Bermuhammadiyah sejatinya bukan hanya tentang rutinitas organisasi, musyawarah, atau program kerja. Lebih dari itu, bermuhammadiyah adalah jalan perjuangan yang menggembirakan. Karena di dalamnya tersimpan semangat dakwah, amal saleh, dan ukhuwah yang menyatukan hati.
Mengapa kita harus bergembira dalam bermuhammadiyah? Karena kita sedang berjalan di jalan dakwah yang diwariskan oleh Rasulullah Saw.
Allah Swt berfirman “Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim).
Maka setiap langkah kaki dalam rapat, setiap senyum kepada jamaah, dan setiap ide yang dituangkan dalam majelis adalah tabungan pahala yang tiada putus.
Dalam Al-Qur’an, Allah juga menegaskan “Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58).
Artinya, kegembiraan yang hakiki bukanlah ketika kita mengumpulkan harta atau kedudukan, melainkan saat kita mendapat kesempatan beramal, menolong sesama, dan berjuang di jalan Allah.
Pesan Tokoh Muhammadiyah
KH. Ahmad Dahlan pernah berpesan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Kalimat ini sederhana namun sarat makna.
Bermuhammadiyah dengan gembira berarti menghidupkan gerakan dengan amal dan pengabdian, bukan menjadikannya sebagai alat mencari keuntungan pribadi.
Buya Syafii Maarif juga mengingatkan: “Muhammadiyah adalah rumah besar umat, tempat setiap orang bisa bernaung tanpa dibeda-bedakan. Maka jangan pernah lelah untuk menebar kebaikan, karena di situlah letak kemuliaan Muhammadiyah.”
Pesan ini menegaskan bahwa kegembiraan lahir dari semangat melayani, bukan dilayani; memberi, bukan meminta.
Prof. Din Syamsuddin menegaskan pentingnya semangat kebersamaan: “Muhammadiyah adalah gerakan tajdid (pembaruan) yang harus dijalankan dengan keikhlasan dan kebersamaan. Tanpa gembira dan keikhlasan, amal besar tidak akan pernah terwujud.”
Pesan ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an bahwa amal saleh yang dikerjakan dengan hati yang ikhlas dan penuh kesungguhan akan membawa keberkahan bagi umat.
Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah saat ini, mengingatkan “Muhammadiyah itu harus menjadi gerakan yang mencerahkan. Dalam bermuhammadiyah jangan merasa berat, karena jika kita ikhlas dan gembira, dakwah akan terasa ringan dan penuh berkah.”
Pesan ini meneguhkan bahwa wajah Muhammadiyah yang menggembirakan adalah wajah dakwah yang mencerahkan, bukan yang membebani.
Menebar Kebaikan dengan Senyuman
Gembira dalam bermuhammadiyah bukan berarti tanpa tantangan. Justru semangat gembira itulah yang membuat setiap tantangan menjadi peluang. Kita sambut amanah dengan senyuman, kita hadapi masalah dengan kolaborasi.
Dakwah yang dibawa dengan wajah cerah akan lebih menyentuh hati dan membuka jalan-jalan keberkahan. Ini yang sering dilupakan
Mari kita ubah paradigma: rapat bukan beban, tetapi ajang silaturahmi; kerja bakti bukan rutinitas, tetapi sarana mendulang pahala; program bukan target administrasi, tetapi jalan pengabdian.
Bermuhammadiyah adalah pilihan hidup yang indah. Maka jalani dengan gembira, niatkan sebagai ibadah, dan tebarkan manfaat di mana pun kita berada.
Seperti kata bijak, “Orang yang paling bahagia bukan yang punya segalanya, tapi yang mampu memberi manfaat bagi sesamanya.”
Bermuhammadiyahlah dengan gembira, karena kita sedang menebar cahaya untuk dunia. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments