“Abu Lahab saja, yang dikenal sebagai penentang keras dakwah Nabi Muhammad, menyambut gembira kelahiran Nabi pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah. Lalu alasan apa yang membuatmu tidak gembira menyambut kelahiran Nabi Muhammad?”
Pertanyaan itu menggema di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Rabu (3/9). Disampaikan langsung oleh Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, LC., M.si, dalam pengajian Maulid Nabi Muhammad yang digelar UAD.
Fathur menceritakan, Abu Lahab, meski sepanjang hidupnya memusuhi Nabi, pernah menunjukkan kegembiraan luar biasa saat mendengar kabar kelahiran Muhammad. Sebagai bentuk syukur, ia bahkan membebaskan budaknya yang bernama Tsuwaibah.
Mengutip Imam Al-Baihaqi dan Imam Bukhari, Fathur menegaskan bahwa ekspresi cinta Abu Lahab ini berbuah syafaat khusus: siksa yang ia terima di akhirat diringankan oleh Allah.
“Pesannya bagi kita, bila orang yang tidak beriman kepada Rasulullah saja mendapat posisi istimewa, lalu bagaimana dengan kita sebagai umat Islam yang mencintai, mengimani, dan mengikuti ajaran Nabi?” ujarnya menegaskan.
Kisah Abu Thalib
Selain Abu Lahab, Fathur juga menyinggung sosok Abu Thalib, paman Nabi yang setia melindungi beliau meski tidak mengimani kerasulannya. Sikap keberpihakannya itu pun menjadikan dirinya mendapat pengkhususan syafaat dari Nabi Muhammad.
“Maka sebagai umat Nabi Muhammad yang bergembira atas kelahirannya, mengimani ajarannya, dan mati dalam keadaan bertauhid, tentu akan ditempatkan pada posisi yang baik di sisi Allah,” tambahnya.
Kelahiran Nabi: Anugerah Mutlak
Ustadz Fathur menegaskan, kelahiran Nabi Muhammad adalah minnah, anugerah prerogatif dari Allah Swt yang tidak diminta manusia, namun mutlak menjadi kenikmatan. Sayangnya, umat sering abai terhadap nikmat besar ini.
Ia juga menyinggung perspektif tentang Nabi sebagai nur (cahaya). Menurutnya, sebutan itu bukan berarti Nabi adalah cahaya secara personal, melainkan karena beliau membawa wahyu yang mencerahkan kehidupan.
“Cahaya di sini impersonal. Bukan cahaya personal yang kemudian melahirkan pandangan-pandangan klenik tentang diri Nabi Muhammad,” jelasnya.
Dengan cara pandang itu, umat Islam diajak untuk melestarikan ajaran Nabi Muhammad sebagai upaya membangun peradaban. Sebab, Nabi sendiri adalah manusia biasa yang berjuang, berkorban, bahkan menderita demi menegakkan risalah Islam.
Pengajian Maulid di UAD ini pun meneguhkan satu pesan penting: mencintai Nabi bukan sekadar merayakan kelahirannya, tapi juga mewarisi perjuangannya dalam membangun peradaban yang berkeadilan, penuh kasih sayang, dan bercahaya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments