Guru dan karyawan SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya mengikuti kegiatan pembinaan guru dan karyawan yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo pada Sabtu (13/12/2025).
Kegiatan yang diselenggarakan setiap dua bulan sekali ini bertujuan untuk memberikan penguatan dan penyegaran, sekaligus meningkatkan etos kerja seluruh guru dan karyawan di bawah naungan Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Wonokromo.
Peserta yang hadir dalam kegiatan ini terdiri atas guru dan karyawan dari TK Aisyiyah se-Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Wonokromo, SD Musix, SD Muhammadiyah 7 Jagir, SD Muhammadiyah 24 Ketintang, SMP Muhammadiyah 4 Gadung, serta SMA Muhammadiyah 3 Gadung.
Agenda yang bertajuk Mengajar sebagai Ibadah, Mengabdi sebagai Jalan Dakwah ini menghadirkan narasumber yang merupakan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang, Drs. Agus Siswanto, M.Psi.
Turut hadir dalam kegiatan ini seluruh jajaran PCM Wonokromo, Ketua dan Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF, serta para pengurus majelis lainnya.
Dalam sambutannya, Ketua PCM Wonokromo, Ir. H. Lukman Rahim memperkenalkan narasumber yang untuk pertama kalinya diundang hadir guna berbagi ilmu dan pengalaman.
“Saya kalau mendengar kisahnya hampir menangis sebenarnya,” katanya mengawali sambutan.
Ia menjelaskan bahwa Agus Siswanto merupakan seorang anak yatim yang pernah diasuh di Panti Asuhan Muhammadiyah dan kini menjelma menjadi tokoh inspiratif. Berasal dari desa yang jauh dari kondisi serba berkecukupan, ia mampu mengemban amanah sebagai Ketua PDM.
Tidak hanya itu, Agus Siswanto juga berperan dalam pendirian Rumah Sakit Muhammadiyah serta SMK Muhammadiyah.
Lukman mengenang bahwa Agus Siswanto bahkan menyiapkan mesin cuci di sekolahnya untuk membantu para guru yang tidak sempat mencuci pakaian di rumah.
“Ia bahkan menyiapkan mesin cuci di sekolahnya untuk para guru yang tidak sempat mencuci pakaian di rumah,” kenangnya.
Usai sambutan, salah satu guru SD Musix, Puspitawati, S.Pd. mempersilakan Agus Siswanto untuk berbagi pengalaman di hadapan tidak kurang dari 150 guru dan karyawan.
Dalam perkenalannya, ia menayangkan beragam pengalaman hidup, mulai dari masa ketika menjadi anak asuh Panti Asuhan Muhammadiyah Lumajang pada tahun 1975-1980 hingga mengemban amanah sebagai Wakil Ketua PDM Lumajang sejak 2013 hingga sekarang.
Ia mengawali ceramahnya dengan menyampaikan bahwa sekolah yang hebat lahir dari keikhlasan dan kebersamaan.
Motivasi yang disampaikannya kepada tenaga pendidik dan kependidikan se-wilayah PCM dan PCA Wonokromo antara lain tentang kunci sukses membesarkan amal usaha.
Pertama, ia menekankan pentingnya menata niat dalam memulai setiap aktivitas, karena Allah akan menjadikan setiap aktivitas bernilai ibadah apabila dilandasi niat yang benar.
Selanjutnya, ia menekankan pentingnya mengubah pola pikir dalam bekerja dengan rasa senang. Menurutnya, bekerja dengan hati yang gembira membuat seseorang tidak mengenal batas dalam berkontribusi.
Ia pun menceritakan pengalamannya ketika para guru dan karyawan terlibat langsung mengangkut bambu dan bata hingga larut malam saat proses pembangunan.
“Tidak jarang para guru dan karyawan kami mengangkat bambu serta mengusung bata hingga larut malam saat proses pembangunan,” ceritanya.
Selain itu, ia menyampaikan beberapa poin penting, di antaranya membiasakan budaya salam, senyum, dan sapa (3S), melayani dengan sepenuh hati, serta memiliki kepribadian yang menyenangkan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan tiga tipe pekerja. Pertama, tipe manusia wajib, yakni pekerja yang kehadirannya sangat dinantikan karena memberi dampak besar. Ketidakhadirannya bahkan membuat banyak pihak merasa rugi.
Kedua, tipe manusia sunnah, yaitu pekerja yang bersedia bekerja ketika ada imbalan. Jika tidak hadir, keadaannya tidak menimbulkan kerugian berarti bagi lingkungan sekitarnya.
Selanjutnya, ia menjelaskan tipe pekerja makruh, yakni pekerja yang datang ke tempat kerja semaunya sendiri dan hanya bekerja ketika ada pimpinan. Tipe ini cenderung bekerja untuk mencari perhatian.
Terakhir, ia menyebut tipe pekerja haram, yaitu pekerja yang kehadirannya justru menimbulkan kericuhan. Namun, ketika ada pembagian, mereka selalu berada di barisan paling depan. Menurutnya, tipe pekerja seperti ini sangat tidak diharapkan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments