SMA Muhammadiyah 2 (SMA Muha) Genteng, Banyuwangi, melaksanakan pengibaran bendera merah putih setengah tiang di seluruh tiang bendera yang ada di lingkungan sekolah, baik di depan gedung utama maupun di halaman dalam, Rabu (30/9/2025).
Kegiatan ini tidak hanya merupakan bentuk peringatan terhadap peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI), tetapi juga sebagai upaya untuk menggugah jiwa patriotik seluruh warga sekolah.
Sebagai pengingat bagi generasi muda akan sejarah kelam yang pernah menimpa bangsa Indonesia, SMA Muha Genteng setiap tahunnya mengibarkan bendera setengah tiang pada tanggal 30 September.
Hal ini menjadi sarana edukasi bagi warga sekolah, khususnya peserta didik, agar mengenal sejarah bangsanya yang telah menelan banyak korban harta benda maupun jiwa, bahkan berupaya mengikis akidah, terutama bagi umat Islam.
Salah satu guru Sejarah SMA Muha Genteng, Beny Ahmad Saputra, S.Si., saat menurunkan bendera menjadi setengah tiang, mengungkapkan bahwa pada masa sekolah dulu, di sekolah-sekolah selalu diputar film G30S/PKI.
“Kalau zaman kami sekolah dulu, di sekolah-sekolah selalu diputar film G30S/PKI. Namun seiring perjalanan waktu dan adanya kepentingan politik, film tersebut sempat dilarang untuk ditayangkan. Hingga kini tidak ada lagi instruksi penayangan sehingga anak-anak sudah tidak begitu peduli dengan sejarah bangsanya sendiri,” ujarnya.
Banyuwangi Saksi Kebiadaban PKI
Rongrongan gerakan PKI secara nasional juga merambah hingga ke pelosok negeri, termasuk Banyuwangi. Daerah ini tidak luput dari sejarah kelam kebiadaban PKI, salah satunya adalah peristiwa pembantaian 62 pemuda Ansor asal Kecamatan Muncar yang lebih dahulu diracun sebelum dibantai.
Dengan tipu muslihat, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan tokoh-tokoh PKI menyamar menggunakan pakaian Fatayat maupun baju pemuda Ansor. Mereka mengundang pemuda Ansor Muncar untuk menghadiri acara pengajian di Dusun Karangasem (sekarang Yosomulyo).
Saat perjamuan dimulai, hidangan lezat yang disuguhkan ternyata telah dibubuhi racun yang memabukkan. Begitu rombongan Ansor mulai merasa mual, mereka langsung dibantai secara membabi buta.
Usai melakukan pembantaian, gerombolan PKI melarikan diri. Namun, sebagian berhasil ditangkap dan dihakimi massa. Dari 62 syuhada tersebut, warga kemudian menguburkan jasad mereka di Dusun Cemethuk, Desa Cluring, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, dalam tiga lubang berbentuk segi empat dengan penanda bertuliskan Peristiwa Jumat, 19 Oktober 1965.
Pemasangan bendera setengah tiang dalam rangka mengenang peristiwa G30S/PKI secara nasional serta mengisahkan kembali tragedi pembantaian pemuda Ansor di Cemethuk menjadi bukti sejarah bahwa PKI pernah ada di Indonesia dengan kebiadaban yang nyata.
Beny Ahmad menegaskan bahwa peristiwa itu menunjukkan bagaimana PKI bukan hanya biadab dalam tindakan, tetapi juga berupaya menghapus nilai-nilai akidah.
“Semoga hal ini dapat menumbuhkan jiwa patriotik, khususnya bagi para peserta didik,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments