Guru pendamping, Ustazah Siti, juga turut berbagi kesan.
“Kegiatan seperti ini luar biasa untuk membentuk kepekaan anak-anak. Mereka belajar langsung bagaimana bahagianya memberi dan betapa indahnya ukhuwah Islamiyah ketika kita saling peduli,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Menurutnya, pengalaman nyata seperti ini jauh lebih membekas daripada sekadar teori di kelas. Anak-anak pulang bukan hanya membawa kenangan, tetapi juga pelajaran kehidupan.
Harapan dan Pesan Inspiratif
Kepala SD Muhammadiyah 18 Surabaya berharap kegiatan Si Dahsyat dapat terus berlanjut dan menjadi tradisi di lingkungan sekolah.
“Insyaallah kami akan terus istiqamah melaksanakan kegiatan ini secara rutin. Ini adalah bagian dari pembiasaan amal saleh agar tumbuh budaya sosial di kalangan siswa,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendidikan sejati adalah pendidikan yang menyentuh hati.
“Sekolah tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan akhlak. Karena dari hati yang lembut lahir generasi yang peduli dan siap membawa rahmat bagi sesama,” pungkasnya.
Berbagi bukan tentang berapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa tulus hati memberi. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Barang siapa memberi makan kepada seorang mukmin hingga ia kenyang, maka Allah akan memasukkannya ke dalam salah satu pintu surga yang tidak dimasuki oleh orang lain.” (HR. Thabrani)
Di balik setiap senyum anak yatim tersimpan doa yang menembus langit. Semoga kegiatan Si Dahsyat terus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kemampuan untuk berbagi, menebar manfaat, dan menanam benih kebaikan di jalan Allah ﷻ.






0 Tanggapan
Empty Comments