
Nilai yang Dipelajari
Menurut Alvino, ujian berbentuk proyek ini bisa membuatnya belajar beberapa hal di luar materi utama jenis-jenis tulang daun. “Bisa bekerja sama, membantu teman mengerjakan,” ujarnya.
Selain itu, kata Alvino, juga perlu kreatif dalam proses pembuatannya. “Karena membuat barang yang awalnya jelek, biasa, jadi bagus,” ungkap anak bergaya belajar dominan kinestetik itu.
Dari kegiatan proyek ini, Alvino pun belajar berhati-hati dalam melakukan kegiatan. “Harus hati-hati. Kalau nggak hati-hati nanti tangannya lengket, nggak bisa lepas,” imbuhnya.
Dia lantas spontan bercerita tentang cara melepaskan tangan dari lem super lengket itu berdasarkan temuannya secara mandiri di Youtube. “Kalau sampai kena tangan harus pakai garam dapur (agar bisa terlepas),” terangnya, Senin (25/9/2023).
Begitulah keseruan pada hari pertama asesmen berbasis proyek itu. Selanjutnya, pada hari kedua (26/9/2023), mereka mempresentasikan hasil proyeknya di depan kelas masing-masing. Yakni tentang cara pembuatan, jumlah stik es krim yang digunakan, dan jenis daun atau bunga sesuai pola yang digunakan.
Selain itu, kata salah satu guru pengajar proyek kelas IV Tryas Ngudi Lestari SPd, mereka juga diminta menerangkan nilai-nilai juang founding father dalam pelaksanaan proyek.
Seperti yang dijelaskan tim Naufal Haris Arkana, Ammar Khaleed Pratama, Albyan Ammar Efendi, Tsabita Dyah Maharani, dan Falisha Hannan Azarin. Sambil menunjukkan dekorasi jenis tulang daun menyirip, mereka mengungkap nilai-nilai juangnya meliputi toleransi, bermusyawarah untuk mencapai mufakat, kerja sama, gotong royong, dan mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.
Proyek ini ternyata tak berhenti di dalam kelas saja. Muhammad Grissee Alfachrizi kelas IV Ibrahim melanjutkan kreativitasnya di rumah. Siang sepulang sekolah, Fachri yang biasanya istirahat itu justru mengeluarkan seikat stik es krimnya.
Karena terinspirasi dari proyek di kelas, anak bungsu dari tiga bersaudara itu pun mencoba menyusun stik es krimnya sehingga membentuk kapal. Setelah lemnya kering, anak yang akrab disapa Fachri ini langsung menguji coba di kolam ikan depan rumahnya. Fachri bersorak riang melihat kapal dari stik es krim buatannya bisa mengapung. (*)
Penulis Sayyidah Nuriyah Editor Mohammad Nurfatoni






0 Tanggapan
Empty Comments