Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Belajar Negosiasi di Antara Riuh Pasar Tradisional Paciran

Iklan Landscape Smamda
Belajar Negosiasi di Antara Riuh Pasar Tradisional Paciran
Para siswa Mamsaka Paciran usai mempraktikkan teks negosiasi di Pasar Tradisional Paciran pada Senin (02/02/2026). (Wahidul Qohar/PWMU.CO).
pwmu.co -

Pagi itu, Senin (02/02/2026), suasana pasar tradisional Paciran tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara deretan lapak sayur, ikan, dan kebutuhan pokok, tampak sekelompok siswa MA Muhammadiyah 1 Karangasem Paciran (Mamsaka) berjalan beriringan.

Mereka bukan sekadar berkunjung, melainkan membawa misi belajar: mempraktikkan teks negosiasi secara langsung.

Sebagai guru Bahasa Indonesia yang terlibat langsung dalam kegiatan ini, penulis menyaksikan bagaimana ruang belajar berpindah dari kelas ke lorong-lorong pasar.

Tak Sekadar Teori

Materi teks negosiasi yang selama ini dipelajari melalui buku dan diskusi kelas, hari itu diuji dalam situasi nyata. Pasar tradisional menjadi pilihan karena menghadirkan proses tawar-menawar yang alami, jujur, dan penuh dinamika bahasa.

Sebelum praktik, siswa Mamsaka telah terbekali pemahaman tentang struktur teks negosiasi, kaidah kebahasaan, serta etika berkomunikasi.

Mereka juga membawa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebagai panduan observasi dan praktik. Meski demikian, ketika harus berhadapan langsung dengan pedagang, sebagian siswa tampak ragu. Ada yang tersenyum canggung, ada pula yang menunda memulai percakapan.

Namun, keraguan itu perlahan mencair. Satu per satu siswa mulai berani menyapa, menyampaikan penawaran, dan menanggapi respons pedagang.

Di situlah proses belajar berlangsung secara nyata. Mereka belajar memilih kata yang tepat, menjaga kesantunan bahasa, serta menyesuaikan strategi negosiasi ketika tawaran belum mencapai kesepakatan.

Dari kejauhan, tampak siswa Mamsaka berlatih komunikasi, keberanian, dan kepercayaan diri. Pasar tradisional menjelma menjadi laboratorium bahasa yang hidup, tempat teori dan praktik saling bertemu.

Para pedagang pun menyambut kegiatan ini dengan ramah. Mereka melayani siswa layaknya pembeli sungguhan, tanpa skenario khusus.

Cari Titik Temu

Interaksi yang terbangun memberi pengalaman autentik bahwa negosiasi bukan tentang memaksakan kehendak, melainkan mencari titik temu yang saling menguntungkan.

Setelah kegiatan lapangan selesai, pengalaman tersebut diolah kembali di kelas menjadi teks negosiasi tertulis. Dialog yang mereka alami sendiri membuat tulisan siswa lebih hidup dan bermakna.

Pembelajaran kontekstual ini bukan hanya tentang capaian akademik, tetapi juga tentang membekali siswa Mamsaka dengan keterampilan hidup yang berguna di tengah masyarakat.

Di antara riuh pasar tradisional Paciran, saya kembali diyakinkan bahwa belajar akan terasa lebih kuat ketika siswa bersentuhan langsung dengan realitas.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu