Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Berani karena Taat: Nasihat UAH untuk Muslimah yang Menuntut Ilmu

Iklan Landscape Smamda
Berani karena Taat: Nasihat UAH untuk Muslimah yang Menuntut Ilmu
Ustaz Adi Hidayat: Sumber: Youtube
pwmu.co -

Ustaz Adi Hidayat (UAH) menegaskan, perempuan Muslimah tidak perlu ragu untuk menuntut ilmu dan bekerja di ruang publik, selama memahami tugas dan kewajiban sesuai syariat serta menjaga diri dari tabarruj dan fitnah.

Keberanian perempuan, menurutnya, bukan keberanian tanpa batas, melainkan keberanian yang lahir dari ilmu, ketaatan, dan ketundukan kepada Allah.

Penegasan tersebut disampaikan UAH saat menjawab pertanyaan seorang akhwat yang merasa gelisah karena harus keluar rumah tanpa mahram demi menuntut ilmu, bekerja, dan menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.

Akhwat tersebut mengaku sering merasa menjadi fitnah, namun juga sadar bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban dan bekerja diperlukan agar tidak menjadi beban orang lain.

“Pahami dulu apa tugas dan kewajiban sebagai seorang perempuan. Apa perintahnya, apa larangannya. Setelah paham itu, baru tunaikan dengan penuh keberanian yang benar,” ujar UAH seperti dikutip dari kanal Youtube Adi Hidayat Official.

UAH menegaskan, menuntut ilmu bukan hanya kewajiban laki-laki, tetapi juga perempuan. Bahkan, Rasulullah saw secara khusus menyediakan waktu dan majelis pengajian untuk para perempuan.

“Nabi itu punya jadwal khusus pengajian untuk ibu-ibu. Bahkan berpindah-pindah dari rumah ke rumah,” jelas wakil ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini.

Dia mencontohkan sosok Sayidah Aisyah radhiyallahu ta’ala anha yang dikenal sebagai perempuan dengan keluasan ilmu luar biasa.

Para ulama, kata UAH, sampai berkomentar bahwa sepertiga ilmu di dunia ini berasal dari Sayidah Aisyah.

“Beliau pakar tafsir, fikih, bahkan ilmu kedokteran. Pernah mengoreksi sahabat Nabi yang salah memahami ayat. Ini menunjukkan perempuan punya peran besar dalam pengembangan ilmu,” tegasnya.

Lebih jauh, UAH mengajak jamaah melihat sejarah peradaban Islam yang menunjukkan peran strategis perempuan dalam dunia pendidikan.

Dia menyinggung Fatimah binti Muhammad Al-Fihri, pendiri lembaga pendidikan di Kairouan dan Fez, Maroko, yang dikenal sebagai salah satu universitas tertua di dunia, bahkan lebih awal dari Al-Azhar.

“Dari masjid, lalu berkembang menjadi pusat ilmu: tafsir, fikih, matematika, astronomi. Bahkan pelajar Eropa datang belajar ke sana,” jelasnya.

UAH juga menguraikan kecanggihan teknologi pengukuran waktu salat di masjid tersebut melalui jam matahari yang presisi, menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam sejak awal sangat maju dan berbasis riset.

Namun, UAH mengingatkan bahwa keluasan ilmu harus berbanding lurus dengan ketawadukan. Ia mengaitkan simbol-simbol tradisi pesantren seperti kopiah, sarung, hingga bakyak dengan nilai filosofis ketundukan kepada Allah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Kalau sudah punya ilmu, tunduklah. Jangan sombong. Ilmu itu untuk mengenal Allah dan semakin patuh kepada-Nya,” pesannya.

Dia mencontohkan tokoh bangsa seperti Haji Agus Salim dan Bung Hatta yang memiliki keluasan ilmu, integritas, dan ketawadhuan, sehingga ucapan mereka menggetarkan dan mudah diterima masyarakat.

Menjaga Diri dari Tabarruj

Menjawab kegelisahan penanya terkait rasa takut menjadi fitnah, UAH menegaskan bahwa fitnah adalah bagian dari ujian kehidupan. Bahkan pergi ke masjid, bekerja, dan menuntut ilmu pun memiliki tantangan masing-masing.

“Semua hidup itu ada ujiannya. Masalah justru mengonfirmasi kesungguhan kita dalam menjalani hidup,” ujarnya.

UAH menekankan pentingnya menjaga adab ketika keluar rumah, khususnya bagi perempuan. Salah satunya dengan menjauhi tabarruj, yaitu menampakkan diri untuk mencari perhatian manusia.

“Keluar rumah itu bukan supaya orang senang melihat kita, tapi supaya Allah senang,” tegas UAH.

Dia mengingatkan firman Allah dalam Al-Qur’an, wala tabarrujna tabarrujal jahiliyatil ula, yang secara khusus ditujukan kepada perempuan agar menjaga penampilan dan kehormatan.

UAH menegaskan, keberanian yang benar adalah keberanian yang lahir dari pemahaman syariat, bukan keberanian yang melawan ketentuan Allah.

“Belajar silakan, bekerja silakan. Tapi pelajari juga apa yang boleh, apa yang tidak boleh, bagaimana adab keluar rumah, bagaimana menjaga diri dari fitnah,” pesannya.

Dia pun menutup dengan doa agar Allah memudahkan setiap langkah hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan menjaga diri di jalan-Nya.

“Semoga Allah mudahkan semuanya. Amin,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu