Udara dingin Telogo Sewu, Pandaan, Pasuruan, tak menghalangi semangat ratusan siswa SD Muhammadiyah 10 Mumtas untuk memulai hari dengan penuh khidmat. Rabu (12/11/2025) pukul empat pagi, aula perkemahan sudah dipenuhi 225 siswa kelas 4, 5, dan 6 yang tergabung dalam 23 sarang Hizbul Wathan.
Mereka berbaris rapi, membentuk shaf lurus dan rapat—bagaikan barisan prajurit kecil yang siap menunaikan panggilan Ilahi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Perkemahan Hizbul Wathan bertema Disiplin dalam Kepemimpinan, Bertanggung Jawab dalam Kemandirian, dan Sopan dalam Beretika.
Di tengah suasana hening yang hanya diiringi gemericik embun dan desau angin pegunungan, shalat Subuh berjamaah pun dimulai. Lantunan dzikir yang menggetarkan jiwa berpadu dengan kicauan burung di pepohonan sekitar, menciptakan harmoni alam yang menenangkan hati.
Refleksi Spiritual
Bertindak sebagai imam sekaligus pemberi tausyiah pagi adalah Kepala SD Mumtas, M. Khoirul Anam, M.Pd.I. Dengan suara lembut dan penuh makna, ia mengajak para siswanya untuk mensyukuri nikmat hidup.
“Anak-anakku, kita ini baru saja dibangunkan oleh Allah setelah ‘dimatikan’ sementara. Maka bersyukurlah karena masih diberi kesempatan untuk beribadah dan belajar di alam-Nya,” ujarnya.
Alumnus Magister Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya itu kemudian mengajak anak-anak mentadabburi surah Al-Ghasyiyah ayat 17–20:
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
“Tidakkah mereka memperhatikan bagaimana unta diciptakan?”
Ia bertanya dengan lembut, “Kenapa Allah menyebut unta, bukan kerbau atau sapi?” Dengan penuh semangat, ia menjelaskan keistimewaan unta—hewan yang mampu bertahan hidup di padang pasir tanpa air, simbol kesabaran dan kekuatan.
Dilanjutkan dengan ayat berikutnya:
وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَت
“Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?”
Ia menjelaskan bahwa langit terus berkembang dan meluas tanpa tiang penyangga—tanda kebesaran Allah yang tak bertepi.
Kemudian ayat ke-19 dan 20:
وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
“Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?”
وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ
“Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan?”
Dengan penuh semangat, pria asal Lamongan yang juga anggota Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah ini menjelaskan peran gunung sebagai penyeimbang bumi.
“Gunung itu bertasbih, sujud kepada Tuhannya. Maka kita pun harus senantiasa bersyukur dan tunduk kepada Sang Pencipta,” tuturnya.
Cahaya mentari pagi perlahan menembus sela pepohonan ketika tausyiah berakhir. Di wajah para siswa terpancar semangat baru—bukan hanya karena mereka tengah berkemah, tetapi karena mereka belajar tentang makna kepemimpinan, kemandirian, dan rasa syukur dari ayat-ayat semesta.
Hari itu, di Telogo Sewu, anak-anak Mumtas tidak sekadar belajar di alam, tetapi belajar dari alam—tentang kebesaran Allah dan makna menjadi manusia yang beriman dan berakhlak. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments