Malang Raya Gelar Dialog Lintas Iman
Kegiatan dialog dan refleksi lintas iman melalui kegiatan bedah buku bertema “Perjuangan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang Raya dalam Mewujudkan Moderasi Beragama”. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang Raya menggelar dialog dan refleksi lintas iman melalui kegiatan bedah buku bertema “Perjuangan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang Raya dalam Mewujudkan Moderasi Beragama”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa (6/12/2025) di Auditorium Masjid Lantai 2 UMM.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor V UMM Bidang Pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) serta Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas inisiatif dan konsistensi FKAUB Malang Raya dalam merawat kerukunan umat beragama.

Prof. Tri menegaskan bahwa Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah menanamkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, inklusif, dan menjunjung tinggi kehidupan berbangsa yang harmonis.

“Kegiatan seperti ini merupakan wujud nyata implementasi nilai-nilai tersebut, sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan sesama anak bangsa,” ujarnya.

Kegiatan bedah buku menghadirkan dua narasumber, yakni Sekretaris Jenderal FKAUB Malang Raya Pdt. David Tobing, ST., S.Th., M.Pd., serta Kepala PSIB UMM Prof. Gonda Yumitro, S.IP., MA., Ph.D. Keduanya mengulas peran, tantangan, dan capaian FKAUB Malang Raya sebagai salah satu forum dialog lintas iman yang aktif di wilayah Malang Raya.

Dalam pemaparannya, David Tobing menjelaskan bahwa FKAUB lahir pada era reformasi dan FKAUB Malang Raya menjadi cikal bakal terbentuknya forum-forum serupa di berbagai daerah di Indonesia.

“Selama ini FKAUB telah banyak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan penguatan persatuan dan kerukunan antarumat beragama. Ke depan, kami berharap semakin banyak karya yang dapat dihasilkan oleh FKAUB,” ujarnya.

David juga menambahkan bahwa kegiatan bedah buku ini merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan. Ia menyampaikan apresiasi kepada PSIB UMM yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut.

“Ke depan, PSIB UMM dan FKAUB diharapkan dapat terus berkolaborasi, khususnya dalam riset tentang kerukunan antarumat beragama di Malang Raya,” tuturnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Sementara itu, Prof. Gonda Yumitro mengungkapkan bahwa buku yang dibedah memuat beragam perspektif mengenai toleransi antarumat beragama dari berbagai sudut pandang keagamaan. Ia mengapresiasi upaya FKAUB dalam membangun sikap toleransi di Malang Raya.

Namun demikian, Gonda juga menyoroti masih minimnya pembahasan mendalam mengenai perspektif Islam dalam buku tersebut.

“Pandangan toleransi yang disajikan sangat komprehensif, tetapi masih kurang dalam menghadirkan perspektif Islam secara mendalam. Padahal, sejarah Islam menunjukkan teladan kuat tentang toleransi, seperti Piagam Madinah yang memberikan ruang setara bagi seluruh warga, termasuk umat Yahudi, serta sikap Nabi Muhammad SAW yang menghormati jenazah umat lain karena memandangnya sebagai sesama manusia,” jelasnya.

Ia berharap kekurangan tersebut dapat dilengkapi pada edisi atau karya berikutnya agar tidak terjadi ketimpangan perspektif dalam memahami praktik toleransi beragama. Gonda juga menegaskan bahwa Muhammadiyah sejak awal berdiri telah menerapkan sikap toleransi dalam kehidupan sosial tanpa memandang latar belakang agama, dengan tetap menjaga prinsip ibadah mahdhah yang tidak dapat dicampuradukkan.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Sekretaris PSIB UMM, Diki Wahyudi, S.Sos., M.IP., ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat lintas agama, mahasiswa UMM, serta kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah.

Menutup kegiatan, Diki Wahyudi menegaskan kembali kiprah Muhammadiyah dalam merawat toleransi di Indonesia.
“Muhammadiyah telah lama mempraktikkan toleransi yang tinggi. Bahkan, terdapat istilah KrisMu atau Kristen Muhammadiyah bagi saudara-saudara Kristen yang memiliki kedekatan dengan Muhammadiyah, khususnya di wilayah seperti Papua dan NTT. Ini menunjukkan bahwa sikap toleransi Muhammadiyah tidak perlu diragukan lagi,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu