Search
Menu
Mode Gelap

Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar ala IMM

Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar ala IMM
Muhammad Farhan. Foto: Pribadi.
Oleh : Muhammad Farhan Kader PK IMM Shabran
pwmu.co -

Sejak berdirinya pada 14 Maret 1964, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) telah memposisikan diri bukan hanya sebagai organisasi kader, tetapi juga sebagai gerakan ideologis yang berpijak pada misi amar ma’ruf nahi mungkar.

Misi ini menjadi menjadi fondasi moral dan intelektual yang menuntun setiap kader untuk tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga bertindak etis dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

IMM merupakan bagian dari Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) yang merupakan organisasi otonom dibawah naungan Muhammadiyah.

Sesungguhnya terdapat dua faktor utama yang melandasi lahirnya IMM, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor eksternal berdirinya IMM berkaitan erat dengan kondisi bangsa pada periode 1950-1964 yang sarat dengan pertarungan ideologi antarpartai politik dalam upaya mengisi kemerdekaan sesuai dengan pandangan masing-masing.

Ideologi nasionalisme diusung oleh Partai Nasional Indonesia (PNI), ideologi Islam oleh Masyumi, Partai Nahdlatul Ulama (NU), dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), sementara ideologi sosial-komunis dibawa oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), dan partai lainnya.

Persaingan ideologis tersebut berlangsung secara keras dan memicu perpecahan di tengah masyarakat. Memasuki dekade 1960-an, situasi ini semakin diperumit dengan menguatnya pengaruh ideologi komunisme yang diusung oleh PKI.

Alasan kedua berkaitan dengan kondisi kehidupan mahasiswa di kampus yang banyak terinfiltrasi oleh kepentingan partai politik.

Sejumlah organisasi kemahasiswaan pada masa itu didirikan tidak semata-mata untuk kepentingan akademik, melainkan menjadi sarana menjalankan agenda partai serta menyebarkan ideologi politik tertentu.

Hal tersebut terlihat dari afiliasi organisasi mahasiswa dengan partai politik, seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berafiliasi dengan PNI, Gerakan Mahasiswa Sosialis (GEMSOS) dengan PSI, Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dengan PKI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dengan NU, serta Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Kondisi ini menyebabkan kehidupan kampus sarat dengan muatan politis. Akibatnya, mahasiswa dinilai kehilangan daya nalar kritis dan cenderung menjadi penerima pasif terhadap kebijakan partai. Muatan politik yang kuat tersebut juga memicu terjadinya perpecahan di kalangan mahasiswa.

Sementara itu, faktor internal berdirinya IMM berangkat dari kebutuhan Muhammadiyah untuk menguatkan dan menjaga ideologi persyarikatan di kalangan mahasiswa.

Kondisi sosial-politik yang sarat dengan persaingan ideologi mendorong Muhammadiyah merasa perlu memastikan nilai-nilai ideologi Muhammadiyah tetap tertanam kuat dalam diri kader-kadernya, khususnya mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan tinggi.

Alasan kedua berkaitan dengan arah perjuangan Muhammadiyah yang kembali menitikberatkan pada perjuangan kultural melalui dakwah keagamaan dan kemasyarakatan, pasca pembubaran Partai Masyumi oleh Presiden Soekarno.

Dalam upaya memperluas dakwah di kalangan mahasiswa, Muhammadiyah kemudian membentuk organisasi kemahasiswaan seperti IMM guna menjaga komitmen keislaman dan Kemuhammadiyahan para mahasiswa.

Di sisi lain, pesatnya perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah menuntut ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Oleh karena itu, Muhammadiyah memandang penting pembinaan mahasiswa sebagai calon sarjana dan profesional yang diharapkan mampu mengisi kebutuhan SDM di berbagai amal usaha Muhammadiyah.

Landasan Konseptual: Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Amar ma’ruf nahi mungkar berarti menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran (QS. Ali Imran ayat 104). Konsep ini menjadi landasan moral dan sosial umat Islam untuk menjaga ketertiban dan keadilan.

Menurut al-Ghazali di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, pelaksanaannya memiliki tiga tingkatan:

1. Dengan tangan (tindakan nyata).
2. Dengan lisan (nasihat dan dakwah).
3. Dengan hati (penolakan batin).

Tujuannya adalah mewujudkan masyarakat yang beriman, adil, dan bermoral. Dalam konteks modern, nilai ini meluas menjadi gerakan sosial dan intelektual seperti yang dijalankan oleh Muhammadiyah dan IMM, yang menegakkan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar di bidang keilmuan dan kemasyarakatan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dengan demikian, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar bukanlah sekadar aktivitas keagamaan yang bersifat dogmatis, melainkan sebuah gerakan sosial-transformatif yang menuntut aksi nyata untuk memperbaiki masyarakat.

IMM sebagai organisasi mahasiswa Islam memiliki kewajiban moral dan intelektual untuk menerjemahkan konsep ini dalam realitas kampus dan bangsa.

Dalam Anggaran Dasar (AD) IMM dinyatakan bahwa tujuan IMM adalah: “Terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.”

Untuk mencapai tujuan itu, IMM berperan sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar di kalangan mahasiswa, dengan bentuk kegiatan intelektual, sosial, dan spiritual.

Dalam pelaksanaannya, IMM tidak hanya menekankan pada pengembangan keilmuan dan keislaman, tetapi juga membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap realitas sosial di sekitarnya.

Gerakan amar ma’ruf nahi mungkar yang dilakukan IMM diwujudkan melalui upaya pembinaan kader, penguatan nilai-nilai keislaman di lingkungan kampus, serta keterlibatan aktif dalam menyuarakan keadilan dan kebenaran di tengah masyarakat. Dengan demikian, IMM berfungsi sebagai wadah pembentukan karakter mahasiswa yang berilmu, beriman, dan berakhlak, sekaligus menjadi motor penggerak perubahan sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar ala IMM

Ada beberapa cara yang dilakukan IMM dalam mengimplementasikan amar ma’ruf nahi mungkar di lingkungan kampus dan kemasyarakatan, antara lain:

1.Bidang Keagamaan dan Dakwah Kampus

IMM aktif menyelenggarakan kajian Islam, mentoring keagamaan, dan pelatihan dakwah. Tujuannya adalah untuk memperkuat karakter religius kader sekaligus menanamkan semangat dakwah di lingkungan mahasiswa.

2. Bidang Intelektual

IMM memfasilitasi diskusi ilmiah, penelitian sosial, dan advokasi isu mahasiswa. Melalui forum seperti Darul Arqam, Training Kader, atau Forum Kajian Intelektual, IMM mengasah daya kritis kader agar berani menyuarakan kebenaran dan menolak ketidakadilan.

Sebagaimana dikatakan oleh Haedar Nashir (2015), IMM merupakan lokomotif dakwah intelektual yang menggabungkan antara spiritualitas dan rasionalitas.

3. Bidang Sosial dan Kemanusiaan

IMM berperan aktif dalam kegiatan bakti sosial, tanggap bencana, dan pendampingan masyarakat. Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari amar ma’ruf nahi mungkar dalam bentuk aksi sosial yang menebarkan kemaslahatan.

Selain itu, anggota IMM dituntut untuk berjuang tidak sekadar sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai manusia yang dianugerahi akal budi.

Dengan kesadaran tersebut, kader IMM diharapkan mampu memegang teguh nilai-nilai yang bersumber dari firman Allah, meskipun rumit persoalan yang dihadapi.

Hal ini karena perjuangan IMM tidak hanya ditujukan untuk kepentingan pribadi, melainkan mencakup kepentingan umat dan bangsa, khususnya dalam mengemban misi amar ma’ruf nahi mungkar. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments