Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Beragama Tanpa Berlebih, Beriman Tanpa Menghakimi

Iklan Landscape Smamda
Beragama Tanpa Berlebih, Beriman Tanpa Menghakimi
Prof. Syafiq A. Mughni. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Islam adalah agama wasathiyah (jalan tengah) yang menolak sikap ekstrem, baik dalam ibadah, muamalah sosial, maupun dalam menyikapi perbedaan.

Prinsip wasathiyah, menjadi fondasi penting agar umat Islam mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat, individu dan masyarakat, serta tetap toleran tanpa kehilangan prinsip kebenaran.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhamadiyah Prof. Syafiq A. Mughni dalam ceramahnya di hadapan jamaah, yang menekankan bahwa umat Islam memiliki peran strategis sebagai ummatan wasathan, umat yang berada di tengah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, wakadzalika ja‘alnakum ummatan wasathan, dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang berada di tengah-tengah, agar menjadi saksi atas kebenaran ajaran Allah bagi seluruh umat manusia,” ujarnya sepeti dilansir di kanal Youtube Masjid Al Akbar TV.

Menurut Syafiq, manusia sering kali lebih mudah mengingat musibah dibandingkan nikmat, padahal nikmat Allah jauh lebih banyak dan tak terhitung jumlahnya.

“Kalau kita ingat seluruh perjalanan hidup kita, kita tidak akan mampu menghitung berapa banyak nikmat yang telah Allah berikan. Karena itulah, bersyukur menjadi kewajiban,” tuturnya.

Dia mengingatkan firman Allah, la in syakartum la azidannakum, bahwa syukur akan mendatangkan tambahan nikmat, sementara kufur nikmat berujung pada azab Allah SWT.

Syafiq menegaskan, konsep wasathiyah tidak memiliki padanan makna yang sepenuhnya tepat dalam bahasa apa pun. Wasathiyah bukan sekadar “moderat”, melainkan sebuah sistem nilai yang menempatkan Islam di posisi seimbang, adil, dan proporsional.

Dia mengingatkan bahwa Rasulullah saw secara tegas melarang sikap berlebihan atau ekstrem (ghuluw) dalam menjalankan agama.

“Rasulullah mengingatkan, iyākum wal ghuluw, waspadalah terhadap sikap ekstrem. Bahkan Allah juga memperingatkan Ahlul Kitab agar tidak bersikap berlebihan dalam beragama,” katanya.

Sebagai contoh, Syafiq mengisahkan bagaimana Nabi Muhammad saw meluruskan niat sebagian sahabat yang ingin beribadah secara berlebihan, seperti salat sepanjang malam tanpa tidur atau berpuasa setiap hari tanpa henti.

“Nabi melarangnya karena mata, tubuh, keluarga, dan perut kita juga memiliki hak yang harus dipenuhi,” jelasnya.

Keseimbangan dalam Ibadah dan Muamalah Sosial

Menurut Prof. Syafiq, prinsip wasathiyah juga tercermin dalam cara Islam mengatur hubungan sosial, termasuk dalam berinfak dan bersedekah. Islam tidak membenarkan sikap boros, tetapi juga melarang kekikiran.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Dia mengutip ayat Al-Qur’an tentang orang-orang beriman yang berinfak secara seimbang—tidak berlebihan dan tidak pula kikir.

“Mereka yang berinfak tidak menghabiskan seluruh hartanya hingga jatuh miskin, tetapi juga tidak menahan diri untuk membantu orang atau lembaga yang membutuhkan,” ujarnya.

Inilah, menurutnya, wujud nyata dari prinsip tawazun (keseimbangan) dalam Islam.

Lebih lanjut, Syafiq menjelaskan bahwa wasathiyah Islam memiliki dua ciri utama, yakni attawazun (keseimbangan) dan attasamuh (toleransi).

Keseimbangan mencakup banyak aspek kehidupan, yakni keseimbangan antara kepentingan individu dan masyarakat, keseimbangan antara kebutuhan lahir dan batin, keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat.

Sementara itu, toleransi menjadi sikap penting dalam menghadapi perbedaan yang merupakan sunnatullah.

“Di mana pun manusia hidup, pasti ada perbedaan. Yang membedakan kualitas kita adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan itu,” tegasnya.

Syafiq mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada klaim kebenaran tunggal yang menyesatkan pihak lain, tetapi juga tidak terjatuh pada relativisme yang menganggap semua kebenaran sama.

“Kita harus berpikir luas, bersikap luwes, berjiwa besar, namun tetap berpegang pada prinsip kebenaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah,” katanya.

Syafiq berharap prinsip wasathiyah dapat menjaga umat Islam tetap berada di atas shirathal mustaqim—jalan lurus yang mengantarkan pada kebahagiaan dunia dan akhirat.

“Dengan wasathiyah, insya Allah kita akan meraih alfalah wa sa‘adah fid dunya wal akhirah,” ucapnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡