Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Berangkat Dari Meja Makan, Kisah Inspiratif Musyrifah, Narasumber Podcast Kajian Islami SMK Mutu Gresik

Iklan Landscape Smamda
Berangkat Dari Meja Makan, Kisah Inspiratif Musyrifah, Narasumber Podcast Kajian Islami SMK Mutu Gresik
Moment foto bersama usai Podcast Kajian Islami SMK Mutu. Dari kanan: M. Farel Indra Pratama, M. Mahdi Azzamul Ihsan, Musyrifah, Umi Fitriyah, Alfi Aulia Abdu, dan Adzra Zahira (Ahmad Akhlis Rosyidi/PWMU.CO)

Pagi itu, Jum’at (6/3/2026) pukul 08.45 WIB saya menghadiri undangan salah satu sekolah tempat putra saya belajar, tepatnya di SMK Muhammadiyah 1 Gresik (SMK Mutu). Bukan undangan pengambilan raport atau pun panggilan orang tua, tetapi undangan sebagai narasumber di podcast sekolah tepatnya Podcast Kajian Islami di Bulan Ramadan 1447 H.

Bagi saya undangan ini sangat spesial, dan ini pengalaman pertama saya diundang untuk acara podcast yang secara resmi undangan saya terima dari pihak sekolah pada Kamis (25/2/2026).

Sambutan yang hangat dan sapaan yang ramah dari tim media yang pimpin oleh guru mata pelajaran produktif di produksi film SMK Mutu Alfi Aulia Abdu S.Sn dibantu tiga siswa jurusan produksi film Adzra Zahira, M. Mahdi Azzamul Ihsan dan M. Farel Indra Pratama serta host (pemandu acara) podcast Umi Fitriyah S.Pd, M.Pd membuat saya semakin bersemangat dan berasa di rumah sendiri.

Saya mengucapkan terima kasih kepada SMK Mutu yang telah memberikan kesempatan hadir di Podcast Kajian Islami Ramadan tahun ini untuk berbagi pengalaman.

Kehadiran saya di podcast ternyata bukan tanpa alasan, informasi yang saya terima salah satu alasan kuat adalah keempat putra saya sekolah di SMK Mutu, Bagus Bahrudin (lulus 2020), Hikmat Ibrahim Abrar (lulus 2021), Mufti Salim (Kelas XI TKR 1) dan Sa’dan Ali Wahyu (Kelas X TEI 2).

Miss Fitri panggilan akrab host di podcast yang menemani pagi itu merasa amazing (kagum) dan merasa topik ini menaik bagaimana bisa membangun kesepahaman agar anak-anak bangga menjadi pelajar Muhammadiyah dan tidak sekedar ikut-ikutan tren sekolah lain.

Muhammadiyah Tempat Belajar Terbaik

Rasa penasaran mungkin juga dirasa banyak orang, termasuk host yang bertugas saat itu, jarang sebuah keluarga yang hampir semua anaknya sekolah di tempat yang sama dari kecil. Dan Alhamdulillah itu saya lakukan, alasan utama adalah karena sekolah Muhammadiyah adalah pilihan terbaik.

Yang lebih menarik lagi adalah tempat proses kelahiran lima anak saya. Dan di kesempatan ini mungkin baru saya sampaikan bahwa kelima anak saya lahir di RS Muhammadiyah Gresik.

Dari kecil anak-anak saya sekolah di TK ‘Aisyiyah, hanya dua anak yang sekolah di TK Muslimat, karena saat itu saya banyak tugas sebagai Kepala Sekolah sehingga saat itu ibu mertua saya mengambil alih untuk antar jemput di sekolah dekat rumah.

Kemudian pendidikan mereka saya lanjutkan ke MI Muhammadiyah 2 Karangrejo (Mimdaka), berlanjut ke SMP Muhammadiyah 5 Bungah (SMP Mulia) dan SMK Muhammadiyah 1 Gresik (SMK Mutu).

Menurut saya sekolah Muhammadiyah unggul dalam mengintegrasikan pendidikan karakter Islami yang kuat dengan keunggulan akademik, berlandaskan iman, taqwa, dan ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK). Keunggulannya meliputi moral-spiritual (akhlak mulia), intelektual (budaya keilmuan), dan peran sosial, didukung kurikulum integratif, tenaga pendidik berkualitas, serta fasilitas modern.

Saya rasakan dari kelima anak saya, banyak mempunyai perubahan positif dari setiap langkah dan perkembangan nya, saya yakin ini adalah karena usaha dan perjuangan keras yang saya rintis dari mereka kecil agar anak-anak sekolah di Muhammadiyah.

Berangkat Dari Meja Makan

Ada pertanyaan host yang menggugah, apakah benar perubahan dunia itu sebenarnya dimulai dari meja makan di rumah kita masing-masing, dan saya membenarkan itu.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Semua perubahan apa pun berangkat dari rumah, pendidikan pun berasal dari rumah masing-masing. Orang tua yang disebut Madrasah Pertama bagi anak memberikan bekal bagaimana hubungan dengan Allah dan Rasulnya. Kemudian diseimbangkan hubungan mereka dengan orang tua, guru, teman dan masyarakat sekitarnya. Yang semuanya dikuatkan dengan pendidikan selanjutnya dari sekolah dan masyarakat.

Mungkin sebagian orang menganggap meja makan hanya persoalan perut, halal atau haram yang dimakan anak kita, lebih dari itu. Anak-anak saya didik sejak kecil dengan kondisi yang tidak kecukupan, apa pun harus dibagi dengan saudaranya, uang, makanan dan lain sebagainya.

Kemudian saya contohkan, suatu saat ayahnya pulang membawa tiga bungkus nasi goreng ke rumah, sementara di rumah ada 7 orang. Maka yang harus dilakukan adalah membagi setiap bungkusnya dengan saudaranya sebagai tanda rasa bersyukur.

Dan sampai saat ini anak-anak saya jika mau makan, selalu bertanya siapa yang belum makan, ikan di meja ini harus berbagi dengan siapa, dan lain sebagainya.

Karakter Berbagi

Seperti terlihat sepele dan sudah biasa, tetapi berdampak bagi anak-anak saya. Mereka akhirnya punya karakter tidak merebut milik orang lain, sabar, tidak egois, mau berbagi dengan saudaranya.

Karakter syukur itu jika di luar rumah, akan mempunyai efek positif, belajar sabar dengan menghormati dan menghargai orang lain.

Istilah meja makan juga saya artikan duduk bersama sambil menikmati hangatnya kopi, teh dan roti. Sambil mendengar apa pun cerita anak-anak, keinginannya, cita-citanya dan lain sebagainya.

Dari situ saya akhirnya sadar bahwa belum tentu semua impian kita sama dengan impian anak-anak. Pendidikan itu penting tetapi mencari pengalaman hidup juga jauh lebih penting.

Pesan saya jangan lelah dan putus asa dalam mendidik anak-anak. Mereka ibarat kertas putih yang dititipkan Allah kepada kita. Mau kita warnai apa, merah, kuning, hijau adalah hak dan kewajiban kita yang harus dipertanggungjawabkan.

Semoga kita menjadi orang tua yang dipilih Allah untuk membesarkan anak-anak baik yang dicintai Allah dunia dan akhirat, aamiin. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡