Tatkala kita menanam benih kebaikan, sering kali hasilnya belum langsung terlihat. Hari ini mungkin terasa biasa saja.
Tidak ada tepuk tangan, tidak pula pujian. Yang ada hanyalah proses sunyi: sabar dan ikhlas merawatnya, memupuk dan menyiramnya, meski tak selalu yakin kapan ia akan tumbuh.
Namun begitulah hakikat kebaikan. Ia bekerja dalam diam. Bisa jadi besok atau lusa, atau bahkan pada hari-hari yang nyaris kita lupa berapa hitungannya, buah dan bunga kebaikan itu bersemi.
Tanpa kita sadari, ia telah tumbuh menjadi pohon yang akarnya menghunjam kuat di ladang pahala.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai ilustrasi sederhana tentang hal ini. Seorang guru yang dengan sabar mendidik murid-muridnya, meski tak semua murid langsung menunjukkan hasil.
Seorang tetangga yang menolong tanpa pamrih, meski tak pernah diingat jasanya. Atau seorang orang tua yang mendoakan anaknya setiap malam, meski doa itu tak pernah terdengar oleh siapa pun selain Allah. Semua kebaikan itu mungkin tampak kecil, tetapi di sisi Allah, nilainya sangat besar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita agar tidak pernah meremehkan amal kebaikan, sekecil apa pun. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. Az-Zalzalah: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Bahkan amal yang kita anggap remeh—senyum tulus, kata yang menenangkan, atau menahan diri dari menyakiti orang lain—semuanya tercatat rapi dan akan diperlihatkan kelak.
Rasulullah saw pun memberikan gambaran yang menenteramkan hati. Dalam sebuah hadis beliau bersabda: “Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kebaikan memiliki dampak yang terus mengalir, bahkan ketika kita tidak lagi menyadarinya.
Kebaikan yang kita tanam hari ini bisa memberi manfaat kepada orang lain, dan manfaat itu kembali kepada kita dalam bentuk pahala yang terus mengalir.
Karena itu, biarlah Allah yang mengatur waktu dan cara membalas setiap amal. Tugas kita hanyalah menanam, merawat, dan menjaga niat.
Maka pantaslah kita merenung: apa yang telah kita tanam di dunia ini untuk bekal akhirat kita?
Jika yang kita tanam adalah kebaikan, kejujuran, dan usaha menjauhi maksiat, maka berbahagialah. Sebab hasil panen itu kelak akan kita temui dalam bentuk kebahagiaan yang hakiki.
Allah berfirman: “Dan apa saja kebaikan yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 215)
Ayat ini menjadi penguat bahwa Allah tidak pernah lalai. Meski manusia lupa, meski dunia tak mencatat, Allah Maha Mengetahui dan Maha Adil dalam memberi balasan.
Maka jangan pernah lelah menanam kebaikan. Sebab di ladang akhirat, tidak ada benih yang tumbuh tanpa makna. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments