Manusia paling kaya adalah yang hatinya paling merasa cukup (qanaah) dan rida dengan rezeki dari Allah. Bukan yang hartanya paling banyak secara materi. Karena kekayaan hakiki terletak pada kepuasan batin dan tidak merasa kurang meski punya harta sedikit.
Sedangkan orang yang selalu merasa kurang meski berharta banyak dianggap miskin hati. Hal itu seperti dicontohkan para sahabat Nabi yang kaya raya namun zuhud seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan.
Bahwa Anda harus rela hati dan puas dengan setiap pemberian Allah. Baik itu yang berupa raga, harta, anak, tempat tinggal ataupun bakat kemampuan. Dan, makna inilah yang tersirat dari ayat al- Qur’an berikut,
فَخُذْ مَآ ءَاتَيْتُكَ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ
“Sebab itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. “(QS. Al-A’raf: 144)
Ayat tersebut menegaskan tentang Nabi Musa as untuk menerima wahyu dan berbicara langsung, memerintahkannya untuk berpegang teguh pada risalah-Nya dan menjadi orang yang bersyukur, sebagai respons atas permintaan Musa untuk melihat-Nya, lalu Allah memberinya kedudukan istimewa tersebut.
Ayat ini menekankan keistimewaan Musa di antara manusia pada masanya dan pentingnya bersyukur atas nikmat kerasulan berupa risalah dan melebihkanmu dengan berkomunikasi langsung denganNya.
Sebagian besar ulama salafus salih dan generasi awal umat ini adalah orang-orang yang secara materi termasuk fakir miskin.
Mereka tidak memiliki harta yang berlimpah, rumah yang megah, kendaraan yang bagus, dan juga pengawal pribadi.
Meski demikian, mereka ternyata mampu membuat kehidupan ini justru lebih bermakna serta membuat diri mereka dan masyarakatnya lebih bahagia.
Yang demikian itu, adalah karena mereka senantiasa memanfaatkan setiap pemberian Allah di jalan yang benar. Dan karena itu pula, umur, waktu, dan kemampuan atau ketrampilan mereka menjadi penuh berkah.
Kebalikannya adalah mereka yang dikarunia Allah dengan kekayaan yang meruah, anak yang banyak, dan nikmat yang berlimpah.
Tetapi semua itu justru menyebabkan diri mereka senantiasa merasa penuh penderitaan, kecemasan dan kegelisahan. Adapun penyebabnya, tak lain adalah karena mereka telah menyimpang dari fitrah dan tuntunan hidup yang benar.
Ini menjadi bukti nyata bahwa segala sesuatu (kekayaan, anak, pangkat, jabatan, kehormatan, atribut, status, dan lain sebagainya) adalah bukan segala-galanya.
Lihatlah, betapa banyak orang yang punya kedudukan tertentu yang tidak dapat memberi kontribusi, pemikiran dan pengaruh yang cukup bagi masyarakatnya.
Namun sebaliknya; tak sedikit manusia yang dengan ilmu dan kemampuannya yang sangat terbatas justru mampu membangun sungai yang senantiasa mengalirkan manfaat, kebaikan, dan kemakmuran bagi sesama manusia.
Jika Anda ingin bahagia, maka terimalah dengan rela hati bentuk perawakan tubuh yang diciptakan Allah untuk Anda, apapun kondisi keluarga Anda, bagaimanapun suara Anda, seperti apapun kemampuan daya tangkap dan pemahaman Anda, serta seberapapun penghasilan Anda.
Bahkan, kalau ingin meneladani para guru sufi yang zuhud, maka sesungguhnya mereka telah melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar apa yang disebutkan itu. Mereka selalu berkata,
“Seyogyanya Anda senantiasa tetap senang hati menerima sesedikit apapun yang Anda miliki dan rela dengan segala sesuatu yang tidak Anda miliki.”
Berikut ini adalah beberapa tokoh terkenal yang kehidupan duniawi mereka kurang beruntung.
1. Atha’ ibn Rabah, orang yang paling alim pada zamannya adalah seorang mantan budak berkulit hitam, berhidung pesek, lumpuh tangannya, dan berambut keriting.
2. Ahnaf ibn Qais, orang Arab yang dikenal paling sabar dan penyantun ini sangat kurus tubuhnya, bongkok punggungnya, melengkung betisnya dan lemah postur tubuhnya.
3. al-A’masy, ahli hadits kenamaan di dunia ini adalah sosok manusia yang sayu sorot matanya dan seorang mantan budak yang fakir, compang-camping baju yang dikenakannya, dan tidak menarik penampilan diri dan rumahnya.
Bahkan, semua nabi dan rasul Allah adalah pernah menjadi penggembala kambing. Dan, meskipun mereka termasuk manusia-manusia pilihan Allah dan sebaik-baik manusia, pekerjaan mereka pun tak jauh beda dengan manusia pada umumnya.
Nabi Daud as adalah seorang tukang besi, Nabi Zakaria as seorang tukang kayu, dan Nabi Idris as seorang tukang jahit. Kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang pilihan.
Ini mengisyaratkan bahwa harga diri Anda ditentukan oleh kemampuan, amal salih, kemanfaatan, dan akhlak Anda.
Karena itu, janganlah Anda bersedih dengan wajah yang kurang cantik, harta yang tak banyak, anak yang sedikit, dan rumah yang tak megah! Singkatnya, terimalah setiap pembagian Allah dengan penuh kerelaan hati.
Allah berfirman dalam Alquran Surat Az-Zukhruf Ayat 32
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
Maksud ayat adalah Allah SWT menjelaskan bahwa Dialah yang mengatur rezeki dan derajat manusia di dunia (kaya-miskin, kuat-lemah) agar mereka saling membutuhkan, bekerja sama, dan memanfaatkan satu sama lain.
Bukan untuk sombong atau merendahkan. Karena rahmat Allah (kenabian dan surga) jauh lebih baik daripada kekayaan duniawi yang mereka kumpulkan, menegaskan bahwa kekayaan dunia itu sementara dan kenikmatan agama lebih utama.
Ayat ini menjawab kaum musyrik yang meragukan kenabian Nabi Muhammad SAW, seolah berkata, “Apakah mereka yang menentukan siapa yang pantas menjadi nabi?”.
Allah membedakan rezeki dan derajat manusia (kaya/miskin, kuat/lemah) agar mereka bisa saling memanfaatkan (saling mempekerjakan dan bekerja) sebagai bentuk kerja sama. Bukan untuk saling menindas.
Kekayaan dan kemewahan dunia hanyalah hiasan yang sementara (akan lenyap). Sedangkan rahmat Allah yang sebenarnya adalah kenabian dan surga, yang jauh lebih baik dan abadi.
Intinya, Allah mengingatkan bahwa kekayaan dan status sosial di dunia ini adalah ujian dan sarana untuk saling tolong-menolong, bukan tujuan akhir.
Kebaikan hakiki adalah nikmat agama dan kehidupan akhirat yang disediakan Allah bagi orang-orang bertakwa. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments