Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Belajar Merendah di Saat Tinggi: Makna Tawadhu yang Sering Kita Lupa

Iklan Landscape Smamda
Belajar Merendah di Saat Tinggi: Makna Tawadhu yang Sering Kita Lupa
Foto: istockphoto
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Tawadhu adalah salah satu konsep penting dalam ajaran Islam yang mencerminkan kerendahan hati, kesederhanaan, dan sikap tidak meninggikan diri.

Sifat ini menjadi bagian dari akhlak mulia yang harus dimiliki setiap Muslim, karena dengan tawadhu seseorang akan lebih mudah mendapatkan keridaan Allah dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Secara bahasa, tawadhu’ berasal dari kata wada‘a yang berarti “merendahkan diri”. Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, tawadhu adalah menempatkan diri sesuai kadar dan tidak melebihi batasnya, baik dalam sikap maupun ucapan.

Orang yang tawadhu tidak memandang dirinya lebih tinggi dari orang lain, meskipun memiliki kedudukan, ilmu, atau harta yang lebih banyak.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Furqan [25]: 63)

Ayat ini menegaskan bahwa tawadhu bukan sekadar sikap sosial, tetapi bagian dari identitas spiritual seorang hamba Allah yang sejati.

Pelajaran dari Sebuah Nasihat

Sekitar dua belas tahun lalu, usai salat Zuhur di sebuah masjid kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, saya mendapat nasihat berharga dari seorang sahabat yang baru setahun pensiun dari sebuah BUMN.

Ia berkata, “Jika engkau nanti sudah mulai dipanggil Bos, Dokter, Jenderal, Ustaz, atau Profesor, jangan gengsi untuk membersihkan WC, membuang sampah, berjalan kaki, membantu istri di rumah, makan seadanya, atau bermain ke rumah tetangga yang kurang mampu. Itu semua agar engkau tidak terjerumus ke dalam sifat sombong.”

Masya Allah, betapa dalam maknanya. Sering kali manusia, ketika diberi kedudukan atau penghargaan, mulai merasa lebih tinggi dari orang lain. Padahal, kesombongan adalah pangkal kehancuran spiritual.

Bahaya Sifat Sombong

Sifat sombong atau kibr merupakan penyakit hati yang halus namun berbahaya. Nabi Muhammad saw memperingatkan dengan tegas:

“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim no. 91)

Ketika Abu Hurairah bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan seseorang yang suka memakai pakaian dan sandal yang indah?” Rasulullah menjawab,

“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)

Jadi, sombong bukan tentang penampilan atau gaya hidup, melainkan tentang sikap hati yang menolak kebenaran dan merasa lebih tinggi dari sesama.

Semakin tinggi tingkat kesombongan seseorang, semakin sulit pula ia menyadari dan mengoreksi dirinya. Bahkan, kesombongan karena ilmu, jabatan, atau amal saleh sering kali lebih berbahaya daripada kesombongan karena harta, sebab ia terselubung dalam kebaikan yang tampak suci.

Perbedaan Tawadhu dan Sombong

Ciri-ciri orang yang tawadhu:

  • Rendah hati dan tidak merasa paling benar.
  • Menghargai kelebihan orang lain.
  • Selalu terbuka untuk belajar.
  • Tidak mudah tersinggung dan senantiasa berpikir positif.

Sedangkan ciri-ciri orang yang sombong:

  • Terlalu percaya diri dan ingin selalu menonjol.
  • Tidak mau mengakui kelebihan orang lain.
  • Sering meremehkan atau menyepelekan orang lain.
  • Sulit menerima kritik dan selalu ingin dibenarkan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan dalam Madarij as-Salikin, “Tawadhu adalah bagian dari akhlak para nabi dan sifat orang-orang yang mengenal Allah. Adapun kesombongan adalah pakaian iblis.”

Dampak dan Manfaat Tawadhu

Sifat tawadhu membawa banyak manfaat, di antaranya:

1. Menumbuhkan kasih sayang dan persaudaraan. Orang yang rendah hati lebih mudah diterima dan dicintai.

2. Meningkatkan ilmu dan kebijaksanaan. Orang yang tawadhu selalu mau belajar dari siapa pun.

3. Mendekatkan diri kepada Allah. Tawadhu adalah tanda kehambaan sejati.

Sebaliknya, kesombongan akan menutup pintu ilmu, menjauhkan dari manusia, dan mengundang murka Allah.

Rasulullah saw adalah teladan tertinggi dalam tawadhu. Beliau hidup sederhana, menambal pakaiannya sendiri, duduk bersama para sahabat tanpa membedakan status, dan tidak pernah menolak undangan orang miskin.

Mari kita memohon kepada Allah sebagaimana doa para ulama salaf:

“Allahumma inni a‘udzu bika minal kibr, wal fakhr, wal ujub, wal riya’.”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat sombong, membanggakan diri, ujub, dan riya.”

Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhkan kita dari sifat angkuh dan menanamkan dalam hati kita sikap tawadhu yang sejati.

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. (*)

Referensi:

Al-Qur’an, Surah Al-Furqan [25]: 63
HR. Muslim no. 91 dan HR. Muslim tentang “Allah itu indah dan mencintai keindahan”
Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Bab Akhlak dan Tawadhu
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin
Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami’ al-‘Ulum wal Hikam, Syarah Hadis “Tidak akan masuk surga orang yang sombong”

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu