Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Begini Cara Menjaga Rumah Sakit Agar Tidak Ambyar 

Iklan Landscape Smamda
Begini Cara Menjaga Rumah Sakit Agar Tidak Ambyar 
pwmu.co -
Oleh dr Sholihul Absor, MKes – Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya, Wakil ketua MPKU PP Muhammadiyah

PWMU.CO – Beberapa hari yang lalu, saya mendapat pesan WhatSapp (WA) dari Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyuwangi Kiai Dr H Mukhlis, MSi. Tentu cukup mengejutkan saya, tidak biasanya beliau berkirim WA ke saya. Bahkan seingat saya, bisa dikatakan tidak pernah. Beliau sosok kiai yang kalem, santun, selalu murah senyum, dan penuh kebijaksanaan. 

Isi pesannya tersebut lumayan panjang, sekitar 20 baris kata di ponsel, sehingga saya membutuhkan sedikit konsentrasi saat membacanya. Terlebih lagi pesan WA beliau itu sangat menarik, sehingga saya bersemangat untuk membacanya sampai tuntas. Pesan itu berupa autokritik, yang mengingatkan tentang tantangan besar dalam pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) saat ini. 

Pesan beliau tersusun dengan gaya bahasa — yang dalam sastra Indonesia disebut majas — yang penuh makna. Dalam sebagian pesannya, beliau mengatakan:

“Dulu sekolah, rumah sakit, gaji karyawannya lancar, keuangan gancar, jika salah kelola bisa menjadi bubar, barbar dan ambyar. Jika dulu sekolah, rumah sakit hidup sentosa, sejahtera jika salah kelola akan menjadi sengsara dan berubah menjadi saling prasangka. Jika dulu sekolah dan rumah sakit itu kuat dan hebat, jika salah kelola menjadi sekarat, beban berat dan sering dihujat…. ”

Saya tersenyum membacanya, dan langsung balas pesannya, “leres saestu Kiai”. Ya….pesan ini bukan sekadar gaya bahasa biasa. Namun adalah cerminan realitas yang sesungguhnya mulai tampak pada beberapa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) kita saat ini, khususnya AUM yang berbentuk rumah sakit dan klinik. Di tengah gempuran persaingan yang semakin tajam, regulasi pemerintah yang semakin ketat, dan tuntutan mutu yang harus meningkat, tidak jarang justru musuh terbesar kita datangnya dari dalam AUM sendiri. Entah yang berupa konflik antar pengurus, tarik menarik kepentingan, ego sektoral, ataupun ketidaksiapan manajerial.

Ironisnya, sebagian pihak masih ada yang berpandangan bahwa mengelola AUM itu cukup dengan bermodal niat baik dan semangat dakwah saja. Padahal, kenyataannya niat baik saja tidaklah cukup digunakan merawat dan mengelola AUM ini. Tantangan dan persoalan yang dihadapinya lumayan komplek. 

Melalui pesannya, beliau mengingatkan bahwa mengelola rumah sakit, dan klinik harus sungguh sungguh, penuh semangat dan tidak berhenti dalam mengurus AUM dengan kualitas tangguh. Saya menerjemahkan bahwa mengelola AUM itu sangat membutuhkan manajemen modern, profesionalisme yang terukur, serta kompetensi yang terus meningkat. Tanpa itu semua, niat baik justru bisa membawa AUM kita pada jurang keterpurukan.

Pesan Kiai Mukhlis tidak berhenti sampai di situ. Beliau juga mengingatkan tentang “kunci kedua” yang kerap terlupakan, yaitu: kekompakan, kerukunan, musyawarah, dan kesabaran. Dalam pengamatan subjektif saya, seiring perkembangan dan semakin kompleksnya organisasi Muhammadiyah yang telah berusia lebih dari satu abad, arah komunikasi dan koordinasi cenderung menjadi semakin formalistik dan kaku. Hal ini tentu tidak dapat dimungkiri sebagai bagian dari konsekuensi sebuah organisasi besar.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Di sinilah pentingnya pesan tersebut: komunikasi dan koordinasi yang formal harus diimbangi dengan pendekatan yang lebih cair dan humanis. Bukan sekadar menjalankan prosedur komunikasi dan koordinasi secara formal, tetapi juga membangun suasana saling memahami pikiran, membaca perasaan, mengelola emosi, dan menjaga harmoni.

Pengalaman saat menjabat di MPKU PWM Jawa Timur, mengajarkan kepada saya tentang satu hal. Yaitu banyaknya persoalan pelik yang justru lebih mudah terselesaikan saat dalam suasana informal. Sambil ngopi dan ngobrol santai. Ketika suasana cair, orang datang bukan membawa argumentasi untuk menang, tetapi justru membawa hati untuk mencari solusi. Ternyata, forum resmi lebih sering menjumpai jalan buntu, karena masing-masing lebih siap untuk berargumentasi demi mempertahankan pendapatnya.

Kegagalan suatu organisasi tidak selalu karena sistemnya yang buruk. Tetapi bisa pula karena relasional antar pengurusnya yang rapuh. Di sinilah Muhammadiyah lebih membutuhkan pimpinan persyarikatan/organisasi dan pimpinan amal usaha yang cakap manajerial matang emosional, mampu membangun kepercayaan, dan piawai merawat hubungan baik dalam suka maupun duka.

Mengelola AUM saat ini tidak cukup hanya dengan semangat dan niat baik. Lebih dari itu juga memerlukan cara-cara kerja yang profesional, kompetensi, dan kemampuan membangun komunikasi yang saling memahami. Dengan tata kelola yang sehat dan suasana organisasi yang kondusif, AUM akan terus menjadi institusi yang tumbuh, terpercaya, dan berkontribusi positif bagi persyarikatan dan ummat.(*)

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu