Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Belajar Tegar dari Hati yang Rapuh

Iklan Landscape Smamda
Belajar Tegar dari Hati yang Rapuh
Foto: naseeha.org
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Manusia itu memang makhluk paling aneh. Di satu waktu ia bisa menangis memohon ampun, di lain waktu ia bisa tertawa melakukan dosa.

Di satu waktu ia bisa memohon kepada Allah dengan doa yang penuh harap, di lain waktu ia enggan datang lagi kepada Allah seolah merasa tak butuh — setelah doanya terkabul.

Di satu waktu ia bisa menata hatinya sambil berkata, “Ini semua kehendak Allah.” Lalu di lain waktu ia tak sabar dan menolak takdir Allah yang menurutnya buruk.

Di satu waktu ia memuji Allah dengan penuh khusyuk, di lain waktu ia lupa dari siapa nikmat yang didapatkannya itu berasal.

Itulah manusia. Hatinyalah yang membuatnya demikian.

Hati manusia adalah penghalang untuk mendekat kepada Allah jika tak segera dikendalikan. Hati tempatnya kita sulit ikhlas. Hati tempatnya kita mudah terpancing amarah. Hati pula tempatnya muncul rasa tidak sabar, iri, dan kecewa.

Lihatlah kehidupan di sekitar kita. Ada seorang pegawai yang dulu rajin salat dhuha dan membaca Al-Qur’an di sela jam kerja. Tapi ketika kariernya naik, jadwal padat dan urusan dunia mulai menyibukkan hatinya.

Ia tak lagi menyentuh mushaf, bahkan lupa bersyukur ketika mendapat rezeki melimpah.
Bukan karena ia berubah menjadi jahat, tapi karena hatinya perlahan lemah — kehilangan arah dan kendali.

Atau seorang ibu rumah tangga yang setiap malam berdoa dengan air mata untuk kesembuhan anaknya. Tapi ketika doa itu dikabulkan, rasa syukurnya digantikan oleh rutinitas. Doa malamnya berhenti, zikirnya tak lagi terucap, karena hatinya merasa “sudah cukup”.

Begitulah hati, ia cepat puas ketika diberi, dan mudah goyah ketika diuji.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memahami betul betapa mudahnya hati berubah.
Itulah sebabnya beliau mengajarkan doa khusus untuk meneguhkan hati.

Dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘anha, beliau berkata: “Doa terbanyak (yang sering dipanjatkan) Rasulullah adalah:

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

‘Ya muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala dinik’. (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” (HR. At-Tirmidzi)

Bayangkan, bahkan pribadi semulia Rasulullah pun masih berdoa agar hatinya tidak tergelincir.

Lalu bagaimana dengan kita — yang imannya masih naik turun, yang sering lalai, yang kadang lupa arah?

Maka jangan pernah sombong dengan iman kita. Jangan merasa aman dengan ibadah yang sedang rajin kita lakukan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Bisa jadi hari ini kita merasa lebih baik dari orang lain karena rajin salat dan ngaji. Tapi besok, bisa jadi iman kita justru berada di bawah orang yang dulu kita pandang rendah.

Hari ini kita yakin dan istikamah, namun esok bisa saja hati kita dipenuhi keraguan dan kesombongan.

Na’udzubillahi min dzalik.

Tak ada jaminan bahwa hidayah dan iman ini akan terus melekat di hati jika kita tidak menjaganya setiap waktu.

Tidak ada kepastian bahwa ketika ajal datang, lisan ini masih sempat mengucap Laa ilaha illallah — kecuali jika hati terus dilatih untuk setia pada Allah.

Dan tahukah apa yang paling mampu menenangkan dan meneguhkan hati yang mudah berubah itu? Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman: “Demikianlah, supaya Kami dapat menguatkan dengan (Al-Qur’an) itu hatimu.” (QS. Al-Furqan: 32)

Bagi siapa pun yang hatinya galau, yang imannya naik turun, yang hidupnya terasa kehilangan arah — biasanya karena ia mulai jauh dari Al-Qur’an.

Coba lihat di kehidupan nyata. Ketika seseorang merasa resah, lalu ia membuka mushaf dan membaca beberapa ayat, tiba-tiba dadanya terasa lapang. Kalimat-kalimat Allah itu menenangkan, menuntunnya kembali untuk percaya bahwa semua akan baik-baik saja.

Namun ketika ia berhenti membaca, berhenti mendengar lantunan ayat, hatinya kembali gelap. Ia mudah tersinggung, mudah iri, mudah gelisah.

Itulah sebabnya Al-Qur’an disebut sebagai peneguh hati.
Allah berfirman:

“Dan semua telah Kami ceritakan kepadamu dari kisah-kisah para rasul, agar dengannya Kami menguatkan hatimu.” (QS. Hud: 120)

Wahai jiwa yang hatinya senantiasa berubah-ubah. Kuatkan hatimu dengan Al-Qur’an. Bacalah setiap hari, walau hanya satu halaman. Dengarkan ayat-ayatnya, renungkan maknanya, karena di situlah obat bagi hati yang gundah.

Hati kita mungkin tak akan pernah bisa benar-benar tetap. Tapi selama ia masih mau kembali kepada Allah setiap kali goyah, di situlah letak keindahan iman.

Selamat menjalani aktivitas hari ini. Semoga Allah meneguhkan hati kita dalam iman, menuntun langkah kita dalam ketaatan, dan menjadikan Al-Qur’an cahaya penenang dalam setiap pergolakan hati. Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu