Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bekali Generasi Global, PDM Bojonegoro Kirim Anak Panti Muhammadiyah ke Kampung Inggris Pare

Iklan Landscape Smamda
Bekali Generasi Global, PDM Bojonegoro Kirim Anak Panti Muhammadiyah ke Kampung Inggris Pare
Para santri Panti Asuhan Muhammadiyah yang mengikuti kursus bahasa Inggris di Pare. Foto: Dahlansae/PWMU.CO
pwmu.co -

Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro menunjukkan komitmen kuat dalam menyiapkan generasi masa depan yang berdaya saing global. Salah satunya dengan membekali anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah Bojonegoro kemampuan bahasa internasional melalui program kursus Bahasa Inggris di Dynamic English Course Flamboyan Nine (DECFN), Kampung Inggris Pare, Kabupaten Kediri.

Sekretaris PDM Bojonegoro Akhyar, M.Si menegaskan pentingnya penguasaan bahasa internasional sejak dini agar anak-anak tidak tertinggal dalam pergaulan global.

“Kalau anak tidak diajari bahasa internasional, maka anak-anak akan menjadi anak yang kurang pergaulan (kuper). Agar menjadi warga bangsa internasional, maka anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah Bojonegoro kami bawa ke Dynamic English Course Flamboyan Nine di Pare,” ujar Ahyar kepada PWMU.CO, Ahad (28/12/2025).

Menurut dia, generasi muda hari ini hidup di era globalisasi yang menuntut kemampuan komunikasi lintas bangsa dan budaya.

Karena itu, penguasaan Bahasa Inggris menjadi bekal penting agar mereka mampu berinteraksi dan menjalin relasi, baik dengan masyarakat dalam negeri maupun luar negeri.

“Kami yang sudah tua-tua ini kan segera mati, hidup kami sudah tidak panjang. Lha mereka ini masa depannya masih panjang. Kalau tidak dibekali bahasa internasional, dikhawatirkan nanti mereka kesulitan bergaul dan berkomunikasi di dunia yang semakin terbuka,” jelasnya.

Ahyar menambahkan, tujuan utama program ini adalah memberikan bekal hidup yang nyata bagi anak-anak panti.

Dengan penguasaan Bahasa Inggris, mereka diharapkan tidak hanya menjadi warga bangsa lokal, tetapi mampu tumbuh sebagai warga dunia.

Menjawab pertanyaan mengapa lebih memprioritaskan Bahasa Inggris dibanding Bahasa Arab, Ahyar menegaskan bahwa kedua bahasa tersebut sama-sama penting dan diakui secara global.

“Sekarang ini dua bahasa ini, Arab dan Inggris, diakui menguasai dunia. Untuk mematangkan Bahasa Inggris dengan hasil maksimal, jarang ada tempat seperti Kampung Inggris Pare. Sementara Bahasa Arab bisa mereka dapatkan di sekolah atau pondok pesantren. Jadi kami ingin anak-anak ini matang menguasai dua bahasa internasional tersebut,” paparnya.

Sementara itu, owner DECFN, Fahruddin Nor Faridz, M.Pd, menjelaskan, program kursus di lembaganya tidak hanya berfokus pada kemampuan Bahasa Inggris semata.

Terlebih di musim liburan sekolah, DECFN menghadirkan pendekatan pendidikan yang menyeluruh.

“Yang kami ajarkan bukan cuma kompetensi bahasa Inggris, tetapi juga life skill, motivasi kehidupan, daya juang, dan kemandirian,” terang Fahruddin.

Dia menambahkan, pembinaan spiritual juga menjadi bagian penting dalam program di DECFN.

Para peserta dibiasakan dengan aktivitas ibadah seperti salat berjamaah, salat-salat sunnah, hingga tahajud, dengan tujuan membentuk kedisiplinan dan karakter religius yang kuat.

“Ketika mereka sudah keluar dari DECFN, kami harap kedisiplinan ibadah itu tetap melekat,” ujarnya.

Selain itu, aspek adab dan akhlak mendapat perhatian khusus. Fahruddin menilai bahwa di tengah perkembangan zaman, persoalan adab pada generasi muda menjadi tantangan serius.

“Pelajaran adab itu bukan sekadar tambahan, tapi sebuah keharusan. Bahasa Inggris itu penting sebagai senjata masa depan, tetapi adab adalah fondasinya,” tegasnya.

Fahruddin juga menyinggung soal budaya dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Menurutnya, mempelajari bahasa asing tidak bisa dilepaskan dari pemahaman budaya, namun tetap harus disaring agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman.

“Kita memang bukan native speaker, jadi kita mengikuti istilah dan kebiasaan mereka. Namun tentu budaya yang kita adopsi adalah budaya yang aman dan tidak bertentangan dengan Islam,” jelasnya.

Program ini pun mendapat respons positif dari para peserta. Salah satunya datang dari Dewi Ayu Mayangsari, siswi SMA Muhammadiyah Bojonegoro yang ikut kursus di DECFN.

“Menurut saya, DECFN adalah tempat yang sederhana tapi penuh makna. Orang-orang di dalamnya sangat baik, sabar, dan profesional,” ungkap Dewi.

Ia merasakan suasana belajar yang hangat dan membimbing. Kesalahan tidak dihakimi, melainkan diperbaiki dengan sabar dan penjelasan yang mudah dipahami.

“Di DECFN kita bisa hidup penuh makna tanpa kemewahan. Kalau kurang paham pelajaran, selalu dibantu dan dijelaskan secara gamblang. Itu yang membuat saya betah dan termotivasi,” tambahnya.

Melalui program ini, PDM Bojonegoro berharap anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah memiliki bekal yang kuat. Baik secara intelektual, spiritual, maupun karakter untuk menghadapi masa depan.

Dengan penguasaan bahasa internasional yang dibarengi adab dan nilai keislaman, mereka diharapkan mampu melangkah percaya diri sebagai generasi Muhammadiyah yang siap berkiprah di tingkat global. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu