Di tengah dunia yang terasa semakin bising oleh kabar krisis, perang, resesi, dan ketidakpastian masa depan, Rasulullah SAW justru mengajarkan satu sikap yang mengejutkan: tetap menanam.
Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, beliau bersabda:
“Sekiranya kiamat terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada sebuah bibit kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat itu terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad)
Hadits ini bukan sekadar ajakan bertani. Ia adalah manifesto peradaban.
Tetap Bergerak di Titik Paling Genting
“Sekiranya kiamat terjadi…” (إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ).
Kiamat adalah simbol puncak kehancuran. Tidak ada lagi rencana jangka panjang. Tidak ada lagi masa depan yang bisa dibangun. Semua selesai.
Namun justru di momen paling dramatis itu, Rasulullah SAW tidak mengajarkan kepanikan, tidak pula keputusasaan. Beliau memerintahkan aksi.
Ini adalah pesan penting: seorang mukmin tidak pernah berhenti berbuat baik hanya karena situasi terlihat gelap. Bahkan ketika dunia di ambang akhir, tangannya tetap bekerja.
Bibit Kecil, Makna Besar
“…sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada sebuah bibit kurma…” (وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ).
Bibit kurma adalah simbol potensi kecil. Ia tidak instan. Kurma membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dan berbuah. Artinya, yang diperintahkan bukan sesuatu yang cepat terlihat hasilnya.
Di sinilah letak pelajarannya. Allah tidak menuntut kita memegang “pohon yang sudah berbuah”. Allah hanya melihat apa yang ada di tangan kita hari ini.
Sekecil apa pun potensi itu—ide sederhana, tulisan pendek, kelas kecil, amal ringan—ia tetap bernilai di sisi Allah ketika dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Selama Masih Ada Waktu
“…maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat itu terjadi…” (فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا).
Selama nafas masih berhembus, kewajiban beramal belum gugur. Selama kesempatan masih terbuka walau sesempit celah jarum, maka seorang mukmin tetap dituntut untuk produktif.
Hadits ini mengajarkan manajemen waktu tingkat tinggi: maksimalkan detik terakhir. Jangan tunggu situasi ideal. Jangan tunggu dunia membaik. Lakukan yang bisa dilakukan hari ini.
Segera Eksekusi
“…hendaklah ia menanamnya.” (فَلْيَفْعَلْ).
Inilah inti pesannya: lakukan.
Rasulullah SAW tidak mengatakan “hendaklah ia pasrah” atau “hendaklah ia menunggu”. Beliau berkata: tanam.
Islam adalah agama aksi. Nilai seorang hamba tidak ditentukan oleh seberapa besar panggung yang ia miliki, tetapi oleh seberapa konsisten ia bergerak meski tanpa sorotan.
Fokus pada Proses, Bukan Hasil
Secara logika dunia, menanam saat kiamat adalah kesia-siaan. Tidak akan ada panen. Tidak akan ada yang menikmati buahnya.
Namun hadits ini menghancurkan logika materialistik kita. Allah tidak menilai pada buah yang berhasil dipetik, tetapi pada peluh saat menanam.
Berapa banyak orang berhenti berjuang karena merasa usahanya belum berhasil? Berapa banyak yang mundur karena hasilnya tidak instan?
Hadits ini menjadi obat: tugas kita menanam, bukan memastikan panen.
Optimisme di Tengah Kegelapan
Di era doomscrolling—ketika linimasa media sosial dipenuhi kabar buruk—pesan Nabi ini menjadi oase. Tetaplah belajar. Tetaplah mendidik. Tetaplah membangun. Tetaplah menebar kebaikan.
Optimisme seorang mukmin bukan optimisme naif, tetapi optimisme berbasis iman. Ia percaya bahwa setiap amal, sekecil apa pun, tercatat.
Ikhlas Tanpa Syarat
Menanam sesuatu yang kita tahu mungkin tidak akan pernah kita nikmati hasilnya adalah puncak keikhlasan.
Kita berbuat baik bukan demi tepuk tangan, bukan demi statistik, bukan demi pengakuan. Kita menanam karena kita diperintahkan untuk menanam.
Dan mungkin, justru di saat dunia runtuh, Allah melihat siapa yang tetap bekerja.
Terus Menanam
Tugas kita bukan memastikan dunia selalu baik-baik saja. Itu wilayah Allah. Tugas kita adalah memastikan bibit yang ada di tangan kita tidak mati sia-sia.
Jangan biarkan kegagalan membuatmu berhenti. Jangan biarkan ketidakpastian ekonomi melumpuhkan langkahmu. Jangan biarkan kekacauan dunia membunuh semangat baikmu.
Teruslah menanam.
Teruslah berjuang.
Walau mungkin engkau tidak pernah berdiri di panggung kemenangan.
Sebab di hadapan Allah, kemenangan sejati bukanlah saat kita memetik buah, melainkan saat kita tetap memilih menanam—bahkan ketika semua orang memilih menyerah.






0 Tanggapan
Empty Comments