
PWMU.CO – Gemuruh tembakan dan ledakan menggema di Hall SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita), Kamis pagi (17/4/2025). Namun, bukan perang yang terjadi, melainkan pentas drama musikal penuh makna berjudul “Betrayal Leads to Ruin” yang dibawakan oleh siswa-siswi kelas XII-MIPA 4.
Pertunjukan ini bukan sekadar drama. Ini adalah jeritan hati, panggilan nurani, dan teriakan lantang dari generasi muda terhadap tragedi kemanusiaan yang hingga kini belum berakhir—penindasan bangsa Palestina oleh Israel.
Di atas panggung, para siswa mengisahkan awal mula konflik: bagaimana warga Palestina menyambut dengan damai para imigran Yahudi yang tercerai-berai pasca Perang Dunia Kedua. Namun harapan itu segera hancur ketika tanah yang mereka pijak direbut secara paksa oleh warga Yahudi yang memproklamasikan berdirinya negara Israel, diwarnai dengan kekerasan dan penderitaan yang tiada akhir.

Ketua kelas XII-MIPA 4, Zuyyin Yazid Dien’ul Haq, menyampaikan bahwa ide pentas ini lahir dari keresahan atas kurangnya perhatian umat Islam terhadap isu Palestina. “Kami ingin menyuarakan perlawanan terhadap penindasan Israel. Persiapan kami tidak sebentar—konsepnya bahkan sudah beberapa kali kami ganti agar pesan kami bisa sampai ke hati penonton,” ungkapnya.
Zuyyin menambahkan, bahwa kehadiran pentas ini di media sosial bukan sekadar pertunjukan seni, tapi bagian dari perjuangan. “Karena ditampilkan di media, hati penonton bisa terbuka. Kami ingin terus menyuarakan agar isu Palestina terdengar keras, tidak naik turun. Kita di Indonesia hidup bebas, tidak tertindas seperti mereka,” tegasnya.
Dengan energi, emosi, dan semangat yang membara, siswa-siswi Smamita berhasil menjadikan panggung sebagai mimbar perlawanan. “Betrayal Leads to Ruin” bukan hanya sebuah pentas, tapi seruan lantang dari hati nurani: Palestina belum merdeka, dan dunia belum sepenuhnya mendengar. (*)
Penulis Wildan Nanda Rahmatullah Editor Azrohal Hasan






0 Tanggapan
Empty Comments