SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman, Sidoarjo (SD Mumtaz) kembali menggelar pembelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) yang melibatkan seluruh peserta didik kelas 3. Proyek bertajuk “Penjernihan Air Menggunakan Limbah Rumah Tangga Ramah Lingkungan” ini dilaksanakan selama pekan STEM pada (12–20/1/2026).
Kegiatan ini dirancang dengan pendekatan design thinking yang meliputi tahap empathize, define, ideate, prototype, test, dan present. Peserta didik diajak menyelesaikan masalah nyata di lingkungan sekolah, yaitu air keruh di tandon yang mengganggu kelancaran berwudhu.
Uji Karya: Dari Botol Bekas ke Air Jernih
Suasana semakin hidup ketika para siswa mempraktikkan langsung alat penyaring buatan mereka. Terlihat dalam dokumentasi kegiatan, sekelompok siswa kelas 3 dengan serius mengamati air yang telah disaring melalui filter botol bekas berlapis.
Ekspresi takjup dan bangga terpancar saat mereka membandingkan air keruh di wadah awal dengan hasil filtrat yang lebih jernih. Beberapa siswa bahkan langsung mencuci tangan dan mensimulasikan wudhu dengan air hasil penyaringan, menguji kesucian dan kelayakannya untuk ibadah.
Menurut observasi Ria Pusvita Sari, M.Pd, STEM Certified Trainer yang juga Fasilitator Nasional yang berkesempatan hadir dalam open class, pendekatan yang digunakan sudah memenuhi pembelajaran mendalam dengan level taksonomi SOLO yang bervariasi.
“Saya melihat pemahaman anak berbeda-beda. Ada yang sudah bisa menghubungkan masalah air keruh dengan kehidupan sehari-hari, ada pula yang mampu mengembangkan ide solusi jauh di luar ekspektasi, seperti usulan Nabila dan Kenzi yang menggabungkan konsep filtrasi dengan sistem pengumpulan air hujan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti integrasi nilai dalam proses belajar.
“Ketika siswa seperti Sachi mengusulkan ‘duta anti kecoret’ untuk menjaga kebersihan tempat air, itu tidak hanya menunjukkan pemecahan masalah kontekstual, tetapi juga mengaktifkan dimensi profil pelajar Pancasila, terutama bernalar kritis, kreatif, dan bergotong royong,” tambah Vita.
Problem Solver
Salah satu guru kelas 3, Wardah Awaliyah, S.Pd., yang membimbing open class dalam proyek ini menyampaikan antusiasmenya.
“Melalui STEM, anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengalami langsung proses pemecahan masalah. Mereka terlibat mulai dari mengamati, merancang, hingga membuat alat penyaring air sederhana dari botol bekas. Ini sangat membangun karakter problem solver dan kepedulian lingkungan,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa pendekatan ini memungkinkan setiap anak berkembang sesuai kemampuannya.
“Kami tidak menyamaratakan pemahaman. Misalnya, dalam mendesain filter, ada yang cukup membuat lapisan sederhana, ada pula yang sudah merancang sistem berjenjang dengan penampungan. Mereka bebas berkreasi selama konsep dasarnya tepat,” jelas Wardah.
Siswa juga tampak antusias mengikuti setiap tahapan. Alesha Apta Arsyila Jasmine, peserta didik kelas 3B, dengan semangat berbagi pengalamannya.
“Seru banget! Tadi aku lihat air keruh jadi lebih bening setelah disaring pakai botol yang kita isi kerikil, pasir, arang, dan kain. Aku juga jadi tahu kalau air bersih itu penting untuk wudhu,” ungkapnya sambil menunjukkan alat penyaring yang dibuat kelompoknya.
Keterlibatan Siswa
Proyek ini mengintegrasikan beberapa mata pelajaran, di antaranya IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, Seni Budaya, hingga Al-Islam, dengan total 35 JP. Peserta didik tidak hanya belajar sains dan teknologi, tetapi juga menguatkan nilai-nilai keislaman, terutama tentang pentingnya air suci dan bersih untuk bersuci.
Pada tahap akhir, siswa mempresentasikan hasil proyek di depan guru, observer, dan warga sekolah. Hasil karya juga dipamerkan dalam bentuk ekshibisi sebagai bentuk apresiasi dan pembelajaran berbasis proyek.
Menurut Ria Pusvita Sari, keberhasilan proses ini terlihat dari keterlibatan penuh siswa.
“Dari empati hingga aksi, mereka menjalani feel, think, dan does dengan baik. Video yang ditampilkan di tahap empathize sangat membangkitkan keterlibatan emosional mereka. Meski begitu, sebagian siswa masih membutuhkan validasi dari guru, yang sebenarnya bisa dijadikan momentum untuk melatih kemandirian berpikir,” tuturnya.
Nur Fauziyah, S.Pd, salah satu staff Kurikulum SD Mumtaz berharap kegiatan STEM seperti ini dapat terus dikembangkan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peka terhadap masalah di sekitarnya dan mampu berkontribusi memberikan solusi. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments