Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Belajar dari Jepang, Menata Ulang Makan Bergizi Gratis di Sekolah

Iklan Landscape Smamda
Belajar dari Jepang, Menata Ulang Makan Bergizi Gratis di Sekolah
Foto Ilustrasi MBG di Jepang (Chat-Gpt/PWMU.CO)
Oleh : Azrohal Hasan Dosen UM Surabaya
pwmu.co -

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digalakkan pemerintah belakangan ini menuai sorotan. Di satu sisi, program ini dipandang sebagai langkah positif untuk meningkatkan gizi anak bangsa, khususnya di kalangan pelajar. Namun di sisi lain, berbagai insiden keracunan yang muncul membuat publik mempertanyakan kesiapan program ini. Apakah sekadar bagi-bagi makanan massal, ataukah sebenarnya ada filosofi pendidikan yang seharusnya lebih ditekankan?

Jika kita menengok ke negara lain, Jepang misalnya, program makan bergizi untuk anak sekolah bukan hal baru. Negeri Sakura sudah menjalankannya sejak lama dengan sebuah filosofi yang jauh lebih mendalam dibanding sekadar mengisi perut anak sekolah.

Filosofi Shokuiku: Pendidikan Gizi Sejak Dini

Belajar dari Jepang, Menata Ulang Makan Bergizi Gratis di Sekolah
Siswa-siswi bergantian menyiapkan MBG disebuah sekolah di Jepang (Istimewa/PWMU.CO)


Di Jepang, MBG di sekolah bukan hanya soal menu sehat. Ada konsep
shokuiku atau pendidikan gizi yang menjadi dasar penyelenggaraan. Filosofi ini mengajarkan anak-anak untuk memahami asal-usul makanan, menghargai petani dan nelayan yang bekerja keras memproduksinya, hingga melibatkan siswa secara aktif dalam proses makan bersama.

Sekolah di Jepang sering mengundang petani atau nelayan lokal untuk menjelaskan bagaimana sayur, buah, beras, atau ikan sampai di meja makan. Anak-anak dikenalkan pada realitas kerja keras di balik sepiring makanan. Dengan begitu, mereka belajar menghargai proses, bukan sekadar hasil.

Bandingkan dengan model MBG di Indonesia yang cenderung hanya berhenti pada distribusi makanan jadi. Siswa menerima, makan, lalu selesai. Ada jarak yang sangat jauh antara anak-anak dengan pengetahuan tentang bagaimana makanan itu hadir di hadapan mereka.

Belajar Melayani dan Mandiri

Kebiasaan lain yang patut dicontoh adalah bagaimana siswa di Jepang ikut terlibat dalam penyajian makanan. Mereka bergiliran menjadi “petugas kantin kelas”: membagi lauk, menata nasi, bahkan menyajikan minuman bagi teman-temannya. Setelah makan, mereka juga bertanggung jawab membersihkan meja, mencuci peralatan, hingga memastikan ruang kelas kembali rapi.

Sikap ini bukan sekadar soal kerapian. Ia mengajarkan nilai kemandirian, tanggung jawab, dan kebersamaan. MBG di Jepang bukan layanan instan yang membuat anak-anak pasif, melainkan wahana pendidikan karakter yang membentuk kesadaran kolektif.

Di Indonesia, yang terjadi justru sebaliknya. Anak-anak menerima makanan kadang memakai kemasan sekali pakai yang sering berujung menambah masalah sampah. Belum lagi sikap ketergantungan: siswa hanya tahu menerima, tanpa pernah ikut serta dalam proses yang melatih disiplin dan tanggung jawab.

Gizi, Lingkungan, dan Kedaulatan Pangan

Pelajaran lain dari Jepang adalah bagaimana MBG dijadikan instrumen untuk memperkuat kedaulatan pangan. Sekolah lebih banyak menggunakan bahan pangan lokal, sesuai musim, dengan kualitas gizi yang terukur. Hal ini otomatis memberdayakan petani dan nelayan sekitar sekaligus memperkenalkan anak-anak pada makanan tradisional mereka.

Bayangkan jika Indonesia mampu meniru pola ini. Program MBG bisa menjadi ladang pemberdayaan petani lokal, nelayan pesisir, hingga pelaku UMKM pangan sehat. Siswa tak hanya mendapat gizi seimbang, tetapi juga pengetahuan tentang pangan nusantara yang begitu beragam.

Lebih jauh lagi, keterlibatan anak-anak dalam menyiapkan dan membereskan makanan dapat mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai. Mereka bisa diajak memakai peralatan makan yang bisa dicuci ulang, sekaligus belajar menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Makan Bergizi sebagai Pendidikan Karakter

Di titik inilah kita bisa melihat perbedaan mendasar antara sekadar “program sosial” dengan “program pendidikan”. Di Jepang, MBG bukan subsidi instan, melainkan bagian integral dari kurikulum pendidikan. Anak-anak belajar gizi, budaya makan, kerja sama, tanggung jawab, sekaligus kemandirian.

Indonesia mestinya belajar dari sana. Program ini bisa diarahkan bukan hanya sebagai proyek populis yang rawan penyalahgunaan anggaran, melainkan sebagai instrumen pendidikan karakter yang menyentuh akar masalah bangsa: kurangnya disiplin, rendahnya kepedulian sosial, dan minimnya penghargaan terhadap petani maupun nelayan.

Bayangkan jika setiap sekolah di Indonesia memiliki jadwal bergilir bagi siswa untuk menyajikan makanan, membersihkan alat makan, sekaligus mendapat kunjungan rutin dari petani atau nelayan lokal. MBG akan berubah menjadi laboratorium sosial yang mendidik anak-anak tentang kemandirian, kebersamaan, dan kedaulatan pangan.

Menata Ulang Paradigma

Sudah saatnya pemerintah menata ulang paradigma MBG. Jangan hanya berpikir dalam kerangka logistik “berapa juta kotak nasi yang bisa dibagikan per hari” tetapi berpikir dalam kerangka pendidikan.

Jepang telah membuktikan bahwa MBG di sekolah bisa menjadi media untuk menanamkan filosofi hidup: menghargai makanan, manusia yang memproduksinya, dan alam yang menyediakannya. Indonesia pun bisa, asalkan berani meletakkan aspek pendidikan sebagai prioritas utama, bukan sekadar angka serapan anggaran.

Akhirnya, Makan Bergizi Gratis seharusnya bukan hanya soal kenyang, tetapi juga tentang membentuk generasi yang sadar pangan, mandiri, peduli lingkungan, dan menghargai kerja keras sesama. Jika itu yang menjadi orientasi, maka setiap sendok nasi yang disantap anak-anak kita adalah investasi karakter dan kedaulatan bangsa di masa depan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu