
PWMU.CO – Di tengah gegap gempita peringatan Hari Kartini di berbagai sekolah yang dirayakan dengan busana tradisional dan lomba penuh gaya, SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman, Sidoarjo—yang akrab dikenal dengan nama SD Mumtaz—menawarkan peringatan yang berbeda.
Tak ada gemerlap make-up atau kontes kebaya. Sebaliknya, suara literasi, nilai-nilai Islam, dan semangat mendidik jiwa menggema dari dua aula sekolah yang bersahaja, namun sarat makna, Senin (21/4/2025).
Dengan tema Berliterasi dan Berkembang dalam Cahaya Iman, peringatan Hari Kartini di SD Mumtaz diisi dengan pidato, pembacaan puisi, dan motivasi karakter. Bukan sekadar seremonial, tapi benar-benar menyentuh aspek esensial dari perjuangan Kartini.
Pidato dan Puisi yang Menggugah
Di Gedung 1, dua siswi kelas 6 menjadi sorotan utama. Alzena Sameera Ulfa Ashalina (6F) dan Adawiyyah Nur Adibah (6E) tampil percaya diri membawakan pidato bertema Kartini. Mereka menyampaikan pesan kuat tentang perjuangan Kartini yang tak lepas dari semangat menuntut ilmu dan keberanian berpikir merdeka.
“Kartini bukan hanya tentang kebaya. Ia adalah tentang semangat belajar, berpikir, dan membawa perubahan,” ujar Adawiyyah membuka pidatonya.
Sementara Alzena mengaitkan semangat Kartini dengan nilai-nilai Islam, mengutip Surah Al-Mujadilah ayat 11 serta sabda Nabi Saw
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim,” ungkapnya mantap, menyelaraskan pesan Kartini dengan ajaran Islam.
Tak hanya pidato, acara di Gedung 1 juga dimeriahkan dengan penampilan puisi dari siswa kelas 5. Kanaya Zian Fitriaqila (5F) membacakan puisi bertema Kartini dalam bahasa Indonesia dengan penuh penghayatan, sedangkan Daneen Sharafana Wahyu Nurwijaya (5G) memukau hadirin lewat puisi berbahasa Inggris dengan pelafalan yang fasih dan ekspresif.
Di Gedung 2, suasana tak kalah menggugah. Dua siswa kelas 3, Fattan Akbar Alfarizqi (3A) dan Akhmad Zabir Maulana (3E), tampil menyampaikan pidato dengan penuh keberanian.
Meski masih usia dini, keduanya menunjukkan semangat literasi dan keberanian yang mencerminkan api perjuangan Kartini versi anak-anak Mumtaz.

Motivasi dan Keteladanan dari Para Pendidik
Peringatan ini turut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Wahyu Nur Fadlillah SPd, staf kesiswaan SD Mumtaz, menyatakan bahwa acara ini dirancang untuk memperkuat karakter siswa.
“Kami ingin membentuk karakter, bukan hanya meniru gaya. Kartini tidak hanya mengenakan kebaya—ia membaca, menulis, berpikir, dan berjuang. Itulah yang ingin kami wariskan kepada anak-anak kami,” ujarnya.
Sementara itu, Humanika Dian Nusantara SAg, Ketua TPPK sekaligus staf kedisiplinan SD Mumtaz, menyampaikan motivasi penuh makna kepada para siswa.
“Kartini adalah simbol perjuangan, bukan hanya dalam pendidikan, tapi juga dalam menjaga adab. Kami ingin anak-anak di SD Mumtaz menjadi pribadi yang disiplin, santun, dan cinta ilmu pengetahuan,” tuturnya dengan penuh semangat.
Dengan tidak larut dalam euforia perayaan visual dan seremonial, SD Mumtaz justru menawarkan kedalaman makna. Kartini sejati bukan sekadar tentang kebaya dan penampilan, tetapi tentang keberanian berpikir, keindahan akhlak, dan semangat menimba ilmu tanpa henti.
Hari itu, dari dua panggung kecil di aula sekolah, suara Alzena, Adawiyyah, Kanaya, Daneen, Fattan, dan Zabir menggema bukan hanya di telinga, tetapi juga mengetuk hati. Di SD Mumtaz, Kartini tak sekadar dikenang—ia dilanjutkan, dalam cahaya iman dan literasi anak-anak bangsa.
Penulis Heni Dwi Utami Editor Zahra Putri Pratiwig





0 Tanggapan
Empty Comments