
PWMU.CO – Pada tahun 2025 ini, perkembangan teknologi digital mengalami kemajuan yang sangat fantastis. Media sosial, artificial intelligence, dan aplikasi berbasis personalisasi semakin mendominasi cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi. Namun, di tengah derasnya informasi, ekspektasi sosial, dan tekanan pencapaian yang dipamerkan secara daring, isu self-love menjadi semakin penting untuk dibahas. Self-love bukan lagi sekadar tren positif, tetapi kebutuhan mendesak untuk menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan pribadi.
Era digital yang menawarkan banyak kemudahan, justru membawa tantangan serius bagi kepercayaan diri dan kesejahteraan batin. Algoritma media sosial yang memanjakan pengguna dengan konten penuh glamor dan pencapaian orang lain, membuat kita tanpa sadar membandingkan diri sendiri dan cenderung merasa kurang. Self-love di masa ini seringkali tergerus oleh ilusi kebahagiaan digital. Padahal kenyataannya, banyak dari kita yang masih berjuang menghadapi tekanan hidup yang tidak tampak di layar.
Menjaga kebahagiaan tidak cukup dengan menonton video motivasi atau membaca kutipan positif. Kita harus membentuk kebiasaan mencintai diri sendiri dengan disiplin dan kesadaran penuh. Pertama, penting untuk membatasi konsumsi media sosial secara bijak. Memang tidak mudah, karena notifikasi dan scrolling menjadi bagian dari kebiasaan harian. Namun, kita bisa mulai dengan membuat waktu khusus tanpa layar, memberi ruang bagi diri sendiri untuk hadir sepenuhnya di dunia nyata.
Kedua, afirmasi positif harian menjadi salah satu bentuk self-love yang sederhana namun kuat. Mengatakan pada diri sendiri bahwa kita cukup layak dan bahkan mampu, bisa membangun pondasi mental yang kuat. Tuliskan afirmasi tersebut di catatan harian atau tempel di cermin. Ingatkan diri bahwa validasi terbaik bukan datang dari jumlah likes atau komentar, tapi datang dari dalam diri sendiri.
Selain itu, membangun rutinitas self-care juga menjadi bagian penting dalam self-love. Tidur cukup, makan makanan bergizi, berolahraga ringan, dan meluangkan waktu untuk hobi yang disukai bukanlah bentuk egoisme, melainkan bentuk penghargaan terhadap tubuh dan jiwa. Merawat diri bukan berarti mengabaikan orang lain, tetapi memastikan kita memiliki energi yang cukup untuk hadir sepenuhnya bagi orang lain.
Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif dan berbasis target digital, self-love juga berarti “tahu kapan harus istirahat”. Produktivitas tidak harus selalu terlihat dalam bentuk angka atau hasil yang instan. Kadang, produktivitas terbesar adalah ketika kita mampu mengenali batas diri dan memberi waktu untuk pulih. Memaksa diri terus bekerja tanpa jeda hanya akan membawa kelelahan mental dan fisik yang berdampak buruk dalam jangka panjang.
Era digital juga bisa berfungsi untuk memperkuat self-love. Banyak platform yang menyediakan akses ke terapi daring, komunitas pendukung, dan konten edukatif seputar kesehatan mental. Gunakan teknologi ini secara bijak sebagai alat bantu, bukan sebagai tolok ukur harga diri. Ikuti akun-akun yang menyebarkan energi positif, edukatif, dan memperkuat jati diri.
Hal penting lainnya adalah menerima ketidaksempurnaan diri. Dunia digital seringkali menciptakan ilusi bahwa hidup orang lain sempurna, bebas masalah, dan penuh kemewahan. Padahal, di balik setiap unggahan, ada perjuangan yang tak terlihat. Self-love berarti mampu berdamai dengan kekurangan, kegagalan, dan proses yang belum selesai. Menerima bahwa kita adalah manusia yang terus belajar adalah bentuk keberanian yang patut dirayakan.
Di tahun 2025 ini, pentingnya kita untuk mengelilingi diri dengan lingkungan yang suportif. Baik secara fisik maupun digital, hubungan yang sehat sangat mempengaruhi cara kita mencintai diri sendiri. Jauhi relasi yang membuat kita merasa rendah diri. Carilah komunitas yang mendukung pertumbuhan dan autentisitas. Berani berkata tidak juga merupakan bentuk cinta diri yang sering kesulitan untuk melakukannya, padahal penting untuk melindungi kesehatan mental.
Menjadi bahagia di era digital bukan berarti harus selalu tampil ceria atau mengikuti tren kebahagiaan. Bahagia adalah ketika kita mampu menerima diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Self-love di 2025 adalah keberanian untuk tidak selalu sempurna, untuk berproses, dan untuk terus bangkit meskipun dunia tampak berjalan lebih cepat dari kita.
Akhirnya, mencintai diri sendiri di era digital bukanlah tujuan akhir, tetapi perjalanan panjang yang setiap hari harus terus ada pembaharuan. Dunia digital akan terus berubah, teknologi akan terus berkembang, dan standar sosial akan terus bergeser. Namun, selama kita memiliki kompas batin yang kuat, self-love akan menjadi pelindung yang menjaga kita tetap bahagia dan utuh, di tengah derasnya arus perubahan zaman.(*)
Editor Notonegoro





0 Tanggapan
Empty Comments