Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Berpuasa dengan Gembira: Jalan Ikhlas Menuju Kemerdekaan Jiwa

Iklan Landscape Smamda
Berpuasa dengan Gembira: Jalan Ikhlas Menuju Kemerdekaan Jiwa
Suparlan. Foto: Dok/Pri
Oleh : Suparlan Wartawan PWMU.CO
pwmu.co -

Ramadan selalu hadir sebagai bulan yang istimewa. Namun, cara manusia menyambut kedatangannya tidak pernah sama. Ada yang menyongsongnya dengan rindu dan kegembiraan, tetapi tidak sedikit pula yang menerimanya dengan keluhan.

Fenomena inilah yang menjadi latar lahirnya tema yang saya sajikan, “Berpuasa dengan Gembira”. Tema tersebut bukan sekadar permainan kata. Ia lahir dari perenungan mendalam dan kegelisahan intelektual.

Saya terinspirasi dari buku WhatsApp Hasanah dan WhatsApp Dlalalah, karya Ustaz Nur Cholis Huda (Wakil Ketua PWM Jawa Timur periode 2015–2020).

Dalam buku tersebut, Ustaz Nur Cholis Huda mengingatkan para penceramah agar tidak terjebak pada pengulangan tema-tema lama dalam kultum Ramadan, terutama hanya berkutat pada ayat tentang kewajiban puasa.

Ayat tentang kutiba memang penting dan mendasar, tetapi jika terus diulang tanpa pengayaan perspektif, pesan Ramadan berisiko kehilangan daya sentuhnya.

Karena itu, para mubaligh Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan baru tanpa meninggalkan ruh ajaran Islam. Dari sinilah lahir gagasan besar: berpuasa dengan gembira.

Mengutip pernyataan Ustaz Nur Cholis Huda, “Banyak orang menyambut Ramadan dengan keluhan. ‘Oalah, Ramadan datang lagi. Rasanya baru kemarin, sekarang sudah Ramadan lagi.’”

Ungkapan tersebut terasa akrab di telinga. Keluhan itu kadang diucapkan terang-terangan, kadang hanya disimpan dalam hati.

Padahal, tidak semua orang menyambut Ramadan dengan cara yang sama. Ada pula mereka yang menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Perbedaan sikap ini muncul karena setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda terhadap Ramadan.

Ramadan sejatinya disebut sebagai bulan penuh berkah, bulan yang mengandung banyak kebaikan.

Namun bagi sebagian orang, Ramadan justru dianggap membawa kesulitan. Inilah watak dasar manusia yang gemar mengeluh, senengane sambat. Al-Qur’an telah menggambarkan watak ini jauh sebelum manusia modern mengenalnya.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا
innal-insāna khuliqa halū‘ā

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.” (QS. Al-Ma‘ārij [70]: 19)

Watak itu tampak semakin jelas ketika manusia berada dalam kesusahan:

اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا
izā massahusy-syarru jazū‘ā

“Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah.” (QS. Al-Ma‘ārij [70]: 20)

Namun ketika mendapatkan kebaikan berupa harta dan kelapangan hidup, sifat lain muncul:

وَاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا
wa izā massahul-khairu manū‘ā

“Dan apabila mendapat kebaikan, dia menjadi kikir.” (QS. Al-Ma‘ārij [70]: 21)

Al-Qur’an kemudian menyebut satu kelompok pengecualian:

اِلَّا الْمُصَلِّيْنَ
illal-muṣallīn

“Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat.” (QS. Al-Ma‘ārij [70]: 22)

الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَائِمُوْنَ
alladzīna hum ‘alā ṣalātihim dā’imūn

“Yaitu mereka yang tetap setia menegakkan salatnya.” (QS. Al-Ma‘ārij [70]: 23)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan menjaga shalat adalah menunaikannya tepat pada waktunya serta melaksanakan rukun dan kewajibannya dengan sempurna, sebagaimana pendapat Ibnu Mas‘ud.

Pendapat lain menyebutkan, menjaga shalat berarti mengerjakannya dengan tenang dan khusyuk, sebagaimana firman Allah Swt.:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ
الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minūn [23]: 1–2)

Latihan Ruhani Orang Beriman

Iklan Landscape UM SURABAYA

Jika Ramadan diukur hanya dengan materi, maka kelebihannya tidak akan pernah ditemukan. Bahkan, Ramadan bisa terasa lebih dekat dengan musibah daripada berkah. Sebab Ramadan pada hakikatnya adalah latihan ruhani, bukan sekadar perubahan jadwal makan dan minum.

Latihan ini pun tidak ditujukan kepada semua orang. Allah Swt. mengawali perintah puasa dengan seruan:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا

“Wahai orang-orang yang beriman.”

Bukan dengan seruan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ

“Wahai manusia.”

Artinya, puasa Ramadan adalah panggilan khusus bagi orang-orang beriman. Menu utama latihan ini adalah mengendalikan diri dan menunda keinginan. Kalimatnya sederhana, tetapi praktiknya sangat berat. Namun justru di sanalah letak kekuatan puasa.

Latihan ini diberikan selama satu bulan penuh agar nilai-nilai yang ditanamkan tidak hanya menjadi pengalaman sesaat, tetapi menempel sebagai kebiasaan, lalu menjelma menjadi watak.

Banyak yang berpendapat, kebiasaan yang dilatih selama 21 hari dapat melekat menjadi karakter. Ramadan memberikan waktu 30 hari—lebih panjang dan lebih kuat.

Jika seseorang dibiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari, shalat berjamaah secara konsisten, atau menahan amarah selama Ramadan, maka kebiasaan itu berpotensi besar terbawa hingga bulan-bulan berikutnya.

Puasa dan Kemerdekaan Manusia

Menunda keinginan merupakan inti dari latihan puasa. Tujuannya agar manusia lebih unggul daripada benda apa pun. Agar manusia menguasai harta dan kenikmatan, bukan justru dikuasai olehnya.

Banyak orang mengaku tidak mampu lepas dari rokok, seolah-olah rokoklah yang menguasai dirinya. Namun puasa Ramadan membuktikan bahwa manusia mampu menahannya, setidaknya dari subuh hingga magrib. Ini menunjukkan bahwa manusia sejatinya lebih kuat daripada benda apa pun.

Makan dan minum adalah kebutuhan utama manusia. Namun puasa membuktikan bahwa manusia tidak dikuasai oleh perutnya, melainkan perut yang dikuasai manusia. Dari sinilah puasa mengangkat derajat manusia, menjadikannya makhluk yang merdeka.

Masalah mendasar manusia adalah kecenderungannya mencintai yang instan dan mengabaikan yang jangka panjang. Al-Qur’an menegaskannya:

كَلَّا بَلْ تُحِبُّوْنَ الْعَاجِلَةَ

kallā bal tuḥibbūnal-‘ājilah*

“Tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia,”

وَتَذَرُوْنَ الْآخِرَةَ
wa tadharūnal-ākhirah

“dan mengabaikan (kehidupan) akhirat.” (QS. Al-Qiyāmah [75]: 20–21)

Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Qur’an menjelaskan, manusia cenderung tergesa-gesa, menyandarkan imannya pada sesuatu yang fana—yang cepat datang dan cepat pergi—sementara mengabaikan yang abadi, yang hasilnya baru tampak di akhirat.

Puasa Ramadan melatih manusia untuk berpikir jangka panjang, menunda kenikmatan sesaat demi keselamatan dan kemuliaan yang lebih besar.

Gembira sebagai Tanda Ikhlas

Pada akhirnya, puasa hanya akan bermakna jika dilakukan dengan ikhlas. Dan tanda paling nyata dari keikhlasan adalah kegembiraan. Orang yang ikhlas tidak mengeluh. Mengeluh dan ikhlas tidak pernah bertemu pada satu titik.

Jika seseorang menjalani puasa dengan keluhan, sejatinya ia perlu mengoreksi keikhlasannya. Sebaliknya, jika puasa dijalani dengan rasa gembira, lapang, dan penuh kesadaran, di situlah puasa bekerja sebagai jalan keselamatan.

Karena itu, ajakan berpuasa dengan gembira bukan sekadar seruan optimisme, melainkan penegasan spiritual: gembira adalah tanda iman yang matang, dan ikhlas adalah ruh dari ibadah puasa.

Dengan kegembiraan itulah Ramadan benar-benar menjadi bulan latihan, pembebasan, dan pemuliaan manusia. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu